Sate Kambing Hitam

“tooolllooooonnngggg..!!”

Sebuah teriakan mengagetkan konsentrasi Mamat yg sedang membaca di perpustakaan pribadinya. Mamat hapal teriakan yg khas dg bumbu logat madura tersebut. Ya, itu teriakan buk Rah (buk = panggilan untuk wanita yg lebih tua dlm bhs.Madura), tapi kenapa teriakannya berbunyi “tolong” bukan “tong..lontong” atau “te..sate” seperti yg bisa beliau dendangkan tiap sore. Maka tanpa banyak cas, cis, dan cus Mamat segera berlari ke depan untuk mencari jawaban akan fenomena baru tersebut.

“ada apa buk??”, tanya Mamat sambil ngos-ngosan mengejar buk Rah, yg punya nama asli keren, Saharah. “waduh cak Mamat tolong, itu si Dul gak tau kesurupan setan mana ba-tiba panjat genting dan mau jun-terjun dari atas”, jawab buk Rah dg gusar sambil tidak lupa mencantumkan logat khasnya. “waduh gawat ini!!”, batin Mamat, Mamat kenal si Dul alias Dul Kamdi atau Abdullah Hamdi nama lengkapnya Dul adalah remaja pendiam yg meskipun drop out dari bangku sekolah tapi tetap rajin membantu ibu dan saudara-saudaranya apalagi sejak cak Kasan, bapaknya meninggal dua tahun lalu. Dul juga rajin ikut pengajian dan aktif di mushola sebagaimana wasiat bapaknya sebelum meninggal. Sekarang si Dul bekerja jadi asisten cak Komar, penjagal kambing sekaligus juragan warung sate.

Sampai di depan rumah si Dul, Mamat melihat orang-orang sudah berkumpul untuk membujuk si Dul yg lagi nangkring di genteng rumah. Di barisan terdepan terlihat cak Komar dg kumis baplang ciri khasnya, “sudah cong (kacong = panggilan untuk anak laki-laki dlm bhs.Madura) turun cong. Klo ada apa-apa kasian mak-mu nanti Dul. Udah Dul turun, klo memang sampean ada masalah dg saya biar nanti kita ngomong baik-baik dan gaji sampean bisa saya atur.”, rayu cak Komar yg disahuti oleh orang-orang di sekitarnya. Mendengar bujukan orang-orang tetap tidak membuat hati si Dul luluh, teriakan tersebut disambut oleh si Dul dg lagak cuek ala penyanyi pop yg diteriaki fans beratnya dari bawa panggung. Untung aja si Dul gak kepikiran untuk moshing pit (terjun dari atas panggung), karena klo itu terjadi Mamat gak bisa bayangin sopir ambulan akan kocar-kacir blusukan masuk kampung atau tukang urut cimande akan kebanjiran order gara-gara banyak orang yg tangannya keseleo atau patah gara-gara menyambut tubuh si Dul yg kekar bagai LeBron James.

Melihat betapa teguhnya sikap si Dul, membuat emaknya yaitu buk Rah semakin resah. “sudah Dul sudah, klo emak punya salah emak minta maaf, tapi tolong kamu turun dulu Dul.”, bujuk buk Rah sambil nangis-nangis. Melihat hal ini Mamat jadi iba dan saat-saat yg kritis ini tiba-tiba timbul ide cerdas dalam benak Mamat. Tanpa banyak bicara Mamat segera menyelinap di antara massa yg semakin menyemut dan segera hilang bagai minyak tanah yg tiba-tiba langka di pasaran..wush. Tidak lama kemudian Mamat segera kembali sambil menggandeng sosok berjubah yg tampak penuh wibawa, inilah H.Somad, guru ngaji plus guru silat sekaligus tokoh kenamaan yg disegani seluruh kampung. Mamat ingat klo si Dul udah mulai memberontak ama cak Komar itu biasa, klo ia sudah mulai nakal sama emaknya itu kebangetan, tapi klo si Dul udah mulai ngelawan ama H.Somad guru ngajinya itu adalah hil yg mustahal. Maka senjata pamungkas untuk membujuk si Dul adalah gurunya sendiri yaitu H.Somad.

Melihat kedatangan H.Somad, wajah Dul yg awalnya cuek tiba-tiba jadi pias. Sikapnya di atas genteng yg awalnya mengambil pose ala patung Auguste Rodin tiba-tiba berubah jadi pose pocong ngesot. Apalagi kemudian H.Somad memanggil namanya, “Dul muridku yg paling ganteng ada apa kamu ini? Apa kamu gak takut siksa dari Gusti Allah bahwa orang yg bunuh diri bakal di azab di neraka. Apalagi kamu sudah mulai berani ngelawan ibumu, apa kamu sudah siap adu tinju sama malaikat Malik di neraka sana. Ayo sini turun!! Apa semuanya tidak bisa dibicarakan dg baik-baik. Wis baligh kok kelakuan kayak bocah, ayo sini turun!!”. Petuah H.Somad rupanya langsung membuat hati si Dul luluh, maka sambil berderai air mata Dul perlahan-lahan turun dari tempat nongkrongnya di atas genting. Begitu menginjak tanah si Dul langsung disambut oleh para penggemarnya, eh bukan tapi para tetangga dan handai taulan yg sudah menunggu dg tegang prosesi turunnya si Dul dari atap rumah. Malah sampai ada yg pingsan yaitu emaknya yg pingsan 10 menit sebelum si Dul menyentuh tanah. Si Dul langsung didudukkan di tikar yg tergelar di ruang tamunya (awas jangan bayangin tempatnya bercat putih, banyak selang, dan orang-orang berpakaian putih hilir mudik) dan diberi minum segelas air putih. Karena banyaknya massa yg berebut ingin melihat kondisi si Dul, buru-buru cak Komar memasukkan buk Rah, H.Somad, dan Mamat ke dalam rumah dan ia segera siaga bersama cak Topa, kepala hansip mengamankan keadaan.

Segera setelah nafas si Dul teratur dan kesadarannya mulai stabil H.Somad mulai melakukan investigasi terhadap kasus si Dul. “ada apa Dul, muridku kamu kok sampai hati bikin hati ibumu was-was dan mau melawan hukumnya Gusti Allah dg mau melompat dari atap rumah??”. Sambil sesenggukan dan sedikit menahan ingus yg udah mulai mengintip di celah hidung si Dul mulai menjelaskan sebab-musabab kenapa ia berkelakuan gila barusan, “duduk masalahnya awalnya seperti ini bah (si Dul memanggil H.Somad dg sebutan abah). Panjenengan kan tahu kalau saya ini dilahirkan dg warna kulit hitam dan rambut wil-kriwil. Dulu pas kecil saya gak masalah dipanggil hitam, ireng, celeng (hitam dlm bhs.Madura, e-nya dibaca seperti e dalam kata elang), orang afrika, bahkan ketika saya tong-potong botak malah dipanggil sama anak-anak dg sebutan tuyul afrika tapi saya tetep diam aja bah. Baru ketika remaja saya mulai agak tersinggung, saya sempat bela-belain beli krim pemutih wajah, panjengan tahu tidak bah saya dipanggil apa gara-gara pake krim pemutih? Sapi perah karena hanya wajah saya saja yg putih, selebihnya badan saya celeng. Saya sempat kepikiran mau lurusin rambut saya tapi saya takut nanti mesin salonnya rusak dan saya diketawai orang satu kampung. Setelah ngaji saya mulai belajar mensyukuri apa yg Gusti Allah berikan kepada saya. Tapi tetep aja ada yg iseng bah, pas saya pake baju gamis dan mulai panjangin jenggot serta sregep (rajin dlm bhs.Jawa) ke mushola ada yg iseng nyebut saya teroris hitam. Pas saya beli arang dan minyak tanah disuruh cak Komar malah ada yg tanya “buat bahan bom ya Dul?”. Pas saya lagi dititipi cak Komar agar bawa gobang ada juga yg iseng mengatakan bahwa saya mau latihan membajak kapal, emangnya saya bajak laut Somalia? Dari sini hati saya mulai sumpek bah. Klo saya berbuat maksiat saya dicaci saya rela karena saya salah. Tapi ini saya ngaji, saya taat pada Gusti Allah, Kanjeng Nabi, para ulama, dan kedua orang tua, juga bekerja secara halal membantu orang tua dan adek-adek saya kok disebut teroris. Makanya saya udah gak kuat bah dan terjadilah apa yg sudah panjengan, emak, dan cak Mamat saksikan”, jelas si Dul panjang kali lebar kali tinggi.

“saya paham Dul apa yg kamu pahami. Tapi bukankah sampean pernah dengar bahwa apa yg Allah takdirkan berupa bentuk tubuh, warna kulit, bentuk rambut tidak akan pernah Allah tanyakan. Jadi warna kulit hitam, rambut kriwil, bahkan (maaf) wajah sampean yg jelek tidak akan pernah dicatat ama Raqib dan Atit. Tapi yg kelakuan sampean yg udah bikin gundah ibu sampean dan bikin heboh orang satu kampung itulah yg mereka catat untuk dilaporkan kepada Allah Swt.” Kata Mamat menimpali.

“iya saya sadar saya khilaf cak Mamat”, kata si Dul.

“Dul, anakku makanya kamu harus banyak-banyak bersyukur. Juga lebih giat lagi mempelajari Islam, mengamalkan, dan kalau bisa menyampaikan agar kamu mendapat predikat alim dan lebih percaya diri berikrar isyhadu bi anna al muslimuun saksikan bahwa saya adalah seorang muslim”, nasehat H.Somad.

“saya tobat bah, mulai saat ini saya gak akan malas-malasan dan tuk-ngantuk ketika ngaji. Juga berjanji gak akan cem-macem lagi bah”, janji si Dul sungguh-sungguh.

“Alhamdulillah”, serentak orang-orang dalam rumah mengucap syukur
***
Kemudian pada hari Jum’at berikutnya giliran H.Somad naik ke mimbar sebagai khotib dan menyampaikan khotbahnya secara berapi-api.

“Ayyuhal muslimuun, sebetulnya apa yg hari ini kita saksikan yaitu merebaknya kasus terorisme sebenarnya ini adalah satu babak dari bentuk peperangan Barat terhadap Islam. Barat menggunakan kasus terorisme agar memalingkan, menjauhkan, dan membuat kaum muslimin tidak percaya diri. Yaitu memalingkan dari Allah dan rasulNya, menjauhkan dari Al Qur’an, dan membuat tidak percaya diri dg beridentitas sebagai muslim.

Maka kita harus berikrar kembali dg sungguh-sungguh menjadi muslim yg hanif dan teguh. Juga dengan menuntut ilmu Islam secara kaffah dan terus menerus agar kita mendapat predikat alim dan cerdas sehingga mampu menangkis segala fitnah dan mampu memberikan serangan balik kepada musuh-musuh Allah. Juga tidak lupa bahwa kita harus saling membentengi saudara-saudara sesama muslim dg amar ma’ruf nahy mungkar. Agar tercipta suasana Islami di keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Tapi yg lebih penting wahai saudaraku mari kita gandengkan tangan, kita putuskan rantai individu, kita potong belenggu sahobiyah, dan kita hancurkan sekat-sekat nasionalisme. Mari kita bersatu menegakkan syariat Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Karena hanya inilah muara perjuangan kita, karena hanya inilah kaum muslimin akan bangkit dan mengalami kebangkitan yg nyata serta mampu membangun peradaban emas. Karena apabila perjuangan ini yg kita lupakan maka kita bisa menyaksikan bahwa hari ini kita hanya menjadi kambing hitam dan sadu’an bagi para penjajah Barat…”

Pada saat khotbah Mamat melihat wajah si Dul yg cengar-cengir. Ba’da sholat Jum’at Mamat langsung menemui si Dul dan bertanya “sampean kenapa tadi kok pas H.Somad khotbah terlihat cengar-cengir?”. “saya baru nyadar cak Mamat. Ternyata mbing-kambing hitamnya bukan hanya saya, tapi seluruh kaum muslimin.”, bisik si Dul sambil berlalu meninggalkan Mamat yg masih berpikir “bener juga ternyata si Dul.”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s