Osama

Mendengar nama Osama bin Laden saya selalu teringat kejadian 10 tahun silam. Suatu malam Hasan Fahri, teman satu bangku saya di SMA menelepon. Ia menyuruh saya segera menyalakan televisi, saluran manapun terserah. Saya menurut dan langsung saya saksikan sebuah kejadian yg disiarkan semua saluran televisi malam itu. Gedung kembar WTC di jantung kota New York Amerika Serikat terbakar, beberapa saat kemudian runtuh, dan muasalnya adalah dua buah pesawat yg dibajak menabrak kedua sisi gedung tersebut.

Jujur perasaan saya waktu itu adalah gembira. Menyaksikan secara langsung kedigdayaan Amerika runtuh justru bukan dari tayangan film. Mungkin banyak kaum muslimin yg mengutuk kejadian tersebut. Tapi melihat kepongahan Amerika beberapa bulan kemudian di Iraq dan Afganistan serta pembelaannya kepada Israel, Amerika memang layak untuk dikecam dan tidak layak dikasihani.

Sejak saat itu nama Osama meroket dan dianggap pahlawan oleh banyak orang. Bahkan banyak orang tua yg memberi nama anaknya dg nama Osama. Posternya banyak dipajang di rumah-rumah. Tidak sedikit juga yg mengabadikan wajahnya di kaos dan jaket bergaya muda. Tidak ada yg salah dg euforia tersebut, karena semua berawal dari dua kata;ketidakadilan global.

Amerika yg menyatakan sebagai kampiun demokrasi sering melakukan tindakan-tindakan tidak demokratis di seluruh dunia. FIS dan HAMAS yg menjadi pemenang pemilu secara demokratis mereka tumbangkan hanya karena alasan ideologi. Di sisi lain Amerika melindungi Mubarrak, Karimov, Pinochet, Soeharto, dan ratusan pemimpin tiran karena hanya merekalah yg mau memperbudak diri di hadapan Amerika. Amerika juga secara membabi-buta membela Israel yg telah jelas-jelas melakukan pelanggaran HAM tingkat berat. Itu semua ditambah kelakuan Amerika yg doyan menginvasi negeri lain tanpa sebab yg jelas. Vietnam, Nikaragua, Panama, Granada, Iraq, Afganistan, Korea adalah contoh nyata kebiadaban Amerika yg seenaknya meluluh-lantakkan negeri mereka.

Amerika yg juga mentahbiskan dirinya sebagai polisi dunia juga dg seenaknya menjadikan siapapun yg tidak sejalan dengannya sebagai lawan. Amerika juga secara tidak langsung menempatkan Islam sebagai penjahat kapiran yg layak dijadikan target berikutnya untuk diperangi setelah runtuhnya komunisme. Maka tidak salah sosok seperti Osama bin Laden dipahlawankan dan sepak terjangnya dikagumi oleh banyak pemuda Islam sebagaimana dulu pemuda sosialis mengagumi sosok Che Guevara.

Maka ketika mendengar kematiannya saya hanya berucap, Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un. Kematian Osama hanyalah takdir Allah Swt. Mati itu cuma sekali, ucapnya, maka matilah dalam keadaan jihad. Ya, mati hanya sekali tapi bagaimana keadaan ketika kita mati, apakah dalam keadaan kafir, munafik, sedang bermaksiat kepada Allah Swt, atau ketika kita sedang khusyuk beribadah, atau sedang memperjuangkan tegaknya agama Allah dan sedang berjihad di jalanNya.

Osama bin Laden adalah satu di antara milyaran muslim yg lahir pada abad ketika Islam telah dikalahkan sejak runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyyah pada tahun 1924. Osama juga menjadi bagian kecil generasi muslim yg sadar bahwa saat ini kaum muslimin terpecah lebih dari 50 negara yg lemah dan terjajah. Momen pendudukan Uni Sovyet semakin mempengaruhi pikirannya. Soal baginya adalah Islam dan kaum muslimin terpuruk, maka jawabannya adalah mengusir penjajah, membuang semua ide busuknya, dan kembali kepada Islam. Jawaban yg relatif sama, masalahnya adalah cara menjawabnya. Ada yg dengan pemikiran seperti halnya Sayyid Qutb dan Abu Ala Al Maududi, ada yg dengan gerakan politik non parlemen seperti halnya Taqiyuddin An-Nabhani dan gerakan Hizbut Tahrirnya, ada yg menghalalkan parlemen seperti halnya Hasan Turabi dan Yusuf Qardhawi serta para beberapa partai Islam di negeri-negeri muslim, ada juga yg melakukan lewat bidang ilmiah dan keilmuan seperti Ismail Raji Faruqi, Naguib Al Attas, atau Harun Yahya, namun ada juga yg melakukan perlawanan bersenjata seperti Osama bin Laden dan Al Qaidahnya.

Soal yg mereka hadapi dan jawaban mereka adalah sama. Dan fakta dunia hari ini semakin memperkuat ide-ide mereka. Tentu Amerika dan sekutunya telah alpa bahwa ide tidak akan pernah mati walau kepala tertembus peluru atau terpisah dari tubuh. Mereka boleh saja bertepuk dada dan dg congkak mengabarkan kepada dunia bahwa Qutb, Maududi, Nabhani, Faruqi, Azzam, atau Osama telah meninggalkan bumi. Tapi mereka lupa bahwa pejuang Islam tidak pernah mati. Mungkin saja para pionirnya telah meninggal, tapi generasi berikutnya akan datang dg semangat, kecerdasan, dan keistiqomahan yg lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Maka tidak lama lagi Amerika akan bergidik ngeri menyaksikan peradaban mereka runtuh dan di depan mereka tersaji anak-anak muslim yg maju menerjang sambil berteriak “kulluna Sayyid Qutb…kulluna An-Nabhani…kulluna Al Faruqi…kulluna bin Laden.”. Wallahu’alam.

2 thoughts on “Osama

  1. sip,,,,cuma sampai hari ini,,,saya ndak bisa meyakini,,,karena mungklin ketidaktahuan,,afwan bahwa pantas gak gelar syahid di sematkan di bpak osama bin laden,,,
    wallahua’lam,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s