Magnifecent Seven

Salah seorang teman kerja yg lebih senior membeberkan kitab kuning di depan meja tempat kami biasanya ngopi. Judul kitabnya “Tanbihul Ghafilin” atau Pengingat Bagi Orang yg Lupa. Melihat kitab ini saya teringat kajian-kajian yg dulu sering saya ikuti di mushola-mushola kampung yg saat ini sudah mulai langka. Beliau membacakan di depan saya sebuah bab yg berjudul  “7 amal yg dibawa ketika mati”. Amal-amal itu antara lain 1. Membangun masjid sampai masjid itu tetap ditempati sholat, 2. Membuat sungai dan selama airnya mengalir, 3. Membuat sumur dan selama airnya berguna bagi orang lain, 4. Menanam pohon dan selama pohon tersebut berguna bagi orang lain (mulai dari diambil buah, daun, kayu, hingga digunakan berteduh), 5. Mengajarkan sebuah ilmu dan selama ilmu tersebut digunakan oleh orang lain, 6. Menulis mushaf (menulis Al Qur’an, juga menulis apapun, hingga menyumbangkan buku) dan selama tulisan tersebut dibaca oleh orang lain, 7. Seorang anak yg sholih yg selalu mendoakan kedua orang tuanya.

Kita bisa memilih amal yg mana yg bisa tetap mengalir pahalanya hingga kita mati. Kita mungkin belum bisa membangun masjid, membuat sumur, membuat sungai karena kita belum bekerja alias pengangguran. Kita juga tidak bisa menanam pohon karena jangankan halaman atau kebun, karena rumahpun kita menyewa alias indekos. Kita juga tidak memiliki anak yg sholih, karena nikah saja masih di dalam angan. Pilihannya tinggal dua: Mengajarkan sebuah ilmu atau menulis. Kita merasa tidak mampu untuk mengajar karena selama S-1 spesialisasi kita bukan ilmu kependidikan. Kita juga tidak memiliki sebuah ilmu yg spesial yg bisa kita bagi (semisal ushul fiqh atau ulumul qur’an). Atau karena kita hanya lulusan SMA dan sederajat yg dipandang remeh oleh masyarakat. Belum lagi berbagai alasan seperti gak pede, gagu, grogi, dan lain sebagainya.

Dan bukankah kita masih memiliki akal, pikiran, ide, dan dua buah tangan, lalu mengapa kita tidak menulis. Tidak perlu sebuah komputer atau laptop berfasilitas wifi, cukup sebuah kertas, pensil atau pena, dan sisa uang jajan sebanyak 3000 untuk ke warnet. Opload tulisanmu di fasilitas blog yg beranekaragam dan selalu gratis, maka sebuah rekening Insya Allah tercatat di Bank Akhirat. Tidak perlu berkeliling negeri atau dunia untuk menginspirasi, cukup di depan layar komputer atau hanya berbekal pena dan kertas. Maka menulislah, tuliskan tentang KeagunganNya, tentang keteraturan dan kebesaran sistem buatan-Nya, tentang penderitaan umatNya. Maka menulislah untuk membangunkan umat manusia dari tidur panjangnya. Maka menulislah, karena ini satu-satunya hal yg mudah dan yg kita bisa untuk mendaftarkan nama kita dalam deposito abadi buatan Sang Pencipta Alam Semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s