Dilindas Atau Melindas

Mamat sedang terlelap ketika suara sayatan logam dan jeritan beradu memekakkan gendang telinganya dan membuyarkan seluruh impiannya.

Semuanya berawal dari perut Iim (panggilan kesayangan Ima atau Fatimah istri Mamat) yg mulai mules-mules sejak sebulan yg lalu. Awalnya Mamat khawatir istrinya keracunan atau terserang maag akut maka kemudian segera ia membawa istri kesayangannya ke dokter. Oleh dokter ternyata Iim didiagnosis sedang hamil, maka sumringahlah si Mamat. Dan galibnya wanita yg sedang mengandung, Iim mulai manja-manjaan ama Mamat, endingnya pada hari itu Iim minta dianterin pulang ke rumah orang tuanya di kampung dg alasan kangen. Karena takut nanti anaknya jadi gagap kayak aziz, maka dg segera Mamat menuruti kemauan istrinya.

Sebetulnya Mamat agak berat hati meninggalkan istrinya. Alasannya khawatir ada apa-apa dan nggak mau merepotkan mertua, selain itu Mamat agak gak rela jadi Caca Handika yg makan makan sendiri, tidur tidur sendiri, cuci baju sendiri, semua sendiri karena ditinggal istri. Tapi karena besok masih bekerja maka dg rela hati Mamat melangkah meninggalkan halaman rumah mertuanya diiringi lambaian Iim. Malam itu kebetulan malam jum’at kliwon yg bertepatan malam petang 30 alias tepat tanggal 30 qomariyah ketika bulan tiarap di bagian lain bumi. Malam gelap, ditambah tidak ada becak, ojek, dan jalanan becek karena sejak sore hujan rintik-rintik.

Mamat melangkahkan kaki menembus hutan jati sendirian. Hanya gelap yg menyelimuti dan terkadang kabut tipis menghalangi pandangan. Sepi hanya ditemani suara air yg jatuh rintik-rintik, gemerisik dedaunan jati yg beradu dg angin, kelebat kepak sayap kelelawar menembus gulita, dan jeritan burung malam yg menyayat telinga. Sesekali petir memendarkan cahaya di atas langit dan bumi yg gelap menghitam. Mamat berdiri sambil bersedekap menahan dingin di tepi jalan. Entah dari mana asalnya sebuah sosok gelap dg mata bercahaya mendekati dirinya. Dalam ambang sekian menit aroma tubuhnya mulai tercium dan panas nafasnya membuat bulu kuduk berdiri. Dan kini sosok tinggi besar tersebut telah tepat berdiri di depan Mamat yg berdiri kaku membeku.

Ya, sebuah bus malam antar kota telah berhenti tepat di depannya. Mamat segera naik karena bus tak berhenti lama. Kebetulan malam itu bus agak penuh tapi menyisakan beberap tempat duduk di beberapa bagian. Mamat langsung duduk di bagian kanan yg kebetulan hanya menyisakan satu tempat duduk. Berdasarkan saran dari beberapa orang dekatnya, bahwa duduk di bagian sebelah kanan alias di belakang sopir memiliki keuntungan tersendiri, yaitu terhindar dari kecelakaan akibat amukan sopir yg sering mengorbankan sisi kiri kendaraannya. Kebetulan Mamat duduk dg seorang pria seusia dirinya, ia berpenampilan aneh, memakai celana pendek kasual dan kaos oblong bergambar bus bertuliskan busmania forever, ia juga sibuk dg handycam yg terus-menerus diarahkan ke jendela depan seakan-akan merekam segala tindak-tanduk sopir.

Mamat pun langsung gatel pengen kenalan. Pria tersebut bernama Danu, warga Jakarta kelahiran Solo yg sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta. Danu juga tercatat sebagai anggota BMI alias Bus Mania Indonesia yaitu kumpulan orang-orang yg mengabdikan dirinya mencintai dan tergila-gila dg bus antar kota. Danu kemudian bercerita tentang petualangannya menaiki bus antar kota di seluruh pulau Jawa hingga Bali. “saya biasa duduk tepat di belakang sopir atau klo bisa tepat disampingnya mas. Anda tahu sensasinya? Seperti duduk di belakang Schumacher. Tapi itu khusus bus eksekutif Jakarta-Surabaya, Bandung-Surabaya, atau Semarang-Surabaya. Tapi mas, klo naik bus eksekutif Surabaya-Bali karena jalannya banyak yg rusak di daerah, rasanya jadi mirip naik ama Rifat Sungkar pas reli di jalur tanah. Agak lompat-lompat dikit.”, cerita Danu kepada Mamat. “terus apa alasan sampean naik bus ekonomi sekelas bus Asoy Geboy ini mas?”, tanya Mamat. “beberapa bulan yg lalu mas, salah seorang teman satu klub dari Semarang bilang bahwa ini bus ekonomi tercepat di Jawa.”, jawab Danu. “oooh kalo itu alasannya memang benar mas. Tapi sampean kok malah duduk di belakang, gak duduk di depan kayak biasanya?”, tanya Mamat lagi. “gak kuat mas. Dari Solo saya duduk di depan, tapi pas Madiun saya mundur. Saya pusing. Mas pernah nonton film Fast and Furious. Naik bus ini di belakang sopir mirip naik mobil balap bareng Brian O’Conner”, jawab Danu lugu. Mendengar hal tersebut Mamat jadi tertawa mengiyakan, karena emang bus ini terkenal ama gayanya yg ugal-ugalan dan para awaknya memiliki motto dilindas atau melindas alias daripada dilindas atau didahului bus lain mending melindas atau mendahului bus lain.

Setelah obrolan pembuka, maka berlanjutlah obrolan-obrolan berikutnya dari dua laki-laki yg kebetulan sebentar lagi sama-sama akan menjadi orang tua. Obrolan tersebut akan panjang kalau saja tidak uapan yg menyela. Karena sama-sama ngantuk Mamat dan Danu langsung terlelap dg Danu tetap mengarahkan handycamnya ke arah depan. Tidak lama kemudian Mamat merasa dirinya berubah jadi Brian O’Conner dan Danu berubah jadi Dominic Toretto. Mereka berdua sedang berada di kabin Mitsubishi Evo X modifikasi. Tidak lama kemudian mereka ngebut di jalanan Las Vegas sambil dikejar puluhan mobil patroli polisi. Jarum speedometer menunjuk angka 250 km/jam. Gak tau darimana tiba-tiba ada becak nyelonong motong jalan, settingnya langsung berganti di depan pasar Wonokromo yg penuh sesak. Dominic Toretto yg pegang stir langsung banting ke kanan daripada nyenggol becak dan dapat balasan cacian ala Suroboyoan. Naas, dari depan sebuah mikrolet lyn x jurusan Joyoboyo-pasar Gedongan ngetem seenaknya di pinggir jalan. Dominic tidak sempat mengerem dan bunyi logam beradu dan jeritan langsung menyayat merobek gendang telinga..

Mamat terjaga dg merasakan rasa sakit menjalar di seluruh badan. Kebetulan Danu juga siuman dari tidurnya. Dengan setengah sadar mereka merasakan kegelapan melanda bus. Sayup-sayup terdengar suara-suara dan bunyi erangan minta tolong. “Masya Allah, Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un”, Mamat langsung berucap asma Allah ketika ia melihat kejadian yg ia seumur-umur tidak ingin melihatnya lagi. Badan bus terbelah dua dan hanya menyisakan sisi sebelah kanan dalam keadaan utuh dan penumpangnya hanya shock dan luka ringan. Sisi kiri dan bagian depan hancur berkeping-keping, puluhan penumpang terlempar dan tergeletak di jalanan, sisa bus sendiri terdampar di tengah hutan jati. Di seberang sana sebuah minibus hancur lebur dan Mamat tidak mau membayangkan nasib penumpangnya. Mamat dan Danu duduk bersandar di bawah pohon jati sambil menyaksikan para petugas dan warga bahu-membahu menolong korban. Mereka berdua hanya luka ringan, tapi dalam hati mereka mengalami guncangan yg teramat keras.

“ya Allah, jadi ini yg terjadi selama kita tidur dulu mas”, begitulah pesan Danu kepada Mamat via facebook. Danu sekalian mengirimkan hasil jepretan handycamnya selama mereka tertidur di atas bus yg terlibat kecelakaan parah beberapa bulan yg lalu. Sambil menikmati secangkir teh hangat buatan Iim, Mamat merenung. Jangan-jangan sopir bus adalah tipe manusia kapitalis. Bukankah selama ini para kapitalis memiliki semboyan dilindas atau melindas. Ya, mereka berlomba-lomba melindas orang lain daripada kedahuluan dilindas oleh orang yg memiliki motto yg sama. Kapitalisme ternyata hanya melahirkan penjajahan. Mamat memejamkan mata dan sayup-sayup terdengar tembang mocopat yg sering didengar lewat radio tua mertuanya “Amenangi jaman edan, yen ora edan ora keduman, tapi sabegjo-bejane wong kang lali, isi begjo wong kang iling lan waspodo”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s