Lawan Sekulerisme, Jangan Kambing Hitamkan Islam!!!

Syair sholawat mendayu merdu, diiringi rempak rebana yg bersahutan, serta gerak badan yg lembut kaku. Mendengar dan melihatnya membuat saya terhanyut dan terbawa pada suasana 70-an atau 80-an ketika seni ini populer dimainkan oleh kalangan remaja pria di langgar-langgar. Saya jadi teringat foto-foto tua yg memajang wajah kakak ummi saya yg biasa saya panggil ammi dan teman-temannya yg gembira melakoni kegiatan seni tersebut. Hadrah atau terbangan sebuah seni Islam yg saat ini nyaris tenggelam. Seni pembacaan sholawat yg mirip dengan tari Saman khas Aceh dan seni tari para darwis di pedalaman Yaman. Di kampung-kampung seni ini mulai langka dan hanya dimainkan oleh kalangan tua. Hadrah pernah ada di kampung saya dan punah ketika para punggawanya berangsur uzur dan wafat (salah satunya adalah pakdhe saya yg merupakan vokalis utama) dan diperkirakan akan semakin langka serta sulit dijumpai. Anak-anak muda lebih menyukai nasyid, marawis, atau banjari yg lebih mudah dimainkan dan sebagian besar lebih menyukai band yg lebih keren, modern, dan mudah menghasilkan uang daripada melirik seni vokal Islam yg ndeso, katrok, puritan, dan jadi ciri khas teroris.

Tapi anehnya, ada beberapa pihak yg menuding bahwa Islam atau Syariat Islam lebih khususnya penerapan Islam dalam negara akan memusnahkan seni seperti hadrah dan seni Islam tradisional serta amalan-amalan Islam seperti tahlilan, yasinan, ziarah kubur, diba’an, dsb. Mereka membayangkan penerapan Islam yg kaku seperti Arab Saudi atau Taliban, sebuah negara madzhab yg membunuh madzhab lainnya. Padahal Islam Rahmatan Lil Alamin. Padahal Syariat Islam mengayomi dan Daulah Islam bukanlah negara madzhab. Islam telah merangkul, memodifikasi, serta mengubah budaya-budaya jahiliah menjadi budaya Islam. Islam datang ke Nusantara khususnya ke Jawa membawa revolusi Aqidah, mengubah wayang yg sebelumnya menjadi media penyembahan dewa-dewa menjadi hanya sekedar cerita atau fairy story yg jauh dari nilai-nilai sakral dan hanya sekedar menyisakan hikmah sebagaimana kisah 1001 malam yg berasal dari kisah persia kuno dan Kalillah wa Dimnah yg dimodifikasi dari Kamatantra ajaran Hindu India menjadi khasanah sastra Islam. Padahal di balik punahnya seni-seni Islam saat ini ada dalang utamanya yaitu Sekulerisme.

Sekulerisme dan liberisme yg merasuk masuk ke kampung-kampung lewat televisi, internet, facebook, majalah, dan surat kabar telah merubah gaya hidup remaja. Para remaja lebih suka menghabiskan waktu malam di pinggir jalan, berpakaian hitam ala punk, menyenderkan sepeda motor penuh modifikasi, arena konser-konser musik, di skate park, arena futsal dan basket, remaja putrinya lebih suka berkeliling mall, berdandan harajuku style atau ala girlsband korea, serta main ke kafe,  dan distro-distro pakaian. Padahal pada tahun 80-an dan awal 90-an masih bisa ditemui remaja-remaja yg sore hari hari berbondong-bondong ke langgar atau mushola, mengaji hingga Isya’, ba’da Isya’ dilanjutkan latihan hadrah atau pencak silat, malamnya tidur di mushola diselingi acara liwetan. Kini semua itu musnah ditelan zaman. Sekulerisme dg kejam menjauhkan generasi Islam dari masjid, mushola, Al Qur’an, dan Islam itu sendiri.

Kyai saya di kampung pernah bertaushiyah, bahwa kondisi ini tercipta karena semakin jauhnya pemahaman Islam di benak kaum muslimin akibat serbuan modernisasi yg sangat deras. Oleh karena itu diperlukan revolusi pemikiran sesegera mungkin, karena apabila terlambat akibatnya adalah Islam akan semakin hilang dan banyak amalan Islam yg akan dilupakan orang dan hanya tinggal sejarah. Maka diperlukan penyadaran bahwa Al Qur’an, Hadits, Diba’, Barzanji tidak hanya sekedar dibaca tapi dipahami isinya dan diamalkan. Islam tidak hanya diamalkan di mulut, tapi di hati dan di setiap gerak langkah kita. Saya setuju dg pendapat kyai saya.

Maka membiarkan sekulerisme hidup, membiarkan liberalisme dipasarkan secara bebas, serta membiarkan negeri ini berjalan apa adanya diatur oleh dua aturan tadi, ditambah mengkambing hitamkan Syariat Islam sama saja dengan membunuh Islam secara terang-terangan. Ingat Islamlah melalui para Wali Songo yg dikirim oleh Sultan Muhammad I (kakek Muhammad Al Fatih)  dari Kekhalifan Turki Utsmani yg menciptakan berbagai khasanah seni Islam di negeri ini. Serta ingatlah bahwa Snouck Hugronje, Van Der Plas, Nurcholis Madjid, serta JIL, AKKBB, dan sekondannyalah yg menyebarkan sipilis sebagai kambing hitam yg layak dituduh sebagai penghancur khasanah Islam negeri ini.

2 thoughts on “Lawan Sekulerisme, Jangan Kambing Hitamkan Islam!!!

  1. silahkan perbanyak wacana keislaman secara mendalam serta perbanyak perangkat analisis untuk lebih bijak dalam menyikapi fenomena yang muncul dan berkembang di tengah-tengah umat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s