45.000 Tahun Cahaya

Ada 4 orang sahabat yang tinggal di sebuah kota kecil. Sejak kecil mereka bersahabat dekat, menuntut ilmu di tempat yang sama, serta memiliki idealisme dan cita-cita yang tidak jauh berbeda. Mereka berempat sejak kecil bercita-cita ingin berkeliling dunia. Orang yang pertama bernama Al, dia ingin berkeliling dunia sebagai wisatawan kaya dan terbantu kekayaan keluarganya serta habitnya menjadi pengusaha, maka di usia 30 tahun dia menjadi pengendali usaha skala dunia. Sekarang dunia baginya hanya sebesar lingkungan RT tempat dia menghabiskan masa kecil. Pulang pergi dari Amerika dan Eropa mirip orang kampung pergi ke jamban. Di bulan suci ia sahur dan sholat shubuh di masjid Nabawi, sholat dhuhur dan asarnya di Masjidil Haram, kemudian berbuka puasa dan tarawih bersama para pejuang Palestina di Masjidil Aqsa. Orang yang kedua bernama Ben, bintang kelas sekaligus yang paling jenius di antara mereka. Ia ingin berkeliling dunia dengan alat ciptaannya berupa kapsul cahaya. Dengan alat tersebut manusia akan menjadi pelompat waktu dari satu tempat ke tempat yang lain. Kini walaupun ia belum menemukan alat idamannya, ia telah berkeliling dunia dengan kejeniusan otaknya. Mimbar-mimbar akademis besar telah dinaikinya, Harvard, UCLA, Oxford, Sorbonne, hingga Al Azhar telah merasakan pidato-pidato ilmiah dari sang matematikawan muda tersebut. Orang ketiga bernama Che, si kecil keriting yang tidak bisa diam. hobinya adalah berpetualang. Sejak SMP hingga berkuliah ia menjabat sebagai ketua pencinta alam. Tidak ada gunung, sungai, laut, dan gua yang tidak ia sambangi. Lihatlah kini, ia telah berhaji dengan berjalan kaki, berkeliling dunia dengan bersepeda mengikuti jalur petualangan Ibn Batutah dan Marcopolo, hingga berlayar samudera bak Magelhaens berkeliling dunia. Sedangkan yang keempat bernama Din, sang kutu buku. Anak penjaga perpustakaan kota ini memiliki cita yang sederhana, mungkin walaupun tubuh ini tidak bisa berkeliling dunia tapi tulisanku akan dibaca dan menjadi inspirasi di seluruh dunia. Ia menulis dan terus menulis tidak kenal lelah. Dan kini walaupun ia menjadi satu-satunya penjaga kota dan tidak pernah beranjak dari kota kecil tersebut, tapi lihatlah bukunya yang dibaca anak-anak di pedesaan Andalusia, menjadi pengantar tidur para peneliti di pedalaman Antartika dan Amazon, dibawa oleh penjual buku berkeledai di Samarkand, hingga tersembul malu-malu di rak-rak buku modern di toko-toko buku besar di Singapura, London, Paris, Berlin, hingga New York.

Membaca sketsa di atas mungkin langsung terbayang di benak para pembaca semua, bahwa sosok keempat paling mirip dengan saya. Seorang kutu buku yang lebih suka bersemedi di dalam kamar, hidup dilingkupi sobekan-sobekan kertas, dan berkawan pena, batu tulis, lampu baca, serta -tidak lupa- kacamata tebal. Saya akui sejak kecil saya lebih menyukai duduk membaca dibandingkan harus berlarian atau bepergian kesana-kemari. Hingga hari ini saya bahkan tidak bisa menerbangkan layang-layang, bermain yoyo, bermain gundu, hingga bagaimana caranya berenang. Tapi bukan berarti saya hanyalah makhluk pecinta buku yang tidak pernah bersosialisasi dengan manusia. Mungkin saya kalah jauh degang Bel, cewek tetangga yang udah pernah berpetualang hingga Wakatobi atau dengan bang Machrus, teman kerja saya yang hanya menyisakan Cartenz Piramyde alias Puncak Jaya sebagai satu-satunya gunung di Indonesia tidak pernah ia daki. Ketika masa sekolah hingga kuliah saya juga tidak pernah melakukan hal yang banyak dilakukan teman seusia saya, bermotor ke Batu, Bromo, Pasir Putih, hingga Sempu. Tapi bukan berarti saya tidak pernah berpetualang, bagi saya kabur dengan kereta pagi ke Malang atau bermotor ke pesisir timur Sidoarjo adalah juga petualangan dan saya menikmatinya. Banyak orang yang juga meragukan otak bisnis saya, apalagi bila mereka kenal dekat dengan saya yang memang sejak kecil diragukan dalam soal hitung-menghitung duit. Tapi bukan berarti saya tidak pernah berbisnis (banyak bisnis kecil-kecilan saya berhasil, tapi memang saya tidak terlalu fokus menangani bisnis). Banyak juga yang meragukan intelejensia saya, lebih-lebih di bidang eksakta. Memang nilai matematika, fisika, ama kimia saya ancur (ini menjadi barang bukti pada kasus dugaan saya tidak becus menghitung uang). Tapi saya sangat menyukai biologi, saya menyukai dunia binatang dan pasti krasan banget kalau misalnya ada yang mengajak berpetualang ke Serengeti, Amazon, atau minimal ke KBS.

Intinya bahwa sebenarnya setiap manusia dilahirkan dengan memiliki keterampilan yang sama. Manusia memiliki keunggulan yang sama satu sama lain, tapi minat, kecintaan, hingga fokus pada satu bidanglah yang membuat manusia berbeda. Mungkin ada yang menemukan bakatnya sejak kecil, tapi tidak sedikit yang baru menemukan dunianya jauh setelah masa pubertasnya berlalu. Bukan alat pelacak sidik jari, genetik, numerologi, primbon, pelatihan, bahkan paksaan yang membentuk bakat manusia, tapi kecintaan yang dibarengi fokus untuk meraih apa yang ia inginkan yang pada akhirnya membentuk kebiasaan dan tumbuh menjadi keterampilan utama yang berpengaruh pada jati dirinya sebagai manusia. Ada orang yang sejak kecil dicap tidak bisa bermain bola karena terserang polio, tapi karena kecintaanya pada sepak bola ia mampu menjadi pemain utama di tim nasional. Ada orang yang dicap tidak mampu menjadi pengusaha besar karena kemiskinan yang melanda, tapi karena fokus ia mampu menjadi pengusaha kelas dunia. Bahkan ada yang dianggap gila, utopis, dan sesat ketika bercita-cita menyatukan dunia dalam satu imperium raksasa, tapi karena cinta dan fokus kepada cita-cita suatu saat kita bisa menyaksikan hasil kerja besarnya. Impian seorang manusia tidak akan pernah berakhir, karena memang tidak mudah menjadi yang lebih baik di antara orang lain. Oleh karena biarkan mereka tertawa, karena apabila kita telah mencapai puncak mereka tidak akan bisa bertindak dan berkata apapun. Ya, itulah kata-kata bijak yang sempat saya rekam dari sebuah komik.

Maka pada akhirnya kita dapati diri kita hari ini terombang-ambing oleh perubahan zaman. Lebih banyak melakukan hal-hal yang menurut kita sia-sia. Merasakan belum mantap meraih jati diri sebagai manusia sejati. Maka tatapi cermin, lihat muka kita, dan selami pandangan terdalam dari mata hati kita. Di relung terdalam pasti akan kita temukan sebuah gagasan, cita-cita, atau rencana masa depan. Maka segeralah kembali ke alam nyata, fokus, dan lakukan yang terbaik buat diri, keluarga, masyarakat, dunia, dan Pencipta Alam Semesta…

….Selamat membumi kawan, setelah sekian lama kau susuri perjalanan bintang

(persembahan untuk 45.000 pembaca Filosofi Burjo;mimpi dan cita itu tipis, semuanya berujung pada kenyataan yang kita perjuangkan dengan sepenuh jiwa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s