Semua Berawal Dari Membaca

Iqro’ atau Bacalah, itulah perintah pertama yang diterima oleh Rasulullah Saw dari Allah Swt. Sebuah perintah yang seakan menjadi penegas bahwa umat Islam nantinya menjadi umat yang mampu membangun peradaban besar dengan budaya membaca. Sastrawan Ceko, Milan Kundera menyebutkan bahwa membaca adalah salah satu senjata untuk melawan lupa. Karena tulisan adalah sebuah kata yang tersimpan dan tak lekang dimakan zaman, maka memang benar apabila dikatakan bahwa membaca adalah senjata melawan lupa. Dengan membaca orang bisa menjelajah dunia, menerabas ruang dan waktu, serta bertemu dengan berbagai individu baik yang sezaman, dari masa lampau, hingga masa yang akan datang. Masalahnya budaya membaca mulai terkikis di negeri ini, ia mulai tidak dilirik sebagai hobi. Buku sudah dianggap barang mahal, luks, dan menjadi kebutuhan kesekian bagi keluarga dan masyarakat Indonesia.

Di media massa disebutkan bahwa indeks baca masyarakat Indonesia adalah 0,001 atau dari seribu orang hanya satu orang yang membaca buku. Amerika Serikat dan Jepang yang dikenal sebagai negara maju memiliki indeks baca masing-masing 156 dan 146 yang artinya di Amerika 1 orang membaca kurang lebih 156 buku dan di Jepang 1 orang membaca 146 buku. DR. Taufik Ismail dalam penelitiannya pada tahun 1996 juga menyoroti kurangnya minat baca di kalangan masyarakat Indonesia khususnya di kalangan pelajar mulai level SD sampai SMA. Ia menyatakan bahwa di Jerman lulusan SMA rata-rata telah membaca 32 buku, anak Belanda 30 buku, anak Rusia 12 buku, anak New York 32 buku, anak Swiss 15 buku, anak Jepang 15 buku, anak Singapura 6 buku, anak Malaysia 6 buku, anak Brunai 7 buku, anak Indonesia 0 buku. Jadi bisa disimpulkan selama 12 tahun pelajar di Indonesia rata-rata tidak pernah membaca buku.

Membaca intensif atau intensif membaca

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya para pelajar tentu membuat kita mengelus dada. Ada sebuah PR besar terutama dibebankan kepada para guru. Sebenarnya ada beberapa masalah yang selama ini menjadi penyebab rendahnya minat baca di Indonesia. Pertama, adalah pola pembelajaran membaca yang keliru. Anak didik hanya diajarkan membaca intensif atau membaca pada waktu tertentu saja dan dengan bahan bacaan yang minim variasi. Anak didik hanya diberi bahan bacaan yang tercantum di buku paket atau LKS saja, tindakan seperti ini dapat menjadi pemicu lahirnya budaya SKS atau sistem kebut semalam. Selain itu sering kali guru juga dengan tidak sengaja bertindak menjadi polisi dengan membatasi bahkan melarang anak didik membaca sembarang buku misalnya komik. Padahal menurut beberapa pengamat sastra dan dosen bahasa Jepang, komik terbagi beberapa genre yang tidak melulu semuanya bernilai negatif. Komik “Captain Tsubasa” misalnya menjadi pemicu meningkatnya prestasi tim sepak bola Jepang. Bahkan baru-baru ini komikus Jepang perlu mengkomikkan salah satu novel terbaik mereka yaitu “Musashi”. Maka perlu adanya perubahan paradigma pembelajaran membaca yaitu guru sebagai mentor, trainer, sekaligus pendamping anak didik untuk mendapatkan bahan bacaan berkualitas.

Namun paradigma ini tidak akan berjalan dengan baik apabila guru tidak mampu tampil sebagai teladan membaca bagi anak didiknya dan ini menjadi masalah yang kedua. Masih banyak ditemui guru di negeri ini, khususnya guru bahasa Indonesia yang hanya mengandalkan buku paket dan LKS. Tumpukan buku di meja belajarnya hanya kumpulan silabus dan RPP, bank soal, makalah-makalah seminar namun jarang ditemui buku kumpulan puisi, antologi cerpen, novel-novel, biografi tokoh-tokoh dunia, dan buku-buku menarik lainnya yang mampu merangsang minat baca. Juga jarang sekali ditemui guru yang memiliki perpustakaan pribadi bahkan tidak jarang ada guru yang tidak pernah ke perpustakaan. Salah dosen saya di jurusan pendidikan bahasa Indonesia pernah berpesan bahwa seorang guru harus banyak tahu dan tahu banyak. Beliau bahkan tidak segan-segan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bagi kami calon guru bahasa Indonesia sangat tidak nyambung, misalnya sebutkan kota antara New York dan New Jersey yang menjadi tempat penandatanganan Declaration Of Independence, sebutkan nama-nama istri raden Wijaya, berapa panjang sungai Nil dan apa nama Mount Everest dalam bahasa Indonesia, hingga sebutkan siapa nama utusan raja Khubalai Khan yang telinganya dipotong oleh prabu Kertanegara. Membaca banyak buku apapun, kapanpun, dan dimanapun adalah salah satu rumus menjadi guru seperti pesan dosen saya di atas. Maka menumbuhkan minat baca peserta didik tentu diawali dari seorang guru yang rajin membaca. Falsafah Jawa menyatakan bahwa guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, artinya bahwa teladan utama seorang murid adalah gurunya.

Tentu kerja keras ini tidak akan bernilai apa-apa apabila tanpa dibarengi dengan niat dan motivasi yang lurus. Membaca adalah salah satu ibadah dan jalan satu-satunya untuk menggapai ilmu. Maka membaca merupakan penghormatan terhadap ilmu dan jalan satu-satunya untuk meraih kedudukan sebagai orang ‘alim atau ahli ilmu. Sosok-sosok orang ‘alim inilah yang di kemudian hari pasti akan melahirkan peradaban-peradaban gemilang, sebuah peradaban berbasis ilmu. Maka Maha Benarlah Allah Swt melalui malaikat Jibril memberikan perintah pertama kepada Rasulullah dengan kata-kata Iqro-Bacalah, karena semuanya berawal dari membaca.

(juga diposting di blog, http://kang_fajar.guru-indonesia.net/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s