Mercon Sreng Dorrr…

Sastrawan Ceko, Milan Kundera pernah berujar, bahwa perjuangan melawan penguasa adalah perjuangan melawan lupa. Betapa banyak kasus di negeri ini yang hilang lenyap tak berbekas tertutup berita baru yang lebih bombastis. Betapa sudah banyak yang lupa akan kasus marsinah, lenyapnya eddy tansil, kudatuli, dan berbagai kasus besar yang melanda negeri ini. Milan Kundera benar, bahwa perjuangan melawan seorang penguasa tiran adalah perjuangan untuk terus membangunkan rakyat agar tersadar dari mimpi panjangnya. Perjuangan itu adalah perjuangan yang tidak kenal melawan kuasa wacana yang terus menerus digulirkan oleh penguasa untuk menghipnotis rakyat agar memasuki alam tidurnya semakin dalam.

Hatta, dalam kasus-kasus terorisme di negeri ini yang menurut pandangan penulis sangat penuh rekayasa dan kebohongan. Kasus-kasus tersebut dari waktu ke waktu memiliki pola yang sama. Pertama, samarnya pihak yang bertanggung jawab. Tidak seperti di kawasan konflik seperti Palestina, Afghanistan, Iraq, dan Pakistan, juga kawasan penuh kekerasan seperti Mexico, Kolombia, Irlandia Utara, Basque, hingga aksi pemboman di Norwegia dimana para operator bom selalu mengumumkan di depan media bahwa merekalah pihak yang bertanggung jawab atas kasus pemboman tersebut hanya beberapa jam setelah bom meledak. Di Indonesia hingga hari ini tidak ada pihak yang secara jantan mengaku berada di balik ledakan-ledakan bom di berbagai tempat di Indonesia. Walaupun seringkali di rilis oleh media tentang video pernyataan pelaku, video tersebut secara jelas-jelas mengatasnamakan pribadi, bukan dari organisasi tertentu, dan memiliki rentang yang sangat lama dari kejadian yang ini sangat rentan terjadinya rekayasa.

Selain ketidakjelasan identitas atau organisasi pelaku, juga dalam berbagai kasus bom di Indonesia adalah ketidakjelasan motif. Di luar negeri biasanya berkembang berbagai motif, mulai dari ideologi (kasus di Norwegia), kejahatan/kriminal (perang antar kartel narkoba di Amerika Latin), dan motif melawan penjajahan (di Palestina, Iraq, Afghanistan). Maka menyamakan aksi bom di Indonesia dengan aksi bom di Afghanistan adalah suatu hal yang salah. Kita semua tahu bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang rela hidup di bawah ketiak penjajahan, maka hal pertama adalah melakukan segala upaya agar penjajah segera angkat kaki dari tanah air tercinta. Menganggap dan menyamakan aksi bom di Afghanistan dan Iraq dengan aksi terorisme adalah seakan-akan kita meludahi wajah kakek-kakek kita yang dulu juga melakukan hal yang sama ketika melawan penjajah Belanda. Kita seakan-akan meludahi wajah Panglima Sudirman yang dulu juga dianggap teroris oleh Belanda sebagaimana HAMAS dianggap teroris oleh Israel hari ini. Kita seakan-akan meludahi wajah bung Tomo yang dulu (atas izin para ulama) menggembleng dan memimpin pasukan bom syahid di perang Surabaya, sama dengan apa yang dilakukan pejuang di Afghanistan dan Iraq ketika melawan kedzoliman Amerika. Maka bila aksi para pejuang di Palestina, Afghanistan, dan Iraq adalah murni adalah perjuangan melawan penjajahan, lalu apa motif berbagai kasus bom di Indonesia?? Ketidakjelasan identitas maka secara langsung juga mengakibatkan ketidakjelasan motif di balik ledakan bom-bom di Indonesia.

Tapi yang menjadi tanda tanya besar adalah mengapa bom selalu meledak ketika sedang terjadi kasus besar yang terkait harkat martabat penguasa. Bom Marriot meledak konon ketika sedang akan dibukanya kasus kecurangan pemilu. Kasus Century tertutup kasus bom buku. Hari ini ketika masyarakat Indonesia sedang fokus melihat kasus Nazaruddin, kasus Antasari yang mulai sedikit terbuka, dan kasus baru yang menimpa menakertrans Muhaimin Iskandar tiba-tiba masyarakat dipaksa menoleh ke Solo. Jangan-jangan kasus bom ini sekali lagi digunakan untuk pengalihan isu, ketika masyarakat sudah terlena maka penguasa dengan cepat dan tanggap menutup borok yang hampir terbuka.

Tapi yang lebih jahat adalah sekali lagi kasus bom ini mampu membuat Islam sebagai tertuduh. Islam dan kaum muslimin sekali lagi dijadikan kambing hitam. Mungkin banyak yang tidak sepakat dengan apa yang penulis sampaikan, karena banyak pihak di kalangan kaum muslimin yang meyakini bahwa hanya sebagian kecil kaum muslimin yaitu mereka yang memiliki ciri berjenggot, bergamis, celananya nggantung, atau istrinya pake cadar. Tapi harus kaum muslimin sadari bahwa sebenarnya memang Islam dan kaum musliminlah target utama perang melawan terorisme. Ketua FPI, Habib Rizieq Shihab pernah berkata, mungkin hari ini orang sejenis saya, ust. Abu Bakar Ba’asyir, atau Ja’far Umar Thalib yang ditangkapi, tapi nanti suatu saat bahkan yang mengaku Islam liberalpun pasti dihabisi. Ya, di abad paska perang dingin ini siapa lagi yang dianggap musuh oleh Amerika dan sekutu baratnya selain Islam. Maka sebagaimana ungkapan ulama besar Timur Tengah, Syaikh Abdul Qadim Zallum kepada kaum muslimin Iraq. Amerika, kata beliau, tidak menyerang anda (Iraq) karena anda Sunni atau Syiah tetapi karena anda muslim. Maka jelas tentang babak akhir dari perang melawan terorisme ini adalah tidak peduli anad memakai celana nggantung, celana cutbray, celana pensil, celana jeans, atau memakai jubah, atau bersarung selama di dada dan lisan kita basah oleh kalimat syahadat itu sudah cukup untuk dicap sebagai musuh Amerika dan sekutunya.

Maka sebagaimana tesis Milan Kundera yang penulis sampaikan di awal tulisan. Kaum muslimin hari ini adalah jelas sebagai pihak yang hendak diinjak oleh penguasa. Kita kaum muslimin tidak boleh seperti kucing yang terpojok dan siap ditendang dari dapur. Kaum muslimin tidak boleh menjadi kambing hitam yang dengan rela diseret ke penjagalan. Kita kaum muslimin sudah jelas sebagai pejuang yang melawan penguasa. Maka bukan bom dan senjata yang layak digunakan sebagai obat pelawan lupa. Karena bom dan senjata hanya memupuk luka dan dendam bukan menyemai ingatan. Hanya bisikan yang sambung menyambung, cerita dan kisah yang tak henti didongengkan, serta teriakan yang terus-menerus hingga membangunkan manusia dari tidur panjangnyalah yang mampu melawan lupa. Maka perjuangan kaum muslimin hari ini tidak lain dan tidak bukan adalah dengan berdakwah. Mendakwahkan Islam sebagai sebuah rahmat bagi semesta. Mendakwahkan Islam sebagai obat bagi berbagai permasalahn dunia mulai dari masalah susah tidur, mandi besar, hingga sampai moneter, pengelolaan tambang, bea cukai, hingga hubungan diplomatik antar negara. Maka kaum muslimin harus terus menerus berdakwah dengan sebuah dakwah yang cerdas, intelektual, murni, tanpa kekerasan, bersifat penyadaran, serta ideologis. Maka inilah satu-satunya metode perjuangan melawan lupa, bukan dengan mengemis menghiba di bawah telapak kaki sang tiran, juga bukan dengan perlawanan membabi-buta, tapi perjuangan melawan penguasa, perjuangan melawan lupa tidak lain dan tidak bukan adalah dengan kata-kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s