Kenangan

Andai kenangan itu bisa dibungkus atau dijilid. Andai kenangan dapat dimasukkan ke dalam bingkai atau kanvas, pasti saya ingin memilikinya minimal satu saja untuk saya pajang di sebuah ruangan yang tak lekang di makan waktu dan zaman.

Akhir-akhir ini saya suka membongkar file-file lama. Mencari lagu yang dulu pernah saya dengarkan, mencari ebook yang dulu pernah saya punya, hingga memelototi dan mengedit ulang tulisan yang pernah saya goreskan. Sengaja saya melakukan hal tersebut terkait dengan rencana menghentikan sementara layanan internet di rumah saya.

Ternyata menyusuri kenangan itu indah. Saya seakan-akan diajak bernostalgia dengan era dimana saya mulai menyukai dunia menulis. Awal memasuki dunia kepenulisan saya merasakan hal yang melelahkan. Sejak awal tidak menyukai tulis-menulis tiba-tiba dipaksa oleh hati untuk menulis. Saya masih ingat membuat berlembar-lembar puisi di buku butut peninggalan SMA. Cerpen pertama (berjudul “Kisah Bocah Yang Menggenggam Batu”) yang saya buat untuk memenuhi tugas kampus (dapat nilai C). Juga artikel yang terkesan terlalu blak-blakan dan itu semua saya tulis langsung dengan pena dan lembaran kertas.

Kemudian orang tua saya berbaik hati membelikan sebuah PC. Sebuah PC jadul pentium dua dengan kapasitas 8 gb. Sejak saat itu saya mulai meninggalkan pena dan kertas. Sebuah flashdisk pinjaman saudara menjadi modal awal yang membuat saya berani membuat blog;Blog “Filosofi Burjo” lahir via warnet (September 2007). Sejak saat itu saya banyak menulis, menyimpan file-file di kompi, mentransfer via flashdisk, dan kemudian membagikannya kepada pengguna internet via blog. Itulah awal mula saya menjelma menjadi warnetholic. Pagi (pas abis sholat shubuh), siang, malem (hingga jam 4 pagi), itulah waktu-waktu dimana saya hanya dapat ditemui di warnet. Blog ini nyaris 70% tulisannya lahir via warnet, begitu pula dengan Burjo Zine (kapan nih terbit lagi..). Intensitas saya ke warnet semakin bertambah ketika PC saya mulai rewel, sakit-sakitan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Saya sempat berhenti sebentar menulis. Bukan karena saya tidak punya uang untuk ke warnet, bukan pula karena saya masih berduka, tapi lebih karena saya tidak mampu menghordeni ilham yang tiba-tiba muncul tanpa salam tanpa permisi. Sejak saat itu saya mulai melangkah mundur, terkadang menulis di buku, komputer nganggur, hingga melatih otak untuk menghafal lebih keras. Peristiwa ini melatih saya untuk istiqomah dalam menulis. Juga membuat saya merenung, bahwa inti dari kegiatan menulis adalah pada menulis itu sendiri bukan pada alatnya. Menulis adalah menulis kapanpun, dimanapun, dan pada benda apapun.

Saat ini saya dapat menikmati fasilitas laptop plus sambungan internet di rumah. Sehingga bisa menulis kapan saja serta dapat mencari sumber dengan mudah karena tidak perlu meninggalkan perpus pribadi saya. Tapi Alhamdulillah saya pernah mengalami cobaan berat dalam dunia kepenulisan saya. Saya hingga hari ini belum berfikir untuk pensiun menulis dan entah produk apa saja yang saya hasilkan melalui tulisan saya (entah buku, novel, majalah, dsb). Saya juga belum kepikiran entah media apa lagi yang nanti saya gunakan untuk menulis (saya belum kepikiran beli Apple tablet, karena memang tidak ada dananya. Tapi saya bersyukur dengan media yang dianugerahkan Allah kepada saya sehingga saya mampu menulis). Akhirnya, baru sekarang saya merasakan bahwa menulis itu berat dan hanya orang-orang yang memiliki semangat bushido yang mampu bertahan. Entah apa niat awal kita ketika menulis, entah latihan, tugas, falling love, pamer, hingga perang pemikiran. Menulis itu berat dan niat saya jelas tetap istiqomah menyelesaikan pertempuran penghabisan ini.

(Sebuah renungan untuk penulis pemula serta kawan lama;sudah waktunya kau angkat lagi penamu)

3 thoughts on “Kenangan

  1. ” ;sudah waktunya kau angkat lagi penamu ”

    nice statement. saya punsedang berusaha ‘mengangkat pena’ kembali. pun dengan sangat rajin berkunjung ke blog teman-teman. tetapi sepertinya mereka sudah ‘beralih’ ke media ‘mukabuku’ yaa

  2. menulis itu ibarat mencintai seseorang. karier menulis saya ibarat jatuh cinta pada seseorang yg selama ini kita benci, penuh kejutan, kadang sakit hati, kadang merindu. maka hanya pencinta sejati yg mampu mengambil intisari dan terus berjalan meski alurnya mendaki dan penuh duri

  3. kalo kita diskusi 3 hr 3 malam pun ok, tapi nulis, bener2 stuck di depan komp, untuk nulis komen ini aja butuh 10 menit, mikir gak selesai2 mau nulis apa, anyway butuh ilmu mas burjo untuk mengasah ketrampilan. Ajari teman2 lainnya krn sekarang bukan saat anda “menulis saja” namun waktunya anda menjadi “suhu” bagi mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s