Andai Obama Datang Di Tahun 45

Setiap manusia yang merasa terjajah pasti melawan. Kalau tidak, mungkin ia telah mati..

Pagi itu langit bulan November menurunkan hujan yang lain dari biasanya, jutaan kertas jatuh dari langit, menghujani Surabaya, bahkan mungkin terbawa angin hingga Sidoarjo, Gresik, bahkan Mojokerto dan Pasuruan. Kertas tersebut berisi sebuah “himbauan” yang ditandatangani Mayjen. Robert Mansergh, kepala pasukan gabungan Inggris-Belanda di Surabaya. Himbauannya berbunyi jelas, bahwa setiap warga pria Surabaya harus menyerah kepada balatentara Inggris, menyerahkan senjata, serta menyerahkan kota Surabaya kepada mereka. Membaca himbauan ini rakyat Surabaya tidak diam saja, mereka juga tidak menyambut hal tersebut dengan ucapan “Ahlan wa sahlan bi khudurikum” kepada balatentara Inggris. Rakyat Surabaya sontak berdiri, dengan penuh kesadaran tidak rela satu jengkal tanah mereka dikuasai penjajah. Para ulama ketika itu telah sadar bahwa melawan segala bentuk penjajahan adalah salah satu amal ibadah tertinggi, maka dikeluarkanlah Resolusi Jihad, dan muncullah ikrar bersama kaum muslimin “60 juta kaum muslimin siap berjihad fi sabilillah melawan tiap-tiap bentuk penjajahan”. Mendapat suntikan semangat seperti ini rakyat Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Madura, bahkan seluruh Jawa Timur sampai Ambon bergerak menghadang laju balatentara Inggris. Mereka membawa apapun mulai dari senapan, bambu runcing, pisau, bahkan cangkul. Disemangati oleh pidato bung Tomo yang berapi-api membuat niat mereka untuk ngoyak Inggris dan Belanda semakin kuat. Mereka meneriakkan takbir dan dengan semangat yang tinggi melawan dan menerjang hempasan peluru, mortir, tank, dan bombardemen tentara Inggris.

Inilah Pertempuran Surabaya yang terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pertempuran yang tercatat sebagai salah satu pertempuran terdahsyat paska Perang Dunia II. Pendaratan Normandia hingga Pertempuran One Square Mile In Hell di Atol Tarawa tidak ada apa-apanya. Pertempuran yang menjadi penyemangat bangsa-bangsa lain untuk tidak gentar melawan penjajah (salah satunya mengilhami orang-orang Vietnam ketika berperang dengan Prancis dan Amerika). Juga menjadi pembelajaran di sekolah-sekolah militer dunia tentang berbahayanya peperangan di dalam kota. Inilah juga pertempuran yang menggugah kembali ukhuwah Islamiyah yang sekian lama dikubur hidup-hidup oleh penjajah di negeri-negeri kaum muslimin. Dikisahkan bagaimana para serdadu muslim India yang menjadi unsur balatentara Inggris banyak yang melakukan desersi dan malah bergabung dengan pejuang ketika mendengar para pejuang mengumandangkan takbir dan mengusung bendera jihad/raya’ul uqab di setiap pertempuran.

Sejarah Berulang

Sejarah pasti berulang dan hanya keledai yang tidak mampu belajar dari sejarah. Penjajah kembali datang ketika sebagian besar anak-cucu para pejuang tersebut lengah. Ia datang tidak dengan bom dan peluru tapi dengan “bantuan” keuangan. Ia tidak datang dengan ultimatum dan ancaman tapi menggunakan senjata ekonomi dan hutang. Ia tidak datang dengan wajah bengis tapi wajah penuh senyuman tapi tetap menyimpan hati yang sama busuk dari pendahulunya.

Anehnya banyak anak bangsa ini yang telah mengidap penyakit lupa. Lupa akan jati diri, lupa akan identitasnya, bahkan lupa siapa sebenarnya diri mereka. Hari ini kita saksikan bagaimana gegap gempitanya bangsa ini menyambut (untuk kedua kalinya) Presiden negeri penjajah, Barack Obama. Berbagai alasan mereka kemukakan untuk mengesahkan penyambutan tersebut. Berbagai cibiran, sindiran, bahkan sampai hinaan mereka sampaikan kepada berbagai pihak yang menolak kedatangan Obama. Mereka telah lupa diri, padahal apa bedanya Obama dengan Cornelis De Houtman, JP Coen, Daendels, Van Mook, Mansergh, dan para petinggi kolonial yang dulu pernah menginjak-injak negeri ini.

Bukankah watak kolonialisme mereka tetap sama. Dulu Belanda melakukan tanam paksa, memonopoli rempah-rempah, hingga menguras habis hasil bumi untuk membangun bendungan di seantero negeri Belanda. Lalu apa bedanya itu semua dengan kontrak karya perusahaan pertambangan (Chevron, Exxon, Freeport, dsb), monopoli pendapatan di blok cepu, blok natuna, hingga freeport, sampai kisah pembangunan kembali New York dan San Fransisco dari hasil perampokan emas di Papua. Dulu Belanda melakukan pembodohan dan pemiskinan massal, lalu apa bedanya dengan di negeri ini. Sekolah yang semakin mahal, kesehatan yang makin tidak terjamin, hingga kebutuhan pokok yang semakin tak terjangkau akibat BBM yang naik (sebab BBMnya semua lari ke luar negeri disedot perusahaan multinasional) dan aneka kekayaan alam yang dirampok oleh negeri lain (wa bil khusus perusahaan-perusahaan Amerika). Dulu Belanda gemar memberi julukan ekstrimis dan memerangi setiap individu di negeri ini yang melawan penjajah. Lalu apa bedanya ketika Amerika melakukan War On Terrorism dan menjuluki teroris pada setiap individu yang melawan kebijakan penjajahan Amerika (khususnya umat Islam).

Maka sungguh aneh apabila bangsa ini gegap gempita menyambut kedatangan seorang penjajah. Entah mereka tidak paham sejarah (atau jangan-jangan masih keturunan kaki tangan penjajah), yang jelas kelakuan bangsa ini sungguh tidak mencerminkan apa yang dulu diperbuat kakek buyutnya ketika melawan penjajah. Bukankah dulu kakek buyut kita dengan tegas melawan setiap bentuk-bentuk penjajahan. Mereka tidak sudi bertemu tangan (menyerah atau bersahabat) dengan penjajah. Lebih tragis lagi apabila diantara yang menyambut Obama terselip kaum muslimin, padahal jelas Islam telah menggariskan untuk tegas terhadap segala bentuk penjajahan. Bahkan Islam sendiri lahir untuk menentang segala bentuk penjajahan.

Muslim Sejati Anti Penjajah-Pro Syariat

Di dalam kitab sirah pernah disampaikan bagaimana sebenarnya misi Islam. Dalam sebuah riwayat, salah seorang panglima muslim Ruba’i bin Amir berjumpa dengan komandan pasukan kerajaan Persia, Rustum. Di tengah suasana memanas menjelang pertempuran antara pasukan Daulah Islam dengan kerajaan Persia, kedua senopati tersebut saling berdialog. “Apa yang mendorong kalian datang kemari??”, demikian pertanyaan yang diajukan Rustum kepada Ruba’i bin Amir. Ruba’i bin Amir kemudian menjawab dengan tegas, “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”. Inilah misi utama datangnya Islam yang apabila dijabarkan menyangkut tiga hal.

Pertama, Islam jelas datang untuk melawan segala bentuk penjajahan. Bukankah penjajahan adalah kata lain untuk menggambarkan penyembahan kepada sesama manusia. Dulu mungkin berbentuk Firaun, Persia, dan Romawi, sedangkan hari ini diwakili oleh Amerika, NATO, IMF, korporasi-korporasi raksasa, dan segala elemen pendukungnya. Kedua, Islam datang untuk mensejahterakan manusia. Islam dan pemerintahan Islam atau Daulah Khilafah bukanlah entitas perampok sebagaimana negeri-negeri imperialis saat ini. Sejarah telah membuktikan bagaimana sebuah negeri apabila telah dibebaskan oleh pasukan Islam keadaannya lebih baik dibandingkan sebelumnya. Ini berbeda dengan kedatangan Amerika di Iraq atau bahkan di Indonesia yang bertujuan untuk mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan negeri tersebut. Sekedar ilustrasi, apabila ditemukan minyak di blok Cepu, maka minyak tersebut diperuntukkan bagi Amerika melalui Exxon Mobile bukan untuk rakyat Bojonegoro. Akan tetapi apabila yang keluar bukan minyak tapi lumpur, lumpur tersebut diberikan ke Indonesia khususnya rakyat Sidoarjo. Ketiga, jelas Islam datang dengan seperangkat aturan yang sangat manusiawi dan adil. Berbeda dengan Sosialisme yang lebih mengutamakan kaum proletar dan segelintir elit partai juga dengan Kapitalisme yang lebih menomorsatukan kaum pemilik modal alias korporat. Islam tidak membedakan orang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat jelata, bahkan muslim dengan orang kafir, semuanya sama dalam pelayanan dan di depan hukum syara’. “Pemerintahan dalam Islam adalah ketika rakyat jelata tidak takut mengingatkan penguasa yang dipandangnya dzalim”, kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam salah satu khotbahnya. Tinggal bagaimana kita-terutama yang mengaku beriman- mau benar-benar tunduk dan berjuang untuk menegakkan hukum Islam dan menggantikan segala ideologi yang menyengsarakan manusia saat ini.

Maka akhirnya jelas, apabila kita mengaku beriman kepada Allah Swt yang telah mengutus Rasulullah Muhammad saw dengan membawa dua sumber hukum Al Qur’an dan Sunnah maka sudah selayaknyalah bertindak sebagai muslim sejati. Seorang muslim yang mengemban misi Islam yaitu melawan segala bentuk penjajahan dan berjuang dengan sungguh-sungguh memperjuangkan tegaknya hukum Allah di muka kapanpun dan dimanapun kita berada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s