Write To Be Destiny

Menulis itu berat, maka jangan pernah mengaku menjadi penulis bila belum merasakan pahitnya menulis. Menulis itu butuh perjuangan keras, lebih-lebih menulis untuk mencerahkan dan mengarahkan manusia ke jalan kebenaran. Maka karena hal itu penulis mendapat pahala yang besar. Rasulullah mengatakan bahwa penulis yang mencerahkan layak mendapatkan pertolongan langsung dari Allah Swt sebagaimana para mujahid di medan perang. Syaikh Abu Laits as-Samarqandy dalam kitabnya “Tanbihul Ghafilin”, menyatakan bahwa pahala menulis akan terus mengalir selama tulisan orang tersebut dibaca oleh manusia walaupun penulisnya telah tiada.

Maka tidak semua orang layak mendapatkan predikat penulis sebelum ia merasakan pahitnya menulis. Ada sebagian orang yang merasa dirinya sebagai penulis padahal belum pernah menulis. Mereka dengan rajin bercuap-cuap di Twitter, setiap hari bahkan setiap menit selalu mengupdate status di Facebook, padahal ini semua belum menyentuh intisari kegiatan menulis. Karena mereka telah mengetik ratusan huruf, mereka menganggap itu sebagai menulis. Padahal menulis adalah mencerahkan manusia, menyadarkan tentang sesuatu yang salah, atau minimal membuat hati tergugah, bukan sekedar “sarapan pagi ini enak sekali, terima kasih my lovely”, “Ya Allah ujian fisikanya kok sulit banget ya..”, atau “Islam is my life, janji Allah semakin dekat..”, juga “Obama datang, Indonesia kembali terjajah. Tolak Obama, presiden negeri penjajah..”.

Adapula orang yang tidak pernah menulis tapi ingin menjadi penulis. Orang seperti ini lebih baik dari golongan pertama, minimal mereka ingin belajar. Mereka tidak gegabah dan mencukupkan diri hanya dengan menjadi anggota Twitter atau Facebooker. Mereka belajar, mengikuti berbagai pelatihan, membaca buku, bahkan berteman dengan para penulis. Mereka mencoba menulis dan terus menulis maka suatu saat mereka menjadi penulis hebat. Para penulis kebanyakan berawal dari golongan ini.

Tidak sedikit pula orang yang pernah menulis tapi tidak merasa sebagai penulis. Sebagian besar kaum muslimin (bahkan para pengemban dakwah) ada di golongan ini. Orang-orang ini pernah menulis atau minimal layak disebut penulis tapi tidak merasa sebagai penulis. Akibatnya mereka menganggap menulis hanyalah kerja sampingan, menulis hanyalah uslub dakwah yang kesekian. Maka bisa dipastikan sekarang ini jumlah penulis yang memperjuangkan Islam sangat minim dan kalah dengan para aktivis liberal. Padahal Islam itu, kata Assyahid Abdullah Azzam, diwarnai oleh dua warna, hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada’

Sedangkan yang terakhir adalah mereka yang menulis dan merasa jadi penulis. Mereka selalu menulis dan menulis. Orang-orang ini tidak terikat waktu, tempat, dan alat. Kapanpun, dimanapun, dan dengan apapun mereka bisa menghasilkan sebuah tulisan. Mereka selalu tidak puas dengan tulisannya, makanya mereka terus mengasahnya dengan banyak membaca literatur untuk menambah kedahsyatan goresan pena mereka. Bagi orang-orang ini menulis ibarat kebutuhan bukan sekedar keharusan apalagi kemauan. Mereka ibarat samurai berilmu tinggi yang mampu membunuh musuh tanpa pedang, karena pedangnya telah bersatu dengan alam semesta. Dibarengi dengan niat dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar membuat semangat mereka menyala-nyala. Semoga kita ada di golongan yang terakhir ini yang tidak hanya menyalakan api untuk generasi kita hari ini, tapi juga menghasilkan bara yang mampu membakar generasi anak cucu kita nanti.

(inspirasi dari tulisan ust. Arif B Iskandar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s