Golongan 99%

BPS baru saja merilis bahwa angka kemiskinan di Indonesia tahun 2011 mengalami penurunan sekitar 0, 13 juta jiwa. Mendengar angka ini diumumkan banyak pakar ekonomi dan sosial negeri ini yang sewot. Bahkan ust. Felix Siauw menulis di Facebooknya berupa komentar yang berbunyi “Betul banget udah pada mati yang miskin, ada yang bunuh diri, ada yang saling bunuh, ada yang kelaperan, ada yang ketabrak busway, ada yang ketimpa jembatan, ada yang ketabrak kereta api, ada yang meledka bersama tabung gas elpiji, dll”. Saya setuju ama pendapat ust. Felix barusan. Pendapat ini sekaligus melengkapi pendapat bu Hendri Saparini di televisi yang menyebut bahwa angka di atas adalah itung-itungan ngawur dan tidak berpijak pada fakta. Beliau menambahkan bahwa angka tersebut hanya berdasarkan pada para penganggur full time bukan berdasarkan fakta bahwa masih banyak orang yang memilki pekerjaan tapi penghasilannya jauh di bawah rata-rata. Angka ini pasti tambah melonjak kalau kita berpijak pada spanduk yang nongol di SPBU (emang apa hubungannya???). Bukankah kita sering membaca spanduk bertuliskan “BBM bersubsidi alias Premium hanya untuk golongan tidak mampu alias miskin”, membaca spanduk ini pasti banyak yang dalam hatinya ngumpat “j****k, aku dipadhakno wong kere”. Bagaimana gak ngumpat lha wong yang antri beli premium sangat banyak (termasuk yang nulis).

Maka singkat kata, singkat cerita jangan-jangan BPS memalsukan angka. Lalu apa sih ruginya menyebutkan dengan jujur bahwa memang rakyat negeri ini masih buanyak yang miskin. Bahwa negeri ini jalan mundur menuju ke arah kebangkrutan. Bahwa kita ini ibarat tikus yang mati di lumbung padi. Toh rakyat di negeri ini sudah paham semua bahwa mereka termasuk golongan 99%. Golongan yang penghasilannya cuma cukup buat makan. Golongan yang rumahnya disusupi bom bernama elpiji. Golongan yang kalau nyuri sandal jepit aja langsung divonis 5 tahun penjara. Golongan yang selalu dikibulin tiap 5 tahun sekali (pake kaos rombeng lagi). Golongan yang kalau alim dikit dituduh teroris. Golongan yang kalau cari kayu bakar di hutan dituduh illegal logging. Golongan yang nambang emas pake tampah di sungai full buaya dituduh bekingi tambang liar. Golongan yang kalau cari kerja ke luar negeri sampai mati gak ada yang peduli. Golongan yang kalau teriak ditembak kalau diam mati kelaparan. Ya, kita ini adalah rakyat kecil yaitu sebuah golongan yang agak riskan apabila meminta dan berharap apapun pada pemerintah. Maka saran saya pemerintah janganlah macam-macam dengan golongan ini, karena golongan ini menyandang nama Allah Swt.

Maka mengapa pemerintah harus ngibul sedemikian rupa. Toh, fakta telah membuktikan bahwa mayoritas rakyat negeri ini mulai dari para ahli ngelem di stasiun, para penghuni gerobak sampah, tukang ojek bersepeda, bapak-bapak pengguna motor yang terjebak macet jalanan kota, hingga mbak-mbak SPG pengguna bus kota adalah masuk golongan miskin. Jangan-jangan di mata pemerintah rakyat di negeri ini telah menjelma menjadi gajah yang joget pogo. Entah apapun alasannya, entah untuk menaikkan citra, atau sinta, atau bambang, yang pasti pemerintah telah abai dan salah urus dalam mensejahterahkan rakyat. Sekarang yang harusnya jadi perhatian pemerintah adalah jangan sampai golongan 99% ini semakin muak dan murka, karena kalau sampai itu terjadi jangan salahkan siapa-siapa bila nasib penguasa negeri ini berakhir seperti Khadafi, Ben Ali, atau si Hosni.

2 thoughts on “Golongan 99%

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s