Rp 50.000,00 (Lima Puluh Ribu Rupiah)

Pada suatu masa saya pernah terlibat obrolan dengan para blogger di kampus. Berawal dari seorang adik angkatan yang mengetengahkan tema “meraup rupiah melalui blog”. Mendengar kata rupiah sontak membuat telinga para mahasiswa yang emang dari sononya udah lambing semakin lancip. Obrolan pun membesar bak lagunya Sule alias bola salju, merasa tema obrolannya ditanggap orang adik angkatan saya tadi makin menjadi. Ia menjadi pembicara tunggal sekaligus moderator, ia menerangkan bahwa rupiah bisa diraup melalui blog dengan cara yang mudah, gak pake buka usaha jualan celdam online, atau jadi bandar judi buntut via internet, atau ngehackin ATM umum, atau melakukan penipuan via SMS, atau bikin program mirip si kriwil Zuckerberg dengan facebooknya, cukup diam, duduk, dan nulis dengan istiqomah. Salah seorang jamaah mengacungkan tangan mirip iklan obat pinter, “terus duitnya muncul darimana?”, karena udah bakatnya jadi sales adik angkatan tadi menerangkan bahwa ketika pengunjung blog kita semakin banyak, maka iklan akan antri masuk ke blog kita, dan ketika kita dengan rela hati memajang banner iklan di wajah blog kita maka mulai saat itu rupiah akan datang mendekati kita. Pada akhirnya dia memberi tips bahwa agar iklan masuk syaratnya adalah minimal blog kita dikunjungi 500 pengunjung. Maka bisa ditebak pemirsa sebagian besar peserta diskusi sore tersebut menumpahkan tangannya ke jidat masing-masing karena sebagian besar belum memiliki blog (boro-boro bikin blog, bayar kos-kosan aja ngutang), bahkan ada yang gak tau blog itu jenis makanan apa, dan kalaupun di antara para diskuser tadi udah memiliki blog rata-rata baru dikunjungi antara 4 sampai 50 orang saja (yang 4 orang pengunjungnya hanya keluarga di rumah sedang yang 50 paling-paling teman sekelas). Hanya dua orang yang sore tersebut tidak menabok jidatnya, bukan karena tak berjidat atau gara-gara di jidatnya tumbuh bisul sebesar bola pingpong, karena memang hanya dua orang tersebut yang blognya memenuhi syarat dan ketentuan di atas. Orang yang pertama dari tadi senyum-senyum sambil ngomong bahwa blognya telah dikunjungi 488 orang tinggal 12 orang untuk mencapai angka 500, pemirsa sudah bisa menebak siapa orang yang senyum-senyum tadi, yup tak lain dan tak bukan adalah adik angkatan saya yang tadi telah dengan gagah berani bertindak sebagai MC, moderator, pembicara, plus produser pelaksana dalam acara diskusi sore tersebut. Sedangkan orang berikutnya dari tadi diam di pojokan sehingga memunculkan banyak tanda tanya dan akhirnya melahirkan sebuah wawancara.

Moderator : mas gak tau apa itu blog??

Narasumber : Tau..

Moderator : Kok dari tadi diem aje? Emang situ punya blog?

Narasumber : Emang kalau punya saya harus pamer

Moderator : he..he..he..sori mas, emang blog mas udah dikunjungi berapa orang

Narasumber : (dengan enteng dan tanpa beban) 1500

Moderator : wicks buanyak bangettt, udah dipasangi iklan mas, potensial tu untuk menggali uang

Narasumber : gak perlu, saya gak berminat

Moderator : wah rugi banget mas, pengunjung sebanyak itu pasti yang pengen ngiklan di blog sampean pada antri

Narasumber : mas, niat saya ngeblog itu bukan buat itung-itungan ama pembuat iklan. saya niat bikin blog buat mencerahkan manusia, membangunkan kaum muslimin dari tidur panjangnya, dengan begitu saya gak peduli mau blog saya ditempati iklan atau gak, karena niat awal saya hanya mau itung-itungan ama Gusti Allah saja.

Ya, itulah jawaban orang kedua yang sore itu membuat banyak mulut menganga secara ikhlas mirip reptil purba bernama buaya. Terkesan idealis, tapi memang jawaban itu yang saya dengar dengan telinga kepala langsung. Tentu banyak pemirsa yang bertanya di manakah posisi saya sore itu, ah pemirsa semuanya pasti sudah bisa menebak jawabannya.

Apa sih indikator kesuksesan seorang blogger? Apakah hanya sampai pada dibukukannya blog tersebut? Begitulah pernyataan yang saya baca pada artikel di salah satu blog Kompasiana. Penulis seakan ingin menggugat kembali indikator kesuksesan seorang blogger. Memang selama ini indikator kesuksesan para blogger di tanah air adalah ketika blog mereka dicetak menjadi buku, contohnya mulai dari Raditya Dika, Trinity, bang Divan Semesta sampai blog Filosofi Burjo (walaupun yang terakhir bukunya masih seret laku). Ternyata menurut artikel tersebut ngeblog tidak hanya menghasilkan hal di atas tapi bisa lebih dari itu. Terbukti blogger tersebut mampu mendapat mobil, rumah, hingga jalan-jalan gratis keliling Asia dari aktivitas ngeblognya. Blogger tersebut memang tidak menghasilkan buku best seller, tetapi blognya beberapa kali memenangi lomba ngeblog. Ada pula blogger yang jadi jutawan mendadak karena blognya sejak awal didesain menjadi reklame iklan umum. Tentu apabila mendengar kata ‘rumah’, ‘mobil’, ‘jalan-jalan gratis’, atau ‘jutawan’, membuat motivasi menjadi berlipat-lipat mirip tikar. Tapi apakah hanya untuk itu kita membuat blog? Apakah hanya untuk tujuan tersebut kita bercapek-capek ria menulis?

Jujur apabila ditawari hal di atas saya tidak akan menolak, tapi saya selalu teringat diskusi pada sore itu. Mengingatnya membuat laki-laki ini kembali ke rumah asasinya. Membuat saya mengingat kembali apa tujuan saya membuat blog ini. Setidaknya ada dua tujuan mengapa saya membuat, bertahan, dan menjaga serta merawat baik-baik blog ini. Pertama, tujuan saya membuat blog hanya untuk menghordeni semangat menulis. Saya menulis, maka saya butuh media. Ketika banyak media membuat saya terbelenggu dan tidak mampu menampilkan diri secara apa adanya, saya selalu teringat nasehat bos Openmind Minimagz (yg udah lama tinggal di Davy Jones Locker), “Kuasai media, kalau tidak bisa ya udah buat media sendiri..beres urusan”. Maka lahirlah blog ini sebagai bagian dari hidup saya. Saya bisa belajar, merangkak, tertawa, romantis, berteriak, marah, hingga tersenyum bahkan diam membisu di blog ini. Ya, blog Filosofi Burjo hadir karena saya mem”butuh”kannya, bukan karena saya “harus” mengikuti lomba ini-itu, juga bukan karena saya “mau” pamer di depan calon mertua. Karena saya butuh maka saya sudah menganggap blog ini bagian dari hidup saya bersama aktivitas menulis yang beberapa tahun ini saya geluti.

Sedangkan alasan saya yang kedua adalah saya ingin membuat tanda di alam semesta. Begitulah salah satu pesan guru saya, Ust Faqih, yaitu jangan pernah meninggalkan dunia sebelum kita membuat tanda di alam semesta. Oleh karena itu saya menulis. Mungkin saya tidak mampu membuat buku berjilid-jilid sebagaimana Al Ghozali, Ibn Taimiyah, atau Ibn Hajar Al Asqolani. Saya mungkin juga tidak mampu menjadi penakluk pembebas negeri sebagaimana Kholid bin Walid, Sholahuddin, Al Fatih, Thoriq, atau para Walisongo. Saya mungkin tidak pernah mampu menghadirkan gunung dan samudra, tapi saya mencoba ambil bagian dalam urunan sebutir pasir yang membentuk gunung dan setetes air yang menjelma samudra. Maka blog ini dibuat tidak hanya memuat syair tentang dedaunan, gemerisik anging, rintik hujan, dan kabut tengah malam. Blog ini saya buat untuk mengabarkan tentang kabar saudara kita yang hidupnya tersia-sia, juga sebagai tamsil buruk bagi penguasa. Blog ini juga memuat masa lalu yang gemilang dan masa depan cerah yang akan segera menjelang. Ya, blog ini saya buat sebagai teman ingatan ketika kita bertafakkur di keheningan malam, penyemangat ketika berlari mengejar cita, pembangkit ketika kita lelah, dan sebagai penguat ketika tali tiang gantungan telah melilit di leher kita.

Inilah cita-cita yang ingin saya wujudkan ketika saya membuat blog ini. Terkesan idealis tapi semoga menjadi pengingat agar saya selalu istiqomah dalam cita ini. Terlihat sangat sulit bagi orang lain-apalagi di era saat ini yang semakin materialis-, tapi Insya Allah mudah bagi saya. Lalu bagaimana dengan ANDA???

(Persembahan bagi 50 ribu pengunjung Filosofi Burjo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s