Mabuk Bae

“Assalamualaikum..nama saya Slamet, lengkapnya Slamet Prawirodirjo. Pekerjaan saya ada dua, yang berprofit adalah sebagai penjual pentol plus asisten tukang tambal ban, sedangkan yang berpahala saya merangkap sebagai tukang bersih-bersih mushola kampung saya. Alamat terkadang saya tinggal di rumah warisan bapak saya tapi lebih sering tidur di mushola, ya semoga saya dapat masuk surga karena hati, pikiran, jiwa, dan raga saya terikat ama mushola. Dulunya saya penghuni komplek bank, maksudnya adalah saya tinggal di gang sempit dekat terminal bemo, yang kalau orang lewat sering bilang, “permisi bank..permisi bank…”, alias tinggal di pangkalan tukang mabuk. Saya dulu tukang mabuk alias mabuker merangkap preman cap cicak plus pengangguran. Terus terang menjadi pengangguran itu meresahkan ditambah menjadi preman plus tukang mabuk. Lebih-lebih menjadi tukang mabuk, saya merasakan banyak ruginya. Pertama, mabuk merugikan secara ekonomi. Pas uang saya banyak saya biasa memborong bir, arak beras, topi miring atau cap tikus, bila uang mulai menipis saya membeli spirtus campur alkohol 70%, bila uang mulai cekak, saya urunan membeli lem Aibon buat disedot bareng-bareng, bila uang mulai langka saya pergi ke sawah mencari bunga kecubung sebagai pengganti alkohol, dan karena sawah semakin langka di kota ini biasanya saya menyetop truk, berdiri di atas bak sambil mangap selebar-lebarnya, biasanya jarak 10 km saya sudah muntah-muntah dan hilang kesadaran. Ya, mabuk membuat bokek dan membuat orang jadi setengah gila bahkan gila. Kedua, mabuk merugikan diri sendiri. Ya, mabuk membuat badan saya rusak, liver saya bolong-bolong, bahkan bikin nafas ngos-ngosan walau hanya lari sejauh 10 meter. Selain itu mabuk membuat jati diri saya hilang, saya sering bikin malu, mulai dari balapan motor di kolam pancing, renang gaya bebas di got depan rumah, hingga menjadi terdakwa kasus pelecehan seksual karena menggoda kambing si Roni. Bahkan mabuk nyaris menghilangkan nyawa saya, saya nyaris terbakar hidup-hidup gara-gara pas mabuk saya menduduki kompor yang menyala karena menyangka kompor tersebut adalah roket dan saya sebagai astronot NASA yang mau terbang ke bulan. Ketiga, mabuk juga merugikan orang lain bahkan membahayakan nyawa. Perlu anda ketahui memang alkohol bisa menjernihkan suara tape recorder yang mbrebet tapi jangan sekali-kali mencoba memasukkan alkohol ke tenggorokan anda, karena bukan suara yang jernih yang akan keluar tapi suara sember dan bikin jengkel orang banyak. Saya pernah nyaris mati dipukuli massa gara-gara malam-malam menyanyikan lagu nasional dengan gaya underground menggunakan mik mushola, waktu itu saya sedang mabuk dan menyangka sedang mengikuti audisi Indonesian Idol. Orang mabuk itu berbahaya, kalau disuruh jadi sopir angkot pasti angkot ama penumpangnya dihancurin karena merasa jadi stuntman, disuruh jadi tukang sate malah bakar orang, disuruh jadi tambal ban malah ledakkin tabung kompresor, disuruh jadi tukang becak malah akrobat, disuruh jadi tukang sapu malah bergaya ala Harry Potter terjun naik sapu dari jembatan penyeberangan, untung gak disuruh jadi presiden bisa-bisa negeri ini dijual secara murah dan rakyatnya dijadikan budak atau jadi bahan bakar sabun. Ya, mabuk lebih berbahaya daripada rokok karena bisa membunuh langsung di tempat baik pelaku maupun orang di sekelilingnya. Maka wahai penguasa segera anda berantas pengangguran, juga segera berantas peredaran miras sampai ke akar-akarnya karena sudah tak terhitung orang yang dirugikan bahkan mati karena minuman keras. Atau kalau memang anda merasa tidak mampu  maka jangan larang orang untuk mengaji, jangan larang orang mau memperjuangkan Syariat Islam, dan jangan musuhi atau menyebut mereka teroris gara-gara pingin menegakkan Daulah Khilafah, karena hanya ini satu-satunya solusi memberantas kejahatan minuman keras. Atau jangan-jangan anda cuek karena telinga dan mulut anda sudah disumpal uang pengusaha mirasmaka kalau sudah begini jangan salahkan siapa-siapa  kalau suatu saat miras dijadikan minuman khas negeri ini, penguasa dan rakyatnya doyan mabuk, pembunuhan, kerusuhan, dan kekacauan terjadi di seluruh negeri, bahkan lagu kebangsaannya pasti diganti menjadi lagu dangdut koplo “Mabuk Bae”. Demikian dari saya sekian dan terima kasih Wassalamualaikum wr wb”

Mamat memegang perut dan mengusap matanya, karena bingung entah mau tertawa terbahak-bahak atau menangis haru ketika mendengar orasi lugu dari sahabat kentalnya si Slamet di arena Tabligh Akbar, tapi yang pasti Mamat setuju dengan Slamet, Ya segera berantas miras dan terapkan Syariat Islam dalam bingkai Daulah Khilafah, karena kalau tidak bisa-bisa generasi muslim di negeri ini lama-lama jadi generasi mabuk bae.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s