Malingnya Maling

Saya pernah menyaksikan sebuah hukum rimba dilaksanakan, seorang pemuda dibuat nyonyor mukanya. Dia sedang tidak dioperasi face off tapi sedang dihakimi massa. Setiap kali jawaban yang keluar dari mulutnya tidak memuaskan massa, maka sebuah bogem sebesar ketupat landing dengan mulus di mukanya. Seorang teman juga pernah berkisah tentang proses pengadilan massa yang mampir di kedua matanya. Tersangka didudukkan di sebuah kursi kemudian jempol kakinya dijepit dengan kaki meja dan seorang petugas sebesar kingkong nangkring dengan enteng di atasnya sambil merokok dan nanya-nanya kronologi kejadian. Para pembaca pasti sudah sering mendengar bagaimana nasib maling amatiran bila diadili di sidang jalanan tersebut dicukur, ditelanjangi, mukanya diface off, bahkan sampai dibakar dengan oli.

Maka bisa dipastikan banyak pemirsa yang kecewa ketika melihat tivi. Bagaimana sidang kasus korupsi berubah bak sinetron murahan yang tidak habis-habis episodenya sampai penontonnya bosan. Semuanya terdakwanya mirip anak TK yang tidak mau mengalah, saling tuduh saling lempar, saling sembunyi, dan saling cari perlindungan. Lihatlah kasus century, BLBI, hingga sidang Nazarudin tadi pagi yang menghadirkan Angelina Sondakh sebagai saksi. Semuanya tidak terungkap, samar, dan membingungkan masyarakat, dan biasanya berakhir “happy ending” terutama buat pelaku. Melihat kondisi ini pantas masyarakat termasuk saya geregetan. Di tengah kondisi yang semakin tidak menentu seperti saat ini tentu masyarakat ingin tau bagaimana akhir dari para maling kelas kakap tersebut. Jika wong cilik yang nyuri ayam, semangka, sandal, kotak infak harus rela berdarah-darah bahkan mati konyol maka masyarakat pasti setuju jika vonis buat maling duit triliunan tersebut dihukum mati, bahkan kalau perlu tanpa proses peradilan yang berbelit-belit.

Tapi harapan itu cuma berupa mimpi kosong. Kita semua sudah sama-sama tahu bahwa demokrasi melindungi penguasa dan orang kaya lalim sampai mati dan untuk rakyat kecil, mereka dihabisi dan dikebiri setelah ditipu mentah-mentah setiap lima tahun sekali dengan tajuk pesta demokrasi.

Selamat datang di era demokrasi kawan, tenanglah kau tidak akan membeli kucing dalam karung tapi seekor anjing yang setelah sekian lama kau pelihara ternyata dia cukup pintar mengigit pantat majikan sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s