Sambel Gosok

Sudah lama Mamat tidak berjumpa dengan sobat kentalnya, Rustam. Ini terjadi sejak Rustam mudik ke Timur Tengah buat mendalami ilmu agama Islam. Maka ketika malam itu Rustam muncul di depan pintu rumahnya, Mamat terperanjat dan langsung mengiyakan ajakan Rustam untuk jalan-jalan. Lagipula  sejak tadi pagi hingga dua hari ke depan Mamat sendirian di rumah karena istrinya, Iim dan Alif buah hatinya berkunjung ke desa ke rumah orang tuanya. Malam itu dua orang sobat kental tersebut mengunjungi tempat nongkrong favorit mereka, di mana lagi kalau bukan di warung kopi Simpang Empat Bulan Purnama milik bang Rokib. Tapi sesampainya di tempat kejadian perkara mereka kaget bukan alang-kepalang. Konsep warung kopi ala medan dan penjualnya tetap sama, tapi pembelinya membeludak buanget, selain itu nama warkopnya berganti menjadi warung kopi Kemana Kan Kucari Ganti.

“Assalamualaikum, Wuih rame sekali bang.”, sapa Mamat basa-basi pada bang Rokib. “Alaikumussalam, Oi kawan lama rupanya, udah lama kali kalian tak berkunjung ke warung abang nih, sampe pangling abang dibuatnya. Bagaimana udah besar anakmu Mat? Terus bagaimana studi kau Tam, udah jadi ulama kah kau nih?”, bang Rokib menyambut mereka dengan sambutan hangat khas Medan. Mereka bertiga saling berpelukan melepas rindu, belum sempat Mamat dan Rustam meneruskan pertanyaannya terkait suasana baru di warung bang Rokib, sang pemilik warung langsung menjawab seakan mengerti isi kepala kedua pelanggan setianya yang lama tak bersua tersebut. “Kalian tau sendirilah keadaan negeri ini makin tak menentu, berjalan mundur mirip mobil mogok di gunung. Orang mau ngomong tapi pemerintah, partai politik, anggota dewan, tivi, radio, ama koran tak berpihak pada orang kecil macam kita boi. Mau ngomong di masjid tapi kita malah dituduh bid’ah. Makin susahlah kita ini boi, maka inisiatif abang bikin warung warisan ini jadi tempat curhat, tempat orang boleh mengungkapkan apa saja terkait kesusahan akibat penguasa yang makin dzolim. Lumayanlah boi, walaupun abangmu ini gak ada potongan ustadz tapi di warung ini omongan abangmu ini didengarkan orang. Jadinya bak kayu bertemu api, mereka curhat abang kasih solusi, apalagi solusinya kalau bukan solusi Islam boi. Papan tulis kayu basah, di atas meja terdapat bunga, hidup di era kapitalis rakyat jadi susah, solusinya tegakkan segera Daulah Khilafah. Sepakat boi, makanya nama warung abang, abang ganti. Sekarang namanya Kemana Kan Kucari Ganti, filosofinya boi bahwa Khilafah itu tak tergantikan, tidak ada yang bisa menggantikan sistem warisan Nabi, tidak ada yang mampu menggantikan sistem buatan Allah, kalian tau hanya mereka yang mau disiram kopi panas malaikat Malik yang coba-coba mau gantikan sistem Ilahi boi. Waduh maaf, afwan jiddan boi, saking asiknya ngobrol sampai lupa abangmu ini suguhkan minuman.”, bang Rokib memukul jidatnya tanda khas kalau dia lupa “Hai boi suguhkan dua kopi susu spesial buat tamu istimewa abang nih”, teriaknya kemudian memecah warung memanggil punggawa warung kopinya agar segera menyuguhkan kopi buat Mamat dan Rustam. Mamat dan Rustam saling melempar senyum, mereka berdua paham kalau bang Rokib sudah menyebut “kopi susu spesial” berarti sajiannya dalah kopi susu plus martabak medan plus roti tissu gule kambing dan pabila mengeluarkan kata “tamu istimewa” itu berarti semua minuman dan camilan di warung tersebut bisa dinikmati secara cuma-cuma alias gratis.

Belum juga sajian utama datang, malah mas Juned, penjual bakmi keliling ngejogrok duluan di meja. Melihat mas Juned, Mamat sempat kaget dan menyangka bahwa warkop bang Rokib juga menyajikan roti Juned. “Bleh tobat, tobat barang-barang makin naik, jualan makin sulit, mau curhat malah dibilang bid’ah, kafir”, mas Juned bersungut-sungut mirip belalang sambil membanting handuk yang biasa ngendon di pundak ke meja tanpa perasaan. Tu handuk terkulai lemas di meja dengan pasrah dan menjelma menjadi martabak medan di mata Rustam dan Mamat yang sejak tadi menahan lapar. “Bah apaan kau Jun, datang tanpa salam langsung main banting-banting saja kau. Apa kau tidak kasihan pada dua tamu awak yang jadi kehilangan nafsu makan gara-gara kau sajikan handuk bekas daki kau di atas meja”, bang Rokib menyela sambil marah-marah. Melihat bang Rokib marah, mas Juned jadi mengkerut, juga membuat Rustam dan Mamat kembali ke alam nyata dan tidak jadi menyantap martabak handuk rasa keringat. “Maaf bang Rokib, bukannya mau bikin ribut di warung sampean, maaf juga mas Mamat dan mas Rustam saya gak bermaksud menghilangkan nafsu makan sampean. Saya ini kan wong cilik toh mas, bang, pemahaman agama saya juga sedikit. Kebetulan sore tadi waktu saya keliling ada yang manggil buat beli bakmi. Orangnya seumuran mas Mamat dan dia pesen lima bungkus bakmi. Karena orangnya mirip dengan gaya mas Mamat ya sambil menyiapkan bakmi saya ajak ngobrol, ya sekaligus curhat tentang masalah wong cilik yang nasibnya gak dipedulikan pemerintah. Hweladalah, bukannya dapat solusi tiba-tiba orang itu malah bilang “Stop apa yang ente bicarakan itu termasuk bid’ah, bid’ah yang terlarang. Ente itu ahli bid’ah karena merongrong ulil amri yang sah. Kufur ente, ane gak jadi beli karena tuh bakmi sekarang hukumnya jadi haram karena dimasak orang kafir”. Habis bilang gitu dia langsung ngacir ninggalin saya ama lima bungkus bakmi yang melongo. Nasib, nasib..gak tau mimpi apa tadi malem, baru jalan jualan udah dikafir-kafirkan orang. Tapi bener gak bahwa kalau kita ngerasani atau membicarakan pemerintah yang dzolim itu hukumnya haram bahkan bid’ah sampe kafir??”. “Jadi itu duduk persoalan kau Jun. Untunglah malam ini sudah hadir si Mamat dan Rustam yang akan membantu kau punya masalah.”, bang Rokib memberi solusi.

“Sebenarnya setiap muslim berhak untuk mengingatkan sesama saudaranya. Al Qur’an berkali-kali menyampaikan, bahwa hendaknya ada segolongan muslim yang melakukan amar ma’ruf nahy munkar, juga bahwa seorang muslim apabila melihat kemungkaran ia harus merubahnya dengan tangannya atau kekuasaan yang diamanatkan ke dia, atau dengan lisannya melalui hikmah, mau’idzotul khasanah atau ucapan yang baik, atau dengan berdebat wa jadilhum billati hiya al ahsan, dan atau kalau tidak bisa dengan hatinya alias membenci dan itu adalah selemah-lemahnya iman. Sedangkan Rasulullah Muhammad Saw yang mulia menyampaikan bahwa pemimpin para syuhada itu adalah Sayyidina Hamzah ibn Abdul Mutholib dan seseorang yang mendatangi pemimpin yang dzolim untuk mengingatkanya dan ia terbunuh. Jadi mas Jun sebenarnya mengingatkan siapapun yang melakukan kedzoliman itu adalah wajib dan tindakan mulia. Setiap muslim wajib melakukan amar ma’ruf nahy munkar lebih-lebih kepada seorang penguasa yang dzolim terhadap rakyat seperti saat ini”, terang Rustam yang kemudian menyeruput kopi susu jahe buatan bang Rokib. Mamat yang sedari tadi menyimak sembari mengudap martabak kemudian memberi tambahan, “Mas Jun kalau sampean membicarakan saudara muslim di belakang dia, kalau yang sampean bicarakan benar itu namanya ghibah dan itu dosa, kalau yang sampean bicarakan ternyata salah maka itu namanya fitnah dan itu lebih dosa lagi. Tapi kalau sampean melihat kemungkaran dan kedzoliman penguasa dan sampean mengingatkannya, atau membicarakan keburukannya, atau minimal membencinya, pahalanya sampean terbebas dari dosa, namun kata Rasullullah Saw, kalau sampean diam dan ridho maka sampean justru dapat dosa. Bahkan Kanjeng Nabi menambahkan bahwa siapa saja yang melihat kemungkaran terutama penguasa namun ia diam saja maka ia sama dengan setan bisu. Sekarang mas Jun pilih mana jadi temennya Sayyidina Hamzah atau setan bisu?”

“Ya mending jadi temennya Sayyidina Hamzah mas Mamat.”, jawab mas Jun dengan lugu. “Mas Jun gak usah sedih, sebenarnya mas Jun sudah benar, dakwah is never die mas. Ya udah biar mas gak tambah sedih tolong saya dibuatkan bakmi tiga mangkok, khusus saya yang pedes ya mas.”, Rustam mencoba menghibur.

“Ok, beres.” dan tidak menunggu lama tiga mangkok bakmi terhidang di meja. “Wuih sambelnya mantep mas Jun, boleh nambah gak?”, tanya Rustam sambil kepedesan. “Monggo mas Rustam, silahkan sesuka sampean.”, jawab mas Juned. “Beneran mas Jun, gak takut cabe mahal nih??”, sindir Rustam sambil menyendok sambel. Kapan lagi bisa makan sambel sesuka hati di era cabe mahal seperti ini. “Gak papa mas Rustam, lha wong sambelnya udah tak oplos ama balsem kok.” jawab mas Juned sambil meringis lugu. “wiks emang lidahku keseleo pake balsem segala.”, Rustam blingsatan karena udah makan sambel campur balsem. “Ah keterlaluan kali kau ini Jun. Ini namanya merugikan konsumen dan itu hukumnya dosa menurut agama. Kalau kau tak punya uang buat beli cabe, kau bilang ke aku, tuh di belakang warung aku punya seratus pohon cabe Thailand berbuah tiap hari, kau ambil gratis sesuka kau daripada meracuni sesama muslim dengan sambel campur balsem. Kau tau perbuatan kau ini sebelas dua belas dengan penguasa negeri ini.”, giliran bang Rokib menyemprot. Karena dimarahi habis-habisan oleh bang Rokib, mas Juned jadi pucat, mukanya pias, “maaf mas Rustam, maaf bang Rokib saya khilaf. Saya berjanji gak akan mengulangi lagi. Demi Allah saya tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi.”. Melihat hal tersebut Mamat jadi iba, sambil mengusap punggung mas Juned, Mamat mencoba menghibur “Iya kita semua tau mas Juned khilaf, kita semua memaafkan mas Juned kok. Tapi kalau menurut kacamata saya tindakan mas Juned itu sudah benar cuma salah dalam penempatan. Harusnya tu sambel gak boleh masuk ke mulut Rustam, tapi ke mulut para penguasa, karena kelihatnnya lidah mereka terindikasi keseleo karena sering banget menipu, menyakiti, serta membuat hati dan keadaan rakyat kecil seperti kita semakin susah. Ya semoga dengan sambel gosok campur balsem keseleo lidah para penguasa bisa disembuhkan.”

“wkwkwk..betul juga kau Mat.” bang Rokib tertawa sambil memegangi perutnya.

” ekh uf..ekh uf.”, Rustam menimpali dengan mengangguk-angguk karena mulutnya penuh bakmi

Sedang di antara mereka bertiga mas Juned nyengir tanpa dosa.

One thought on “Sambel Gosok

  1. assalamualaikum.wr.wbr..

    bang boy’s. crita yang inspiratif, menarik dan enak untuk di makan apalagi di tambah sambel rasa balsem. wiiiii..!! maknyos deh tulisannya, slaute!!

    selamat berkarya boy’s ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s