55.000 barel/detik

Banyak yang bertanya kepada saya bagaimana cara menulis yang baik. Banyak juga yang minta diberikan tips bagaimana menulis artikel atau cerpen. Tidak sedikit juga yang meminta resep bagaimana menulis sebuah buku. Dari berbagai pertanyaan, rengekan, hingga paksaan yang saya hadapi tadi saya jadi tahu bahwa banyak sekali orang yang ingin menjadi penulis secara instan. Banyak sekali yang merasa menjadi penulis cukup hanya dengan bekal semangat. Ada yang merasa dengan menulis “saya penulis buku bestseller” di pojokan buku motivasi atau poster yang tertempel di kamar maka sim salabim otomatis seseorang akan jadi penulis. Juga masih banyak yang berpikir dengan mengikuti training, workshop, atau pelatihan menulis sudah lebih dari cukup untuk membuat orang menjadi penulis. Padahal menulis atau menjadi penulis adalah sebuah proses yang terjalin satu sama lain dan sangat lama. Tidak hanya cukup dengan sekali duduk mendengarkan seorang mentor kita langsung bisa dan disebut penulis apalagi ditambah kata “jempolan”. Setidaknya ada tiga hal yang bisa saya bagi ketika kita memiliki semangat untuk menulis atau menjadi penulis, ya walaupun saya hanyalah penulis amatiran. Tiga hal inilah yang sebenarnya berpengaruh besar merubah saya yang sebelumnya benci banget menulis menjadi orang yang tergila-gila menulis.

Pertama, membaca. Membaca dan menulis adalah ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Kalau kita ingin menjadi penulis pertanyaannya sudah berapa buku yang kita baca. Bahkan untuk menulis satu buah artikel dibutuhkan kurang lebih 10 buku sebagai acuan. Saya sebelum menjadi penulis (bahkan saat masih benci menulis) sangat tergila-gila dengan kegiatan membaca. Buku apapun, tulisan berbentuk apapun (termasuk koran atau majalah bekas bungkus ikan asin) pasti saya baca. Lama-kelamaan ketika jutaan informasi, milyaran kosakata, hingga aneka bentuk gaya menulis berkelebat di kepala di saat itulah dengan terpaksa saya menggoreskan pena untuk pertama kalinya. Intinya kalau kita ingin menjadi penulis, jadikan dahulu diri kita sebagai pembaca.

Kedua, habit atau kebiasaan. Saya baru ngeh dengan bahasan ini ketika membaca buku “How To Master Your Habits”nya mas Felix Siauw. Ya, kita bisa menjadi ahli di bidang apapun tanpa mentor, training, motivasi, bahkan terkadang secara tidak sengaja. Ada orang jago mancing bahkan sejak kecil karena ia tinggal di pinggir tambak ikan. Saya punya murid putri dan berkerudung tapi jago banget berenang, setelah saya usut ternyata ia (sejak kecil) terbiasa mandi di sungai di Kalimantan sana. Bisa karena biasa, termasuk menulis. Suatu saat saya menemukan sebuah buku tulis dekil yang isinya membuat saya senyum-senyum sendiri, buku itu adalah buku yang dulu saya gunakan untuk melatih keterampilan menulis saya yang baru tumbuh. Saya menulis apapun, yang pasti begitu saya mendapat inspirasi pasti saya langsung menulis di buku tersebut. Abis lihat akhwat atau cewek berjilbab langsung menulis puisi, lihat perkelahian langsung nulis opini, dengar ceramah langsung bikin artikel, lihat film langsung bikin sinopsis dan menerangkan hikmah di balik cerita, saya juga (ketika itu) senang menuliskan entah kata-kata, slogan, atau pesan baik yang tertulis di buku, iklan, hingga poster film. Ya, buku itu saya jadikan sebagai latihan menulis, lama-lama akhirnya saya terbiasa menulis dan menulis menjadi kebiasaan dan sejak itu pula saya tidak bisa lagi meninggalkan aktivitas menulis.

Ketiga, butuh. Ya, jadikan menulis adalah kebutuhan, bukan sekedar keinginan, atau keharusan. Betapa banyak dari kita jago menulis puisi atau merangkai kata-kata indah ketika jatuh cinta, tapi keterampilan tersebut hilang ketika si dia berpaling ke lain hati. Mengapa? Karena kita menulis dibumbui rasa ingin, ingin menulis puisi agar si dia tertarik pada kita. Banyak mahasiswa yang jago bikin skripsi, skripsinya tebal, dan dapat nilai A, tapi mengapa begitu ia lulus menjadi sarjana tak sebiji buku pun yang mampu ia tulis. Karena ia menulis karena keharusan, ia harus menulis skripsi agar ia lulus. Maka menulislah karena kita butuh, orang yang butuh menulis akan terus menulis tak peduli apakah tulisannya dibaca orang atau tidak, dilirik penerbit apa tidak, membuat orang jatuh cinta atau malah bikin sebel, dikagumi orang atau diludahi, ia tidak peduli dan terus menulis, terus menulis, terus menulis.

Ya, itulah sedikit tips yang bisa saya bagi, sebuah tips yang sebenarnya masih saya gunakan untuk menyemangati diri ini agar terus menulis.

(Salam Damai Buat 55.000 pembaca Burjo)

5 thoughts on “55.000 barel/detik

  1. hehehe, sy sepakat dgn yg antum bilang. Persis, sy juga suka baca sejak kecil (bahkan tulisan2 label mainan pun sy baca) :p Bedanya, sy sih writting by request or by accident🙂 krn memang g brmimpi jd penulis meski seneng mbaca n nulis. anyway, smg Allah memudahkan sgl urusan antum khi. ojo lali, kampus 2012: membara!

  2. @pembelaislam, ya semoga antum bisa segera menjadi penulis. ingat khi Islam diwarnai oleh dua warna, hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada

  3. Wew, reply-nya cepet banget. OL n blogging rupanya salah satu “habit” antum🙂 mmm, begini, mujtahid itu pasti penulis, tp penulis blm tentu mujtahid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s