Rubbish Republic

104 tahun sudah kalau kita memakai Budi Utomo sebagai patokan atau hampir 107 tahun kalau kita berpatokan pada lahirnya Syarikat Islam, bangsa ini masuk dalam momen kebangkitan nasional. Prof. Dr. Ing Fahmi Amhar dalam tulisannya di majalah Al Waie, mengklasifikasikan alur kebangkitan sebuah bangsa. Bangsa level 1 adalah bangsa yang terbebas dan keluar dari nilai-nilai negatif serta menuju kepada hal-hal yang bersifat positif. Adapun bangsa level 2 adalah sebuah bangsa yang mampu menghasilkan sebuah sumber daya besar yang mampu menghidupi bangsa tersebut hingga di masa depan. Sedangkan bangsa level 3 adalah bangsa yang mampu mempengaruhi dunia. Masalahnya ketika kita berkaca muncul sebuah tanya, di usia setua itu sudah mencapai level mana bangsa ini?

Lihatlah betapa berminggu-minggu kita meratap-ratap ketika sebuah pesawat jatuh menabrak gunung. Bukannya berfikir jernih dan segera bangkit menghasilkan solusi. Padahal ketika Jepang disapu tsunami dan membuat sebuah reaktor nuklir meledak bak Chernobyl, di sana tak dijumpai berita yang menampilkan tumpukan mayat-mayat, lagu-lagu sedih yang menyayat hati, atau ucapan belasungkawa yang berbuih-buih, yang muncul justru senyum gembira, lagu-lagu gembira ala AKB48, hingga slogan-slogan penyemangat.  Lihatlah betapa ribuan caci-maki dilayangkan hanya gara-gara gagalnya konser Lady Gaga. Seakan-akan dengan kedatangannya serta merta bangsa ini langsung melejit menjadi bangsa yang berpengaruh di dunia. Kita terlalu jauh mendewakannya seakan-akan dia sosok sekelas Gutenberg atau Da Vinci yang memunculkan renaissance di Eropa. Padahal jadi atau tidak jadi, dia tidak akan mampu merubah hitam putih negeri ini yang tersohor dengan korupsi tingkat tinggi, pejabat yang tidak peduli, kemiskinan yang makin menjadi, hingga jutaan kekayaan yang dicuri. Lalu mengapa kita menyesal, kecewa, hingga melayangkan caci-maki toh kedatangannya tidak mampu sedikitpun merubah bopeng negeri ini, maka bukankah lebih baik kalau dia tidak datang sekalian.

Anehnya ketika banyak pihak yang tidak sadar akan kemunduran bangsa ini, banyak juga pihak yang keliru bahkan terbalik ketika merumuskan solusi kebangkitan bangsa. Ketika Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan oleh bom atom dan kota-kota besar di Jepang dibombardir secara massif oleh sekutu, kontan saat itu juga industri Jepang yang dibangun sejak Restorasi Meiji mati seketika. Jepang seakan-akan kembali ke masa Tokugawa, tapi itu tidak lama. Kedatangan SCAP atau pasukan sekutu yang bertugas membantu membangun kembali Jepang menjadi momen titik balik. Di antara pasukan tersebut terdapat Dr. W. Edwards Deming, pakar statistik Amerika dan penemu teori Kendali Mutu. Dari tokoh inilah pemerintah dan industrialis Jepang belajar membangun kembali negerinya dan membangkitkan kembali bangsanya. Jepang secara tepat memilih intelektual asing yang berguna bagi kebangkitan negerinya. Anehnya kita justru mengundang Irshad Manji, intelektual gadungan dengan ilmu yang tak berguna sama sekali (dengan kata lain sampah) bagi kebangkitan bangsa ini. Maka tidak salah kalau dikatakan bangsa ini sekarang menjelma menjadi bangsa yang statis, yang menjadi ladang pengaruh asing, tidak menghasilkan sumber daya apapun, dan semakin menuju ke arah yang negatif. Sadar ataupun tidak sadar, kita hari ini hidup di dalam rubbish republic alias republik omong kosong.

Di negeri ini ada kekuatan yang belum dimanfaatkan, itulah slogan yang dikeluarkan oleh perusahaan mie Jepang, Nissin memperingati 48 tahun berdirinya perusahaan tersebut dan sebagai penyemangat pasca bencana gempa dan tsunami serta disusul meledaknya reaktor nuklir di Fukushima. Slogan tersebut terpampang di samping gambar mural tokoh samurai Jepang, Miyamoto Musashi. Secara harfiah iklan itu bermakna saatnya bangkit dengan kekuatan lama kita, semangat bushido semangat para samurai nenek moyang kita. Bara itu, bara yang membangkitkan Jepang saat restorasi Meiji adalah semangat bushido. Setiap kebangkitan besar bangsa-bangsa di dunia selalu diawali dengan bara yang membakar mereka. China bangkit dengan bara konfusianisme. Jepang bangkit dengan bara konfusianisme ditambah semangat bushido. Eropa dan Amerika memasuki renaisans dengan bara liberalisme-sekuler yang menggusur doktrin-doktrin kuno gereja. Namun tidak ada yang menyamai kebangkitan bangsa Arab pada abad ke-6 yang bermula dari sosok besar bernama Muhammad dan membawa bara bernama Islam.

Apa yang dikerjakan oleh kaum muslimin selama beberapa puluh tahun menyamai pekerjaan orang-orang Yunani selama beberapa abad, komentar sejarahwan Phillip K. Hitti atas kecepatan dan kehebatan kaum muslimin dalam membangun peradaban. Dari kawasan yang ditinggalkan peradaban di tengah jazirah Arab, Islam membentangkan sayapnya dari pantai timur Atlantik hingga pesisir barat daya Pasifik, menaungi ribuan suku dan menyatukannya dengan bahasa Arab, memimpin dalam hal iptek, militer, serta keadilan dan kemakmuran selama berabad-abad, dan  pengaruhnya terasa hingga hari ini. Dimulai dari sebuah negara kota di Madinah pada masa Rasulullah Muhammad Saw tahun 1 hijriah, 100 tahun kemudian di era Khalifah Harun Ar-Rasyid apa yang disebut Daulah Islam wilayahnya telah membentang dari Maroko hingga perbatasan Tiongkok dan kemudian semakin lebar hingga menyentuh pegunungan Kaukasus di utara hingga Nusantara di timur. Menghasilkan jutaan intelektual besar puluhan abad sebelum renaisans Eropa. Pengaruh peradaban Islam terasa hingga hari ini mulai dari kopi, sabun, kabel, pesawat, komputer, hingga strategi perang di dunia. Maka tidak salah jika kita menyebut bahwa Islam adalah faktor terbesar kebangkitan di dunia.

Maka ketika hari ini kita menyaksikan bangsa ini semakin mundur, lalu apa salahnya bila kembali kepada Islam. Menjadikan Islam sebagai satu-satu solusi dan ideologi negara sebagaimana yang yang dilakukan oleh Rasulullah di Madinah pasti akan membuat bangsa ini bangkit. Tidak hanya sekedar bangkit dalam level nation state sebagaimana Jepang, China, atau Amerika tapi lebih dari itu, yaitu menyatukan negeri-negeri muslim lain dalam kesatuan Daulah Khilafah. Sebuah kebangkitan yang hakiki, kebangkitan yang akan melahirkan konsep negara yang Baldatun Thayyibatun wa Robbun Ghofurdan memancarkan cahaya Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Ya, ada kekuatan di negeri ini yang belum dimanfaatkan dan kekuatan itu bernama ISLAM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s