Kemriyeks

Dalam hidup seringkali kita terbelenggu oleh gejala generalisasi, menyimpulkan sesuatu dengan melihat fakta yang paling sering kita lihat. Contohnya, Kalau anda tiap hari tinggal di kos-kosan sempit di bantaran kali ciliwung Jakarta atau tinggal di gang senggol di kampung saya yang kemriyek atau tiap hari melintasi jalan Sudirman Jakarta di kala rush hour anda langsung ambil simpulan bahwa betapa sempitnya negeri ini. Tapi coba sekali waktu datanglah ke Nabire Papua atau nikmatilah pagi di Banggai Sulawesi atau bersantailah di lapangan kecamatan Purwoasri Kediri tepat pukul 12 malam pas malam jumat kliwon maka segala teori anda yang mengatakan bahwa gugusan pulau di Indonesia sudah tidak lagi mampu menampung lautan manusia akan terasa absurd.

Gagasan bahwa bumi semakin sempit inilah yang saat ini sedang gencar-gencarnya di kampanyekan di negeri ini. Selain mengakibatkan semakin sempitnya ruang, ledakan jumlah penduduk (katanya) juga mengkibatkan semakin susahnya lowongan pekerjaan dan semakin langkanya pasokan pangan. Padahal sebagaimana gagasan pertama yang mudah sekali dipatahkan, gagasan kedua dan ketiga ini dengan mudah pula dapat kita blejeti kelemahannya.

Mengenai sempitnya lapangan pekerjaan dan sekaligus kelangkaan pangan sebenarnya sangat jauh dan tidak nyambung apabila kita mengkambinghitamkan ledakan penduduk sebagai biang keroknya. Permasalahan semakin langkanya lapangan pekerjaan juga pangan lebih diakibatkan karena ketidakbecusan penguasa dalam mengelola ketiga bidang tersebut. Penduduk usia produktif hanya diarahkan ke sebagian kecil bidang pekerjaan saja (industri dan jasa). Sedangkan banyak bidang pekerjaan di negeri ini yang dianaktirikan, salah satunya adalah pertanian. Efeknya bisa kita lihat banyak penduduk usia produktif yang memilih melakukan urbanisasi dan akibatnya banyak lahan pertanian yang terbengkalai. Dari sinilah mulai muncul masalah ketiga yaitu kelangkaan bahan pangan. Jadi bahan pangan langka bukan karena lahan yang semakin menyempit atau tidak produktif tapi kurangnya perhatian penguasa di bidang pertanian. Masalah ini bertambah kompleks karena pendidikan di negeri ini yang hanya menghasilkan manusia bermental buruh. Para pelajar di negeri ini hanya diajarkan cara memperoleh nilai yang baik yang dibutuhkan oleh mereka agar dapat eksis di dunia industri. Sekali lagi hingga hari ini pendidikan di negeri ini diset agar alumninya menjadi pegawai bukan ilmuwan.

Dampak akhirnya semakin luas. Ketika ekonomi negeri ini (yang sejak lama hanya jadi pengekor) mulai ambruk akibat dampak krisis dunia. Maka sektor industri (yang pemainnya lebih banyak investor asing) pun dengan mudah akan goyah bahkan kolaps. Efeknya jutaan manusia yang selama ini bergantung pada bidang tersebut dengan mudah kehilangan pekerjaan. Terjadi ledakan pengangguran karena sejak awal akibat kesalahan pendidikan, manusia negeri ini tidak terbiasa menjadi manusia mandiri.

Indonesia atau bahkan dunia ini sebenarnya masih cukup (baca sangat) luas untuk menampung manusia, jauh lebih luas dibandingkan gerbong KRL Jakarta-Bogor di pagi hari. Maka cukup aneh bila kita percaya kampanye bahwa bumi semakin sempit karena ledakan jumlah penduduk. Singapura saja yang lahannya gak lebih luas dibandingkan Surabaya, yang tiap hari butuh pasir laut untuk memperluas wilayahnya, malah memberikan subsidi besar bagi ibu yang mau hamil dan melahirkan bayi, semakin sering maka semakin besar hadiahnya. Mereka tidak takut rakyatnya kelaparan walaupun di negerinya tidak ada sawah, ladang tebu ataupun peternakan burung unta. Mereka juga tak takut rakyatnya menganggur, karena lapangan pekerjaan dijamin oleh pemerintah dan ditambah mental rakyatnya yang sejak lama dididik untuk mandiri dan berdikari.

Maka jangan salahkan ibu mengandung, juga jangan pernah menyalahkan mengapa bapak tiap hari hanya memakai sarung. Apabila hari ini kita sebagai rakyat negeri ini sudah mulai merasa sumpek karena sulitnya lapangan pekerjaan dan semakin mahalnya bahan pangan, salahkan saja penguasa yang tidak becus mengurusi urusan rakyatnya.

So, bagi siapapun yang udah, mau, atau akan menikah jangan mau ditakut-takuti oleh hantu bernama “Ledakan Jumlah Penduduk”. Kalau udah nikah ya udah lakukan saja sering-sering, kita ramaikan malam jum’at kita, tanpa ragu, tanpa rasa was-was. Sebetulnya yang paling was-was adalah adalah para penguasa, mereka takut apabila semakin banyak manusia yang sadar betapa bobroknya sistem yang mengatur mereka maka bisa dipastikan kekuasaan para penguasa tersebut akan semakin terancam.

One thought on “Kemriyeks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s