Boikot

Gw yg dulu jelas berbeda ama gw yg sekarang, kata mas Divan di dalam salah satu tulisannya. Gw sepakat karena gw juga mengalaminya, salah satunya terkait masalah boikot-memboikot.
***
Ketika lagi ngobrol masalah Palestina yg sedang hangat, salah seorang murid gw yg namanya kembaran ama gurunya tiba-tiba nyahut, “ehm Nestle termasuk perusahaan pendukung Palestina…berarti Milo layak di boikot pak.”. Mendengar hal itu gw nyengir sambil tepok jidat teringat tiga bulanan yg lalu khilaf beli Milo sebungkus besar, juga teringat koleksi majalah National Geographic di perpus gw. Esoknya si Fajar (murid gw) kembali bikin ulah. Pas istirahat sebagaimana galibnya murid cowok yg sukanya nyomotin makanan atau minuman yg dibeli para murid cewek, tapi ia malah urung melakukan aksinya gara-gara di meja yg tersaji malah aqua dalam berbagai bentuk. “Waduh ngombene Danone kabeh pak“. Sambil senyum gw bilang “lek tuku gak oleh Jar, tapi lek njalok gak popo“. “oo..iyo lek njaluk gak onok pengaruhne” katanya sambil nyeruput aqua botolan milik temannya. Selang gak lama seorang murid cewek nyodorin sebotol Fruittea ke gw, temannya malah bilang “ati-ati pak, iku gak produke yahudi pisan ah“. Fajar langsung nyahut “wah lek iku produk lokal, gak onok hubungane ambek Israel, gak usah kuatir sampean terusno ngombene pak”. Sambil minum dalam hati gw bilang “sepakat…”.
***
Dulu gw menganggap boikot produk pendukung Israel adalah sesuatu yg “mubah”, ente mau melakukan monggo nggak ya silahkan. Namun sekarang gw menganggap boikot produk Israel adalah sesuatu yg “sunnah”, yg artinya kalau ente melakukan itu lebih baik, kalupun nggak ya gak papa. Toh sebenarnya kaum muslimin d negeri ini baik yg tergerak maupun yg nggak tergerak melihat penderitaan bangsa Palestina sudah sangat bisa untuk nggak nggunain produk pendukung Isreal.

Selain kisah sebungkus Milo ama National Geographic di atas gw udah lama gak make lagi produk pendukung Israel. Kalaupun pas lebaran kemarin kulkas gw penuh ama produk Coca Cola, semua-muanya pemberian orang. Gw juga gak pernah beli aqua atau ades yg harganya lebih mahal dibandingin produk air kemasan yg lain. Mcd juga gak pernah lagi gw kunjungi apalagi starbuck yg harga kopi segelasnya 50 ribu. Gw juga udah gak ngasih kontribusi ke Israel via film yg gw tonton di bioskop. Gw tetep suka nonton film, tapi gw gak make aksi boikot tapi lebih hebat daripada itu, yaitu membajak. Sedangkan masalah hp, sejak pertama gw punya hp sampe sekarang tak ada satupun hp gw yg bermerk nokia.

Dari sinilah gw ambil kesimpulan bahwa memboikot produk pendukung Israel, memboikot produk madaniyah yg selama ini ditengarai mendukung negara rasis tersebut adalah “sunnah”. Karena kaum muslimin di negeri ini baik yg sadar maupun yg belum sadar atas penderitaan Palestina udah bisa dipastikan mampu hidup tanpa produk-produk di atas. Mereka lebih pasti milih teh sosro atau teh kotak dibandingin coca cola, aqua, atau ades. Daripada ngabisin 50 ribu buat segelas kopi di starbuck lebih baik ngopi di warkop atau yg lemah iman lebih milih warkop pangku yg harga segelas kopinya sama tapi dapat fasilitas plus-plus. Juga sejak serbuan hp murah dari Cina, remaja negeri ini lebih memilih hp berngaran song seng atau khong guan dibandingkan nokia. Bahkan terkait produk IT semisal prosesor atau software komputer yg dulu kelihatan sulit banget klo diboikot sekarang justru kita malah membajaknya, sebuah perlawanan lain yg lebih keras dibandingkan sekedar memboikot. Maka sangat jelas bahwa urusan memboikot produk madaniyah atau produk hasil industri atau hasil temuan iptek, kaum muslimin baik yg sadar maupun yg belum sadar sudah sangat bisa.

Masalahnya kita baik yg sadar ataupun yg belum lupa ada yg lebih layak untuk diboikot. Boikot yg hukumnya “wajib ain”. Ada sesuatu yg selama ini menjaga eksistensi Israel dan kita dapat memboikotnya namun kita lupa. Sesuatu itu adalah hadharah atau produk hukum atau ideologi yg selama berkontribusi menjaga kelangsungan Israel. Kita bisa 100% memboikot produk Israel tapi selama ekonomi dunia masih berkiblat pada kapitalisme, Israel tetap akan bernafas. Kita bisa 100% memboikot produk Israel tapi selama masih percaya demokrasi yg hanya melahirkan penguasa banci dan pembebek, Israel masih tetap akan tertawa melanjutkan penjajahan. Kita bisa 100% memboikot produk Israel tapi selama masih hidup di dalam sistem sekuler dimana Syariat Islam dianggap melanggar HAM dan Jihad berkonotasi jahat maka jangan mimpi Israel hilang dari muka bumi. Kita bisa 100% bahkan 1000% memboikot produk Israel tapi selama kekeuh dg nasionalisme yg membuat kaum muslimin terpecah lebih dari 50 negara yg lemah, terjajah, dan mudah di adu domba maka jangan mimpi Israel akan gulung tikar. Yang ada dia (Israel) makin tertawa lebar menertawakan ketololan kita yg tidak mampu melihat permasalahan utamanya, apalagi memberi jawaban yg benar atas masalah Palestina.

Maka seruan boikot produk pendukung Israel harus kita barengi dengan boikot seluruh isme-isme yg selama ini menjadi penyebab Israel ada di dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s