Prolog yang jadi Epilog

Jadi penulis itu susah. Mengawali menulis apalagi. Namun lebih sulit menjadi penulis yang istiqomah, malah lebih mudah menjadi penulis bestseller. Gw contohnya, udah berminggu-minggu bengong di depan laptop gak atau apa yg mau ditulis. Kebetulan gw bikin zine yg semua pembaca udah tahu namanya. Burjo, ya itulah nama zine gw. Burjo memang menjadi salah satu saluran gw untuk membeberkan segala keluh kesah gw, juga menyebarkan segala pemikiran yg mengendap di otak gw. Sebenarnya Burjo pernah lama gw tidurkan, nyaris dua tahunan ia tidak terbit. Alasannya sepele, karena desainnya ancur. Setelah gw belajar CorelDraw, wajah Burjo sekarang udah mendingan. Tapi tetep aja ada yg sirik, bahkan sampe ada yg bilang Burjo majalah doktrinasi, padahal memang iya hehehe.

Pembaca semua tau kan bahwa siapa yg menguasai media udah pasti ia dengan mudah menguasai masyarakat. Sekarang 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, 4 minggu dalam sebulan, dan 12 bulan dalam setahun kita terus menerus dicekoki berbagai berita, opini, hingga fitnah dari berbagai media mulai tivi hingga koran. Kita lebih hapal beritanya Eyang Subur dibandingkan kabar saudara kita di Syam hingga Rohingya. Kita lebih nyetel pertandingan Liga Champion dibandingkan revolusi yg tengah bergerak mengubah wajah bumi. File di otak kita udah berjejal aneka berita sampah;polling X-Factor, eyang Subur, korupsi daging sapi, geng motor, hingga aneka tipuan demokrasi dan fitnah terorisme. Maka gak salah kalau gw ingin mendobrak semua hal tersebut. Gw ingin menyajikan hal yg berbeda, gw dan Burjo ingin membuka mata masyarakat agar mau berubah, berubah dengan Islam dan inilah yg membuat gw sakit.

Sakit menahan segala hujatan, sindiran, hingga rantai yg semakin lama semakin membelenggu gw agar gw berhenti. Juga sakit menahan bara Islam yg gw genggam erat-erat di tangan gw. Jadi idealis di tengah kepungan para kompromis sepertih saat ini itu pedih jenderal!! Gw sadar dalam salah satu perjalanan hidup gw, gw pernah hampir desersi. Gw nyadar ada ratusan sahabat gw yg memilih berhenti. Gw sadar sesadar sadarnya bahwa perjalanan masih panjang, cita-cita gw masih melangit. Ya, cita-cita gw adalah ingin melihat Islam gak hanya muncul di masjid dan mushola doang, gak hanya muncul pas romadhon dan lebaran aja, juga gak ingin kaum muslimin hanya sekedar kumpulan orang yg kebetulan KTPnya bertuliskan Islam. Akhirnya, Burjo itu hanya sekedar camilan yg menemani perjalanan panjang ini yg semoga tujuannya semakin dekat, semakin terlihat.

(Sambil menunggu Burjo 15 matang, gw persembahkan Burjo edisi 14; Silahkan Download sepuasnya…!!!!)

One thought on “Prolog yang jadi Epilog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s