Perlawanan

Hari ini sebuah undangan tersemat di dinding Facebook saya. Dari seorang sahabat yang wajahnya hingga kini pun tidak saya ketahui. Pantesan pesenan tulisan saya gak pernah dia selesaikan, lha wong sibuk nyiapin pernikahan. Kenapa gak bilang-bilang, biar saya gak bikin tagihan, minimal saya bisa bantu-bantu hehehe minimal nyumbangin suara, suara yang serak-serak kering. Saya kalau nyanyi “Barakallahu” sebenarnya gak jauh-jauh amat ama Maher Zain, ya sejauh Bogor-Finlandia dan ditempuh dengan jalan kaki.

264571_1697054916650_1546193757_31257045_8247681_n

Ingat nikah saya jadi ingat Openmind, ingat Openmind saya jadi ingat diri sendiri karena mengalami hal yang sama dengan apa yang ditulis ama Openmind. Kata Openmind, orang nikah itu mirip orang kebelet BAB. Gak peduli di samping WC canggih made in Jepang, di pinggir kali Bengawan Solo pas lagi meluap, di dalam pesawat ulang-alik, di warung kopi, di dalam bioskop, di KRL Jakarta-Bogor pas padat penumpang, di padang sahara, di puncak Himalaya, atau di kutub utara (gak bayangin istinja’ pake es batu) bahkan di tengah kebun singkong tetangga, kalau udah kebelet ya langsung direct action.

Maka gak peduli daging sapi naik gila-gilaan, gak peduli bawang putih ama merah sepakat menghilang, gak peduli beras and the gangs harganya bikin sakit hati, gak peduli tahu tempe juga ikut menaikkan harga dirinya, kalau udah pengen nikah ya nikah aja. Untungnya temen saya itu bukan pegawai negeri. Lebih untung dia tidak dan bukan termasuk warga negara Amerika Serikat yg beberapa hari lalu merumahkan ribuan PNSnya. Jadinya dia enjoy aja calling KUD eh salah KUA terdekat buat booking penghulu.

Untungnya temen saya tersebut sadar, nggak kayak penguasa negeri ini yg gak sadar-sadar bahwa sebenarnya Amerika itu lemah. Amerika udah di ambang ajal, kok masih demen jadi jongosnya. Saya jadi ingat sebuah kisah tentang proses penjinakan aktivis-aktivis Islam. Mereka para aktivis Islam dari negeri-negeri muslim biasanya diundang dan diajak jalan-jalan ke Amerika secara gratis. Ditunjukkan kemakmuran dan ketertiban Amerika dan cara ini biasanya berhasil. Efeknya paska acara cuci otak tersebut para aktivis yg sebelumnya kritis terhadap Amerika, otaknya langsung mampet bak selokan depan rumah, kekritisannya langsung lenyap bak dompet ketinggalan di terminal.

Namun menurut sahibul hikayat konon hanya mereka yg berhati lurus dan berpikiran jernih saja yg mampu melewati jebakan Amerika tersebut. Salah satunya adalah atasan saya di tempat kerja. Kebetulan beliau adalah salah satu aktivis Islam di negeri ini, maka ia pun sejak lama jadi inceran Amerika. Diundanglah beliau jalan-jalan ke Amerika beberap hari. Anehnya sepulang dari sono, pemikiran tetep lurus-lurus aja, kekritisannya tetep lempeng aja. Maka pusing-pusinglah Amerika. Diutuslah utusan dari Kedubes Amerika di Jakarta untuk menemui beliau, minimal tanggapan dari beliau tentang kondisi di Amerika sana.

“Saya telah melihat kemakmuran di negeri anda, tapi itu semua adalah kebijakan dalam negeri anda. Dan kebijakan luar negeri anda terutama kepada negeri-negeri muslim, seperti pembelaan anda terhadap Israel, kebijakan anda di Iraq dan Afghanistan tetaplah sama, yaitu kebijakan perang. Dan karena itu semualah saya akan tetap kritis bahkan melawan terhadap anda.”, ya begitulah tanggapan bos saya yg langsung membungkam sang utusan tadi.

Ya, bagi bos saya tersebut seorang preman tetaplah preman, walaupun di rumah ia jadi nglunuk karena ia anggota ISTI dan tiap hari dapat sarapan omelan-omelan dari istrinya. Karena orang dan masyarakat melihat dan menilainya dari kelakuan dia yg tiap hari memalak, menjambret, mencopet, mabuk, bahkan mukuli orang di terminal. Dan preman itu sekarang sedang pusing tujuh keliling karena tiap hari diomeli istrinya karena uang belanja yg makin terdegradasi. Maka ia gunakan segala cara, segala ilmu kejahatannya ia keluarkan semuanya. Ia makin intens memalaki warga terminal. Dan “mereka yang marah akan mudah kalah” kata Tsun Zu. Maka ngapain kita takut ama preman terminal, udah pukulin aja rame-rame bahkan kalau bisa bakar aja sekalian.

Amerika sekarang sedang sempoyongan. Ekonominya semakin ambruk. Baru-baru saja ribuan PNSnya dirumahkan. pantesan aja kemarin gak jadi nyerbu Suriah. Takut bangkrut rupanya dia. Maka mulai detik ini jangan takut kita pada Amerika. Jangan takut menyerang tentara Amerika dimanapun ia berada. Jangan takut membuatnya bangkrut dengan tidak menyokong segala bentuk perekonomiannya. Jangan takut memukulnya dengan tidak lagi percaya dan membuang segala bentuk jebakan Amerika seperti demokrasi, HAM, nasionalisme, liberalisme, sekulerisme, feminisme dan segala isme-isme yg selama ini menyokong segala kejahatan Amerika. Dan itu adalah perlawanan, entah dengan batu, peluru, ide atau minimal penolakan kita.

Oya, kembali ke topik di awal. Sebenarnya pernikahan itu juga sebentuk kecil perlawanan juga. Sebuah perlawanan terhadap sistem yg mendewakan zina. Perlawanan pada keadaan yg semakin tidak menentu, karena penguasa kerjanya tidur melulu. Riskan sekali saat ini mengharapkan kebahagiaan dari penguasa, maka ya sudah kita ciptakan kebahagiaan kita sendiri. Faktanya bayi-bayi tak pernah berhenti dilahirkan di Jalur Gaza, padahal keadaan di sana lebih memprihatinkan dibandingkan negeri ini. Kok lama-lama saya merasa tulisan saya makin ngelantur nih, o iya saya ingat, bukankah malam ini adalah malam jumat hehehe

One thought on “Perlawanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s