Untukmu Guruku

Guruku

..hanya mengambil apa yang kuberi, namun memberi apa-apa yang tidak dapat aku ambil…

Siang itu saya menangis, air mata saya berlelehan membasahi pipi. Bukan disebabkan oleh geraham saya yang sejak beberapa pekan ini rutin memunculkan rasa nyeri. Juga bukan karena perut yang berunjukrasa minta diisi, karena faktanya saya baru saja menamatkan makan siang.

Siang itu di sebuah aula kampus yang pernah jadi almamater penyair Taufiq Ismail, saya terisak. Air mata saya berlelehan membasahi pipi. Saya menangis ketika murid-murid saya bersenandung menyanyikan sebuah lagu

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Dalam isak tangis berkelebat bayang-bayang wajah-wajah guru-guru saya di pelosok Sidoarjo sana. Berkelebat wajah-wajah guru MI saya di MI Hasanuddin, wajah alm. pak Soim, pak Hasan, pak Haris, bude Maisaroh, bu Farikhah, bu Khumairoh. Berkelebat wajah guru-guru saya di SLTPN 1 Gedangan, wajah bu Ida, wajah pak Muyanto, dan guru-guru yang lainnya. Berkelebat juga wajah guru-guru di SMAN 1 Gedangan, wajah pak Awwalim, bu Retno, bu Marni, bu Sri Muli’ah, bu Sri Lestari, abah Sartono, serta guru-guru yang lainnya.Berkelebat juga wajah-wajah dosen saya di kampus Unesa, wajah pembimbing skripsi saya alm. pak Adi, wajah pak Samsul Shodiq, wajah pak Jack Parmin, alm. pak Suyono, juga dosen-dosen yang lain.

Dalam isak tangis berkelebat wajah guru-guru ngaji saya. Berkelebat wajah cak Yaqin juga wajah cak Romin dua guru ngaji yang mengajari saya membaca Al Qur’an. Berkelebat wajah alm. abah Husni, berkelebat suasana majelis ilmunya yang membahas kitab Nashoihul Ibad. Berkelebat wajah cak Badrul Munir dan suasana pondok pesantrennya. Berkelebat wajah ust. Fakhruddin, berkelebat kajiannya di serambi masjid kampung saya. Juga wajah-wajah para ustad-ustadzah yang mengajar saya Qiraati.

Dalam isak tangis berkelebat pula wajah-wajah musyrif saya. Wajah mas Fauzi, kakak kelas saya di kampus sekaligus musyrif pertama saya. Berkelebat wajah pak Qotadah, senyumannya, ide-idenya, berkelebat suasana halaqahnya. Berkelebat wajah bang Azri, kisahnya tentang tsunami Aceh, serta ajakan memancing dan nasi lemak buatannya yang tidak pernah saya tolak. Berkelebat pula wajah ust. Nuruddin, ust. Faqih, pak Fajar, juga pak Salim.

Dalam isak tangis, berkelebat wajah-wajah manusia mulia yang membentuk diri saya. Berkelebat wajah-wajah manusia mulia yang mengukir dan mengarahkan serta membentuk sosok diri, sosok seorang Nur Fajarudin, yang pagi ini di sebuah kamar asrama di pelosok kota Bogor menuliskan risalah ini. Dalam isak tangis saya persembahkan hormat saya yang sedalam-dalamnya atas jasa-jasa mereka.

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Saya menangis dan dalam isak tangis terbayang wajah-wajah guru di negeri ini. Wajah mereka yang setiap pagi berjibaku di jalanan kota Surabaya dan Sidoarjo, di angkot-angkot kota Bogor, di KRL Jabodetabek untuk melakukan transfer ilmu di sekolah-sekolah. Wajah guru-guru ngaji di gang-gang perkotaan, di pelosok-pelosok kampung, para pelopor pembawa panji akhlakul karimah dan amar ma’ruf nahi munkar.

Saya menangis, menangisi nasib pendidikan di negeri ini yang berjalan mundur. Generasi yang semakin menjauhi ilmu. Saya menangis, menangisi semakin rusaknya moral bangsa ini. Tentu bukan para guru yang layak dijadikan kambing hitam. Karena saya yakin bahwa mereka adalah para pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang pembawa pelita di tengah-tengah badai penuh kegelapan yang melanda negeri ini.

Saya menangis, saya terisak mengapa hanya bisa menangis, kenapa hanya bisa terisak meratapi gerhana yang tengah melanda. Bukankah di tangan saya tergenggam geretan dan sumbu yang siap meledakkan perubahan di negeri ini.

One thought on “Untukmu Guruku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s