Buah

1470161_10201745099247136_1060086630_nSejak sebelum berkeluarga saya menyukai buku-buku parenting. Saya percaya “Bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” atau seorang anak adalah cetak biru dari orang tuanya. Keyakinan ini semakin bertumpuk sejak saya menjadi guru. Guru yg paling berpengaruh bagi seorang anak bukanlah guru di sekolah, sekolah (apalagi model sekolah di negeri ini pada umumnya) hanyalah lembaga yg mengatur cara belajar serta mencetak ijazah bahwa anak yg bersangkutan telah menyelesaikan pelajaran-pelajaran yg telah ditentukan oleh sekolah atau lembaga pendidikan tersebut. Semua unsur kehidupan anak tersebut (IQ, EQ, SQ, dsb) dan kepribadian anak sebenarnya adalah irisan dari orang tuanya. Di lapangan sering saya menemukan anak yg bersekolah di sekolah yg elite dan disiplin tapi (maaf) anaknya bodohnya minta ampun dan susah banget diatur, yg salah bukan sekolahnya tapi karena memang anak tersebut tidak pernah mendapat stimulus untuk mencintai ilmu dan kedisiplinan oleh orang tuanya. Ada anak yg dididik di pondok pesantren dg harapan menjadi ulama, tapi (sekali lagi maaf) malah jadi garong. Karena memang di rumah ia dididik oleh orang tuanya dg gaya preman. Dulu banyak siswa-siswa saya yg merokok, sebab utamanya (ternyata) biasanya karena bapaknya merokok.

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, oleh karena itu peran utama orang tua sangat penting dalam membentuk kepribadian anak juga termasuk kecerdasannya. Maka bahkan seandainya seorang anak tidak bersekolah di sekolah formal, namun di rumah ia mendapat asupan gizi ilmu yg cukup dari orang tuanya, saya yakin ia mampu menyaingi mereka-mereka yg sekolah di sekolah formal. Apalagi mereka yg mendapatkan pendidikan yg baik dari sekolahnya plus asupan ilmu dari orang tuanya, maka bisa dipastikan anak tersebut menjadi anak yg menonjol.

Setiap membaca kisah-kisah di buku parenting, saya selalu terkesan dan ingin mempraktekkannya pada anak-anak saya di rumah. Saya terkesan dg kisah anak-anak H.Agus Salim yg bahkan masih berusia sekitar 5-7 tahunan namun sangat menguasai bahasa Inggris. Resepnya mudah, H.Agus Salim sekeluarga membiasakan berbicara dg anak-anaknya menggunakan bahasa Inggris. “Apakah Anda pernah mendengar tentang sekolah tempat kuda belajar meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya, meringkik dalam bahasa Inggris dan putra saya Islam juga meringkik dalam bahasa Inggris.”, kata beliau kepada seorang wartawan. Juga kisah bagaimana HAMKA dan HOS Cokroaminoto mendidik anak-anak mereka. Jauh sebelum sekolah formal diterapkan, di era ketika mereka menjadi musuh rezim penjajah. Mereka yg sekarang dikenal sebagai founding father negeri ini “masih” mampu menyisihkan hidupnya untuk mendidik anak-anaknya.

Dan hari ini ketika saya mengajar di Insantama Bogor, Alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk berjumpa dg putra-putri para tokoh pergerakan Islam di negeri ini. Irisan ust. Ismail Yusanto dan bu Zulia Ilmawati nampak jelas pada diri putranya, Azzam yg memiliki aura singa podium yg muncul ketika suatu kali membaca puisi untuk adik-adik kelasnya. Ada Fatih Nasrullah putra ust. Adhi Maretnas yg tulisan-tulisan di blognya saat ini mengguncang UIN Sunan Kalijaga. Juga beberapa anak-anak yg lain yg terkesan menonjol karena didikan orang tuanya yg sangat baik di rumah.

Maka ketika saya pulang ke rumah dan bercengkrama dg Dzulfiqar, putra saya, dalam hati saya bertanya,”Apa yg kira-kira bisa saya berikan untuk dia.”. Dalam banyak hal saya mencoba menyelami kepribadiannya. Dalam beberapa hal dia mirip umminya, terutama soal tidak pilih-pilih makanan. Namun sifat ngeyelnya ketika meminta sesuatu kelihatan merupakan turunan bapaknya. Hari-hari ini ia suka menonton video BBC Earth dari laptop, juga iklan Airbus. Dzulfiqar juga menggemari musik, ia suka menggoyang-goyangkan badannya, bertepuk tangan ketika mendengar lantunan sholawat atau ketika menonton video Opick atau Hadad Alwi. ia suka jalan-jalan, saya berharap suatu saat ia menjadi traveler yg lebih hebat dibandingkan saya. Dzulfiqar juga tertarik pada beladiri, nonton latihan Thifan sambil senyum-senyum juga ndomblong nonton video peragaan Aikido. Ia pencerita yg baik walau belum bisa ngomong. Pas pulang ke Sidoarjo dan Kediri ia cerita ke kakek-neneknya, juga sama ammi dan budhe-pakdhenya serta kakaknya tentang rusa-rusa di istana Bogor, gajah di KBS, dg gerakan tangan dan bunyi-bunyian. Usia Dzulfiqar masih kurang dari dua tahun, masih ada waktu bagi saya dan istri untuk membentuknya dan memberikan asupan ilmu yg banyak untuk membentuk kepribadiannya.

One thought on “Buah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s