Mencabut Virus Sekulerisme;Relevansi Pemikiran Syed Naguib Al-Attas, Sayyid Qutb, dan Taqiyuddin An-Nabhani

971324_634802036575685_1274075414_nOleh : Nur Fajarudin, S.Pd*

            La Purga, sebuah nama hukuman yang amat mengerikan. Sang terhukum dadanya dicap besi membara berlambang salib kemudian dieksekusi mati dengan cara disalib, ditenggelamkan, dikubur hidup-hidup, atau dibakar. Hukuman yang diberikan oleh institusi gereja kepada para intelektual, ilmuwan, dan para filsuf, yang menjadi pemicu perang panjang kedua pihak tersebut di abad-abad pertengahan di Eropa. Awalnya dipicu oleh temuan-temuan ilmiah para intelektual Eropa pada berbagai ilmu, semisal matematika, astronomi, dan kimia. Ilmu-ilmu tersebut dipulung secara cuma-cuma oleh para ilmuwan Eropa dari Peradaban Islam yang berkembang pesat. Masalahnya, berbeda dengan Islam yang memacu umatnya untuk menyingkap fenomena alam semesta sebagai bukti Kemahakuasaan Allah Swt, Kristen justru dipenuhi dengan dogma-dogma yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Maka dimulailah perburuan dan pembantaian para cerdik pandai di seluruh pelosok Eropa dengan alasan temuan ilmiah mereka bertentangan dengan keimanan Kristen. Kaum intelektual tidak tinggal diam, mereka melakukan pergolakan pemikiran dan perlawanan terhadap gereja dan memicu munculnya sekularisme. Sekularisme adalah jalan yang akhirnya diambil oleh masyarakat di Eropa. Sebuah jalan tengah untuk mengakhiri pertentangan yang nyaris membelah Eropa. Dalam sekularisme, pihak gereja dimarjinalisasi dan hanya mengurus kepentingan kerohanian mereka. Semua unsur kehidupan duniawi diatur sendiri oleh manusia tanpa melibatkan hukum Tuhan. Semboyan utama sekularisme adalah berikan hak Tuhan kepada Tuhan dan berikan hak raja kepada raja.

Sekularisme mungkin tidak menjadi masalah bagi peradaban Islam, karena solusi sekularisme hanya layak diperuntukkan kepada kaum Kristen Eropa. “Orang Kristen maju ketika mereka membuang Injil..”, sindir ulama besar Hindustan, Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi. Namun bencana itu datang. Peradaban Islam mengalami kemunduran. Secara pemikiran kaum muslimin terus mengalami kemerosotan sejak Al Qaffal menfatwakan haramnya melakukan ijtihad. Sedangkan secara politik Daulah Khilafah yang diwarisi oleh bani Utsmaniyah tidak lagi sekuat pendahulunya seperti Sultan Muhammad II Al Fatih atau Sultan Sulaiman Al Qanuni. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Barat untuk menikam dan memutilasi dunia Islam. Dengan semangat 3G (gold, gospel, and glory), Barat menjajah dan mengkerat-kerat negeri Muslim. Belanda mendapatkan kepulauan Nusantara. Inggris menjarah rayah semenanjung Melayu, Burma, India, Afrika Timur, hingga Mesir. Perancis menguasai Indochina dan Afrika Utara. Tidak cukup hanya dengan kekuatan senjata, Barat juga menancapkan pisau beracunnya  ke tengah-tengah kaum muslimin berupa ide sekularisme. Bahkan ide tersebut langsung ditancapkan di pusat peradaban Islam, Jazirah Arab. Para orientalis dan misionaris bertebaran dan mendirikan berbagai pusat-pusat pembelajaran di Beirut, Damaskus, Kairo, Baghdad, dan Jeddah. Efeknya adalah banyak pemuda Islam yang menjadi murid-murid di pusat-pusat pembelajaran tersebut keranjingan ide sekularisme. Ide tersebut menancap kuat di benak mereka, mengubah pola pikir mereka, dan menganggap bahwa Islam kurang lebih sama dengan agama lainnya yang hanya berkutat pada masalah spiritual belaka. Mereka mengingkari Daulah Khilafah dan menyerukan ide nasionalisme baik nasionalisme Arab, nasionalisme Turki, nasionalisme Kurdi, atau nasionalisme Albania. Serangan bertubi-tubi ini melemahkan peradaban Islam dan mengakibatkan runtuhnya Daulah Khilafah. Daulah Khilafah yang merupakan warisan Rasulullah Saw runtuh pada 3 Maret 1924 di tangan kaum nasionalis Turki. Sejak saat itu Islam dan kaum muslimin mengalami kemunduran di semua aspek kehidupan. Meskipun banyak negeri-negeri muslim telah merdeka dari penjajahan fisik, Islam dan kaum muslimin masih terbelakang, ditindas, dan diremehkan oleh bangsa lain di dunia.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan di benak kaum muslimin, terutama kalangan ulama. Para ulama mencoba mengurai benang kusut permasalahan kaum muslimin. Akar masalah kaum muslimin adalah diterapkannya sekularisme di tengah-tengah kehidupan mereka.

Prof. Syed Naquib Al-Attas menyimpulkan kemunduran kaum muslimin adalah adanya sekularisasi yang massif di tengah dunia Islam. Sekularisasi sendiri menurut beliau adalah pembebasan manusia dari kungkungan agama dan kemudian dari kungkungan metafisika yang mengatur akal dan bahasanya”. Dengan kata lain menurut Syeikh Naquib Al-Attas, Sekulerisasi adalah pembebasan manusia dari segala unsur gaib, suci, sakral, dan agama. Maka sekulerisme menurut beliau adalah paham yang menghilangkan unsur-unsur ketuhanan dan keagamaan dari dalam diri manusia. Maka bisa disimpulkan bahwa sekularisasi di dunia Islam adalah usaha untuk menjauhkan kaum muslimin dari –meminjam istilah beliau- worldview Islam. Jika kaum muslimin sudah melepaskan cara pandangnya dari cara pandang Islam, maka saat itulah kaum muslimin menjadi lemah dan mudah dikuasai.

Pendapat yang kurang lebih sama juga disampaikan oleh Assyahid Sayyid Qutb. Salah satu ideolog jama’ah Ikhwanul Muslimin ini menilai bahwa Barat telah sungguh-sungguh berupaya sekuat tenaga menguasai dunia Islam. Barat, menurut beliau mendirikan rezim-rezim boneka di negeri-negeri kaum muslimin. Rezim tersebut berkedok Islam atau minimal menampakkan penghormatan terhadap agama Islam, namun mereka memerintah bukan dengan hukum Allah dan menjauhkan hukum Allah dari masyarakat. Mereka –para rezim- seakan-akan menghormati Islam namun mereka membuka lebar-lebar pintu kemaksiatan dengan dalih modernisasi. Inilah bukti sekularisasi yang dilakukan Barat terhadap negeri muslim.

Sedangkan menurut pendapat Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, sekularisme adalah fash u’luddin a’nil hayat atau pemisahan agama dari kehidupan. Sekularisme merupakan aqidah dari kapitalisme serta menjadi qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis), serta qaidah fikriyah (kaidah berpikir). Dari kaidah berpikir inilah masyarakat Barat berpendapat bahwa manusia berhak membuat peraturan hidupnya. Ketika bangsa Barat mulai menjajah negeri-negeri kaum muslimin, ide ini disuntikkan ke tengah-tengah kaum muslimin untuk menjauhkan mereka dari mabda Islam.

Sekularisme dijejalkan Barat di tengah-tengah kaum muslimin bukan untuk memajukan dunia Islam atau membuat kaum muslimin memiliki kedudukan yang sama dengan masyarakat Barat. Sekularisme dijejalkan Barat di tengah-tengah kaum muslimin adalah untuk melemahkan peradaban Islam serta memudahkan mereka untuk menjajah dan menguasai negeri-negeri kaum muslimin. Maka diperlukan usaha yang kuat untuk mencabut virus sekularisme dari kepala kaum muslimin.

Syaikh Naquib Al-Attas menyadari bahwa Barat memasukkan sekularisme melalui lembaga-lembaga pendidikan. Di lembaga-lembaga pendidikan tersebut Barat melakukan sekularisasi ilmu. Maka kaum muslimin harus melakukan hal yang sebaliknya, yaitu Islamisasi ilmu. Penanaman worldview Islam harus dilakukan secara massif di lembaga-lembaga pendidikan Islam untuk mencetak intelektual yang berkarakter dan berkepribadian Islam. Seorang intelektual yang memiliki visi Qur’ani dan membebaskan kaum muslimin dari belenggu ide-ide Barat yang menyesatkan.

Selaras dengan Syaikh Naquib Al-Attas, Assyahid Sayyid Qutb juga menyerukan hal yang sama namun dalam bidang yang lebih luas, masyarakat. Ulama yang dihukum gantung oleh rezim Mesir ini menganjurkan kepada para da’I  untuk menyadarkan masyarakat dari belenggu hukum-hukum kufur seperti sekularisme. Harus ada pembinaan yang terus-menerus di tengah-tengah masyarakat agar umat Islam tersadarkan dari segala sistem kufur dan mengambil manhaj Islam.

Sedangkan menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, sekularisme adalah aqidah dasar kapitalisme dan kapitalisme diemban, dilindungi, dan disebarkan secara massif oleh negeri-negeri Barat. Bangsa Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris menahbiskan dirinya sebagai penegmban kapitalisme. Dari fakta inilah Syaikh An-Nabhani menambahkan bahwa usaha mencabut dan melindungi kaum muslimin dari virus sekularisme adalah dibutuhkan sebuah institusi yang melindungi mabda Islam dan kaum muslimin. Dan institusi tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah negara yang mengemban mabda Islam. Negara yang menerapkan, melindungi, dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga menjadi lawan yang sepadan dari negara-negara kapitalisme.

Maka dapat disimpulkan bahwa usaha mencabut serta membentengi umat dari sekularisme haruslah usaha yang serius, bukan usaha yang main-main. Kesadaran umat harus dibangun dari berbagai lini, pendidikan, dakwah, hingga politik. Semua elemen umat yang telah tersadarkan harus bahu-membahu menyampaikan di tengah-tengah umat siap sebenarnya musuh sejati umat serta cita-cita sejati umat Islam. Bila semua usaha ini telah dilakukan maka tidak mungkin izzul Islam wal Muslimin dengan mudah digenggam kembali oleh umat yang mulia ini. Wa Allahu’alam bis shawab.

(mahasiswa pasca sarjana UIKA Bogor;disampaikan untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat ilmu)

Daftar bacaan :

–         Al-Attas, Syed Naquib. 1993. Islam and Secularism; second impression. (Kuala Lumpur; International Institute of Islamic Thought and Civilization).

–         Qutb, Sayyid. Ma’alim fie Thariq. Tanpa tahun. Tanpa penerbit

–         An-Nabhani, Taqiyuddin. 2001. Peraturan Hidup Dalam Islam; cet.VI. (Jakarta; HTI press)

–         Husaini, Adian. DR. 2010. Pendidikan Islam : Membangun Manusia Berkarakter dan Beradab. (Jakarta; Program Studi Pendidikan Islam Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun dan Cakrawala Publishing).

–         At-Tharablusi, Abdullah. 2001. Perubahan Mendasar Pemikiran Sayyid Qutb. (Surabaya; Ibadah.net)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s