P.O.H.O.N

1280-the-lorax-mazda1Buah tak pernah jauh jatuh dari pohonnya, ungkapan ini cocok untuk menggambarkan kesukaan keluarga saya pada film. Kalau dulu kedua orang tua saya (terutama ayah saya) di masa mudanya tergila-gila pada film-film Rhoma Irama juga film-film aksi Indonesia semisal, Tutur Tinular, Saur Sepuh, dsb. Maka gak salah jika saya di kemudian hari juga mengikuti jejak kedua ortu saya. Di satu masa di era jahiliyyah dulu saya sering sepulang sekolah kabur ke pusat kota Sidoarjo, nonton bioskop yang waktu itu seharga 2500. Namun bioskop murah di kota saya punah, yang tersisa adalah bioskop-bioskop elit yang nongkrong di mal-mal di Surabaya yang karcis masuknya 10 kali lipat lebih mahal dari bioskop langganan saya ketika SMA. Namun tetep aja saya bandel, menyisihkan uang saku kuliah demi nonton film tiap senin ketika bioskop-bioskop elit tersebut memberikan potongan harga 25%. Era nonton bioskop saya berakhir ketika saya mulai menkaji Islam dan memahami bahwa aktifitas menonton di bioskop dengan penonton campur baur terlarang dalam hukum Islam. Namun tetep aja saya nonton film dengan uslub lain, pake komputer, laptop, atau minjem proyektor milik sekolahan dan muter film di halaman rumah. Terus filmnya darimana? Ya, download dari internet. Untuk aktivitas ini untungnya saya gak pernah sampe merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli pulsa internet agar bisa download film sepuasnya, karena (saya gak tau mungkin jodoh kali) seringkali ada orang-orang dekat saya di tempat kerja yang jago dalam hal download mendownload film.

Kembali ke bahasan awal, rupanya hobi saya ini ternyata menurun ke anak saya, Dzulfiqar. Memang sejak awal saya melakukan diet menonton tivi pada anak saya tersebut (ngomong aje gak punya tivi mas..mas), maka hiburan satu-satunya adalah menonton film via laptop yang memang dapat dengan mudah disaring oleh keluarga kecil kami. Salah satu film favoritnya adalah The Lorax. Mungkin para penggemar teori konspirasi yahudi curiga pada film ini. Coz, pembuatnya saja berngaran “Illumination Entertainment”, tapi saya gak peduli. “Lihat isi pembicaraannya, jangan dilihat siapa yang bicara.”, kata Sayyidina Ali K.W. Jadi sy gak liat siapa yg buat nih film, sy cuma peduli ama pesan apa yg hendak disampaikan. Dari sini mungkin tetep ada yg protes, “berarti ente dukung zionis, karena nonton pilm buatannya?’. Ya Allah, siapa juga yg dukung zionis?? lagian sy dapetin film tersebut dg cara nyolong alias donlot gratisan. Yg jelas membajak itu lebih merugikan dibandingin sekadar memboikot. ‘Wah nyolong..dosa tuh’, udah deh klo diskusi ama orang jahil gak ade matinye, trus kapan sy bisa ceritain nih film klo ente2 nge-cut2 melulu???

Cerita nih film sih simple, tentang pohon. Pohon yang ditebangin demi industri. Efeknya udara memburuk, udara segar menjadi mahal. Maka siapa yg menguasai distribusi udara maka dia kaya raya dan orang tersebut adalah Aloysius O’Hare, pengelola kota Thneedville, kota yg seluruhnya terbuat dari plastik dan sekaligus pemilik perusahaan O’Hare Air, perusahaan penyuplai udara segar. Maka ketika seorang remaja bernama Ted jatuh cinta pada seorang cewek bernama Audrey dan si cewek bercita-cita pengen lihat pohon yg sesungguhnya. Ted pun mati-matian menemukan bibit pohon terakhir yg dimiliki oleh Once-Ler, tokoh (yg kata neneknya Ted) mengetahui peristiwa hilangnya pepohonan. Maka Ted harus berhadapan dengan O’Hare. Logikanya, apabila pepohonan hadir kembali, maka udara segar bisa dinikmati dg gratis, dan membuat perusahaan seperti O’Hare Air bancorotto alias bangkrut. Segala usaha mati-matian Aloysius O’Hare dan jejaringnya yg menguasai informasi serta melakukan cuci otak massal senhingga banyak penduduk Thneedville percaya bahwa pohon hanya menghasilkan kotoran dan keberadaannya justru tidak dibutuhkan akan sia-sia apabila ada sebatang pohon saja yg hadir di tengah-tengah mereka. Maka galibnya semua film, bahwa tokoh protagonis pasti akan menang meskipun sejahat dan securang apapun sang antagonis menggagalkan rencananya, begitu pula ending film ini.

Intinya nih film secara tidak langsung mengkritik logika kapitalisme yg saat ini menjarah-rayah serta menguasai apapun yg ada di dunia. “Tidak ada makan siang gratis bung”, itulah logika utama kapitalisme. Maka para kapitalis menggunakan segala daya-upaya untuk menghalangi lahirnya sebuah sistem yg membuat mereka bangkrut. Maka ketika Rasulullah Saw menggariskan aturan tata kelola SDA, bahwa manusia berserikat dalam 3 hal yaitu air, api, dan padang gembalaan, serta haram memakan uang dari ketiganya, maka aturan seperti ini tidak bisa diterima oleh para kapitalis. Mereka akan menentang mati-matian entah itu negara, ormas, termasuk individu yg ingin menegakkan aturan seperti ini. Maka muncullah cap teroris, fundamentalis, hingga utopis yg dikembangkan oleh jejaring kapitalis di tengah-tengah masyarakat. Ya, itulah mengapa sistem pemerintahan Islam atau Daulah Khilafah ditentang sedemikian rupa oleh para kapitalisme  Barat dan jaringannya. Ya iyalah, siapa yg mau mengikhlaskan dirinya bangkrut. Bila di era Rasulullah saja, Abu Jahl cs yg gak pernah kecak atau mendapat cipratan kekayaan dari Romawi dan Persia aja nolak mentah-mentah apalagi sekarang ketika penguasa negeri muslim, para intelektualnya, juga partai-partai politiknya yg langsung maupun sembunyi-sembunyi mendapat uang panas dari para kapitalis, jelas aja mereka mati-matian mempertahankan sistem ini. Logika untung-rugi itulah yg ngendon di kepala mereka.

Uniknya hampir semua film mulai dari Dark Knight, Gangster Squad, hingga The Lorax, diperlihatkan bagaimana para protagonis menghadapi kejahatan sang antagonis yg tersistem selalu dari luar sistem mereka. Mereka memukul musuhnya dari luar sistem atau jejaring yg dibuat oleh musuh-musuh mereka. “ah itu mah cuma film, beda atuh mas dg kondisi nyata”, eits kok bisa gitu. Bila kita serius menganggap film-film bertema Yesus sebagai ajang Kristenisasi, jika kita terkadang serius menganggap klip-klip madonna, lady gaga, atau marylin manson sebagai penyebar satanisme, maka jangan2 Barat juga serius menyusupkan cara untuk membunuh dirinya. Karena kita kaum muslimin aja sering mengejek, menyepelehkan, dan mengkambing hitamkan sesama muslim yg serius memperjuangkan Islam di luar sistem demokrasi. Mungkin dalam otak orang Barat terbersit ide, “kaum muslimin itu bodoh, mendapat rumusan yang serius untuk membangkitkan peradaban mereka aja mereka ogah, apalagi bila melihat rumusan tidak serius yg muncul lewat film kartun.” hehehe

Ahh intinya saya setuju ama ucapan tokoh utama di akhir film ini, bahwa “Kita tidak akan menuai apa yang tidak kita tabur”, asek..asek..joss.

One thought on “P.O.H.O.N

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s