89,13 Mhz

lola-mitchell_fall-in-paris-little-boy-street-art-in-paris-artist-unknown_121004-1024x1024Ada pertanyaan menarik yang disampaikan salah seorang peserta (penonton lebih tepatnya hehehe) pada acara bedah buku dan temu penulis Anomali Books di gelaran Bogor Islamic Books Fair 2014. Pertanyaan tersebut berbunyi, yang pertama apa motivasi kami (para penulis) menulis sebuah buku, sedangkan yang kedua apakah kami tetap menulis ketika tulisan (buku) kami tidak laku alias tidak dibaca orang??!!

Mengenai motivasi menulis bertriliun alasan telah dikemukakan oleh berbagai penulis sejak jaman kuda gigit besi hingga jaman kuda gigit prosesor. Mulai dari penulis buku best seller hingga penulis yang bukunya seller aja kagak hehehe. Ada yang mengutak-atik pendapatnya Rene Descartes (yg di kampus saya sering disingkat ‘renedeka’), Saya menulis maka saya ada. Atawa ngodok (ngambil)pendapatnya Pramudya Ananta Toer, “Kalau engkau ingin mengenal dunia maka membacalah dan menulislah apabila ingin dikenal dunia.”. Tak sedikit pula yang mengutip pendapatnya sayyidina Ali ibn Abi Thalib k.w yang berbunyi, ilmu itu ibarat binatang liar sedangkan tulisan adalah tali pengekangnya. Sedangkan Felix Siauw dalam salah satu tweet-nya yang kemudian banyak dikutip para pengguna sosmed mengatakan, andaikan ilmu itu seorang wanita maka meminangnya dengan cara membaca dan menikahinya dengan menuliskannya. Ciieee..nikah..ciiieeee.

Bagi saya motivasi menulis bukanlah bagian dari nash-nash syar’i. Maka kalau anda bertanya apa motivasi saya menulis? Maka jawabannya tergantung zaman dan dimana saya berada. Ketika saya masih SMP motivasi saya menulis lebih dikarenakan rasa takut dipendeli’i (dipelototi) oleh guru karena sepanjang pelajaran saya nggedabrus (ngobrol) dengan teman sebangku saya. Beranjak ke zaman putih abu-abu, di era tersebut motivasi menulis saya adalah seorang gadis penghuni kelas di bawah kelas saya (kamsudnya adik kelas, bukan penghuni kelas lantai satu karena sekolah saya bentuknya tidak bertingkat. Juga bukan penghuni kelas basement karena sekolah saya bukan mall apalagi markas tentara Jepang atau gerilyawan Vietcong yang memiliki bungker (panjang amat penjelasannya!!??)) yang memikat hati saya. Seorang gadis yang tiap kamis malam jum’at saya kirimi puisi dalam kertas warna-warni dan dilipat menggunakan teknik origami (sederhana;kebanyakan berbentuk pesawat, kadang-kadang perahu dan semuanya berakhir kalau gak ke atap sekolah ya ke selokan depan kelas).

Zaman bertukar beberapa kurun dan motivasi menulis saya gak jauh-jauh ama urusan takut dan cinta. Maka bisa dipastikan apabila guru dan dosen saya tidak memberikan tugas mencatat maka saya meneriakkan kata-kata yang diucapkan Mel Gibson ketika berperan menjadi patriot Skotlandia, William Wallace dalam film Braveheart ‘Freedom’. Maka bisa pula dibuktikan ketika cinta saya bertepuk sebelah tangan, maka detik itu pulalah tamatlah riwayat tulis-menulis saya. Hingga sampailah saya di sebuah era ketika menulis didasari pada rasa iri.

Sebuah iri dengki yang positif, karena iri dan dengki terhadap orang yang ilmunya lebih tinggi. Sebagaimana tamak yang oleh Ali k.w dapat menghantarkan ke surga karena tamak terhadap ilmu. Iri dan dengki di atas juga membuat saya termotivasi untuk menulis. Saat itu saya sedang memulai perubahan fase hidup, dari yang awalnya mengalami fase hidup doremi (menurut istilah Andrea Hirata) yaitu hidup yang itu-itu aja alias monoton yang berkisar kampus-rumah-kampus-rumah pp menuju fase perubahan ketika mulai menkaji Islam secara intensif dan berkisar antara kampus-rumah-kampus-rumah pp (sama aja atuh). Beda!! Bedanya selain bertambahnya ilmu, juga bertambahnya motivasi saya untuk ikut andil dalam usaha mencerahkan orang lain, menegakkan kebenaran serta melawan segala bentuk penjajahan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan, peri keadilan, peri ode, peri ngatan, dan peri-peri yang lain (kecuali keti peri).

Di era tersebut jaringan internet tidak seluas sekarang, WiFi jarang yang banyak WeCe, sosmed juga belum semerakyat sekarang, wong HP aja segede novel musashi, pake aki mobil, dan hanya bisa buat ngomong sejauh 500 meter saja (yg terakhir ini cuma khayalan saya saja). Satu-satunya cara dakwah selain pake lisan ya tulisan, diketik rapi dalam bentuk bulletin, dan disebarin. Di era inilah saya ketemu dengan majalah mini warna-warni kayak permen lollipop rasa cabe mexico karena tulisannya nampol. Majalah tersebut ber-ngaran Openmind. Selidik punya selidik rupanya Openmind digawangi oleh anak-anak muda yang walaupun kebanyakan bukan dari jurusan agama Islam dan sastra Indonesia tapi tulisannya ajib aje gile maknyus top markotop.

Openmind-lah yang menginspirasi saya menulis. Saya bela-belain beli buku harian (bukan yg girlie tapi buku besar pegangan para penagih hutang) dan mulai mencatat berbagai kegelisahan saya. Namanya juga manusia yg dibekali Gharizatul Baqa’ oleh Allah Swt, saya jelas pengen ngeksisin tulisan saya. Keinginan saya sih sederhana ‘supaya tulisan hasil buah pikir saya tersebut dibaca orang’ cuma itu gak lebih. Saya cukup tau diri dan gak begitu iri dengan apa yg temen-temen saya sekampus dapatkan. Ada yg tulisannya juara lomba, ada yg cerpennya muncul di media daerah, ada yg artikelnya dimuat koran nasional, ada yg puisinya jadi langganan surat kabar nasional, bagi saya mereka semua beruntung dan cita-cita saya sederhana, yaitu agar ide yg saya dialektikan dalam tulisan dibaca dan diperhatikan orang lain. Maka ketika dapat tawaran ngisi artikel buletin Islam lokal, saya girang bukan alang kepalang. Tapi kegembiraan saya berakhir merana saat buletin tersebut terbit, karena artikel hasil saya lembur semalaman mengalami pembonsaian dan mengkerut hanya tersisa satu kalimat doang “Ahlan Wa Sahlan”. Dan akhirnya saya kembali merasakan pahitnya pengkhianatan cinta.

Alhamdulillah saya pernah baca Openmind dan sempat ketemu dg pimrednya. Saya ingat cerita beliau yg mengalami hal yg kurang lebih sama hingga akhirnya menerbitkan Openmind. “Kalau tulisan ente gak dimuat oleh media, ya udah bikin media sendiri”, kata beliau saat itu. Inilah salah satu titik balik saya, saya mulai utak-atik internet dan membikin blog (sempat di blogspot sebelum pindahan ke wordpress), dipromosiin via sosmed (dulu di FS sekarang di FB ama twitter), hingga akhirnya bikin zine sederhana berngaran Burjo (pake desain word karena dulu jarang ada kompi yg ada program corelDraw dan kalaupun ada saya ketika itu belum jago benar dg tu program) sampe tulisan saya kemudian dilirik penerbit Anomali dan menjelma menjadi buku. Ya, itulah sejarah tulis-menulis saya dan moga menginspirasi antum semua. Tentang pertanyaan “kalau gak dibaca bagaimana?”, jawabnya simpel, gimana tulisan kita mau dibaca orang kalau kita tidak pernah menulis hehehe. (untuk 89 ribu pembaca Burjo; tererengkyu bray)

2 thoughts on “89,13 Mhz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s