Badai Pesona

Saya pernah merasakan dibombardir meriam, dihujani mortir, tersengat RPG. Pada intinya mendapat serbuan artileri itu menyakitkan, dibombardir itu menyakitkan. Maka seandainya saya ditugaskan di Konstantinopel ketika dibombardir oleh Mehmed, maka saat itu juga saya desersi meskipun harus diseret ke Mahkamah Militer, komentar seorang Pensiunan Pasukan Khusus AS di acara dokumenter tentang Pembebasan Konstantinopel oleh Muhammad II Al Fatih

Orang bilang cinta muncul dari pandangan pertama, pandangan pertama yang mempesona mata. Ada juga yang bilang cinta muncul dari seringnya bertemu, perjumpaan yang berpadu dengan pesona yang pada akhirnya mentautkan dua jiwa…ciieee. Hehehe..saya sebenarnya mules ketika menuliskan kalimat di atas, kok kesannya postingan kali ini bercerita tentang cinta. Nggak, saya bukan menulis tentang cinta tapi tentang pesona, pesona yang memunculkan rasa selain cinta. Saya juga sedang pengen nulis tentang film, tapi sekali lagi bukan film cinta, juga bukan filmnya Cinta yang berngaran AADC (Ada Apa Dengan Cireng..bukan ding tapi Cinta), film jaman saya SMA yang sekarang ngetop lagi (sumprit saya lebih keren daripada Rangga, bukan dari segi tampang tapi dari selera puisi, di jaman itu si Rangga narik perhatian Cinta pake modal puisi Chairil Anwar padahal di era itu saya udah kenal Victor Hugo, Pablo Nerudo, minimal Kahlil Gibran..kamu kenal nama-nama itu, gak kenal kan..pantesan dulu gak ada cewek yang tertarik pada saya).

Sudah ah kita akhiri saja obrolan tentang cinta, kita alihkan obrolan kita tentang film. Seperti halnya sejarah, film juga tergantung pada persepsi yang sang kreator film. Film juga bisa menjadi indikator sejauh mana pandangan masyarakat terhadap sesuatu. Saya bisa katakan bahwa masyarakat Indonesia ini makin sekuler dipandang dari film horror yang muncul di bioskop saat ini. Film horror Indonesia modern di endingnya sering sekali menihilkan peran ulama (boleh kyai, ustadz, atau guru ngaji) yang dulu sering muncul di ending-ending film horror jaman Suzana. Mungkin sebagian kita berkomentar positif, masak ulama’ hanya buat ngusir hantu. Tapi saya tetap istiqomah dengan pendapat saya, tingginya rating film-film horror tersebut menandakan banyak masyarakat yang menonton. Dan masyarakat tersebut merelakan dan mengikhlaskan dirinya dicuci otak oleh kreator film bahwa dalam urusan orang mati dan alam gaib saja kita bisa meminggirkan peran agama (Islam).

Maka ketika Hollywood membuat film terkait sejarah Islam, maka itulah pandangan masyarakat Barat terhadap Islam. Dan kali ini subyek Barat adalah Muhammad II Al Fatih atau yang dikenal Barat sebagai Mehmed II The Conqueror yang muncul di film Dracula Untold sebagai tokoh antagonis. Sebagai muslim sih pengennya kita Al Fatih muncul sebagai tokoh utama protagonist, tapi mau gimana lagi yang buat film mereka, bukan kita. Dan karena dari sononya udah keren, Al Fatih tetap keren walau jadi antagonis. Pengen saya sih Al Fatih digambarin kayak Sirius Black di film Harry Potter 3 yang sedari awal digambarkan antagonis di ending cerita malah jadi pahlawan. Atau kayak  Camerlengo di fim Angel and Demon, yang meskipun antagonis tapi endingnya ia mati terhormat. Atau sekalian aja kayak Joker di The Darknight. Tapi apa mau dikata pengennya sutradara beda dengan keinginan saya. Al Fatih digambarin jadi antagonis biasa yang muncul di tengah kisah, bikin konflik, terus endingnya kalah. Tapi bagi saya Al Fatih tetap keren, coz di endingnya digambarin ia mampu melawan Drakula sendirian, padahal Drakula dengan kekuatan setannya baru saja membantai dan memporak-porandakan 100 ribu pasukannya. Al Fatih bahkan sukses mengeksplor kelemahan Drakula pada perak dengan mengajaknya bertarung di hamparan uang perak, sayang Al Fatih digambarin sebagai antagonis biasa dan mati digigit Drakula.

Tapi di sini terlihat Barat kagum pada Muhammad Al Fatih, kecerdasannya, dan keberaniannya, Barat kagum padanya, terpesona namun tidak melahirkan cinta, yang bersemi justru rasa ngeri dan iri dengki. Dan memang Barat kagum terhadap Peradaban Islam yang melahirkan panglima-panglima terbaik bahkan berkualifikasi pahlawan, seperti Muhammad Al Fatih, Sholahuddin Al Ayyubi, Alp Arsalan, Thariq bin Ziyad hingga Khalid ibn Walid ra yang dengan semangat jihad fi sabilillah menggerakkan pasukannya, menggulirkan berbagai strategi, dan mendayagunakan teknologi membebaskan satu persatu negeri dan menaunginya dalam naungan Islam. Jihad offensive mereka membuat ngeri penguasa-penguasa Barat. Jihad offensive mereka yang bertujuan membebaskan manusia dari segala bentuk penjajah membuat penguasa tiran Barat begidik ngeri. Dan memang Barat kagum terhadap Peradaban Islam yang melahirkan panglima-panglima terbaik bahkan berkualifikasi pahlawan, Abdul Karim Khattabi, Abdul Qadir, Mahdi, Syaikh Izzuddin Al Qassam, Imam Syamil, hingga Teuku Umar, Imam Bonjol, Diponegoro, Sultan Hasanuddin yang dengan semangat jihad fi sabilillah menggerakkan pasukan membebaskan tanah tumpah darah dari penjajahan tirani. Mereka menginspirasi generasi-generasi muslim selanjutnya, mulai dari pertempuran Surabaya, perang panjang di palagan Afghanistan, hingga batu yang terbang bersama teriakan takbir di halaman Masjidil Aqsa.

Barat ngeri melihat semangat kaum muslimin dan Barat iri terhadap Peradaban Islam yang mampu melahirkan manusia-manusia luar biasa. Maka dibuatlah stigma atau pencitraan dan berkembanglah istilah teroris, fundamentalis, militant, garis keras dan sebagainya..dan sebagainya. Tujuan Barat sih jelas, seperti ungkapan John L. Esposito adalah untuk membendung perkembangan Islam politik, yaitu kaum muslimin yang percaya bahwa Islam tidak hanya sekedar agama namun juga ideologi yang berpeluang menggusur ideologi kapitalisme dan sosialisme. Jika Islam politik ini dibiarkan berkembang maka hasilnya jelas, bahwa dalam waktu singkat peradaban Barat akan gulung tikar digantikan peradaban Islam.

Maka mumpung masih kuat, masih punya kekuasaan di bidang politik, ekonomi, didukung oleh lembaga dunia, media-media besar, dan diamini oleh penguasa-penguasa negeri muslim yang menjongoskan dirinya, maka Barat sekuat tenaga menghambat kebangkitan Islam. Wuiks..menghadapi peradaban Barat yang saat ini berkuasa kok kesannya kayak gajah lawan orong-orong. Tapi mengutip pidato Bung Tomo yang sedikit saya plesetkan, selama iman masih di dada maka tak kan gentar menghadapi serangan Barat. Dan yakinlah saudara bahwa Allah Swt bersama di pihak yang benar..Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s