Brigade ke-100

Saya mengalaminya kembali. Persis sama dengan yang saya alami ketika menjelang kelulusan saya dari jenjang strata 1. ‘Mental Block’ kata ilmiahnya, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai kondisi ‘malas’ nulis. Blog ini jarang saya corat-coret lagi, majalah indie buatan saya telah lama berhibernasi, buku?? aaahh saya malas membahas yang satu ini, dan yang paling menjengkelkan adalah persyaratan untuk mendapat ijazah strata 2 yang membuat saya terseret pada kondisi yang sama seperti ketika saya berstatus mahasiswa S-1 tingkat akut. Tesis, T-E-S-I-S telah lama mandeg di kepala saya, membuat jemari saya mampet setiap kali mulai mengetik.

Memang secara pola hidup sangat berbeda 360 derajat dari kehidupan saya ketika itu. Saya bekerja dari pukul 7 pagi hingga 4 sore. Tapi tunggu dulu, saya bukanlah tipikal pekerja kantoran yang sepanjang hari mengahadapi layar komputer atau karyawan perusahaan yang menghabiskan waktu berteman dengan mesin segede gajah. Saya adalah guru, menghadapi manusia yang biarpun ilmu psikologi mengklasifikasikan dengan aneka sifat dan karakter namun masing-masing manusia itu unik, dengan karakter komplek, dan layak dijadikan bahan cerita novel.Menjadi guru membuat kehidupan saya lebih bermakna (ciiieeee….) dan tidak membosankan (sama sekali).

Di sisi lain saya di kelilingi manusia-manusia hebat. Seorang wanita yang setiap pagi bangun menyiapkan segala urusan saya mulai dari sarapan hingga baju seragam. Wanita yang mendampingi, mencintai, serta menerima saya sebagai suaminya. Banyak orang bilang di balik lelaki hebat terdapat wanita yang mendampingi dan istri saya adalah wanita yang dengan sabar menata dan merawat lelaki anti kemapanan seperti saya menjadi seorang pria yang berkarakter. Selain itu ada pria kecil yang tiap pagi saya selalu pandangi wajahnya, yang segala tingka lakunya membuat saya dan istri capek namun memunculkan rasa bahagia yang tidak bisa terukur. Akhir-akhir saya semakin percaya bahwa rumah adalah tempat yang paling tepat untuk mendidik dan menginspirasi manusia.

Pada intinya hidup saya berbeda. Jika dulu saya adalah manusia tipe 1 (menurut teori teman dekat saya), manusia yang hidupnya mengalir bagai air namun airnya air bah yang bikin susah banyak orang. Sekarang hidup saya lebih tertib, lebih semangat, lebih bijak, pokoknya lebih lah dibandingkan ketika menjelang kelulusan dari kampus 7 tahun lalu.

Maka hari ini saya ingin melawan. Mental Block sesungguhnya hanya bisa dilawan dengan membunuh rasa malas yang membelenggu kita. Maka kali ini saya hanya ingin mengoceh, mencorat-coret blog dengan sesuka hati. Saya ingin bebas, maka persetan dengan aturan tata bahasa, persetan dengan kata baku, sintaksis, dan segala aturan kebahasaan. Saya ingin melawan..TITIK!!!

11887070_114758325555458_1894686043_n
Usagi by Kimjunggius

One thought on “Brigade ke-100

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s