Futuhat Nusantara

“Sesungguhnya Kami bukakan bagimu kemenangan yang nyata.” (Q.S. Al Fath; 1)

“Maka Dia jadikan di balik itu kemenangan yang dekat.” (Q.S. Al Fath; 27)

“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.” (Q.S. An Nashr; 1-2)

Map_of_the_Indian_Ocean_and_the_China_Sea_was_engraved_in_1728_by_Ibrahim_MüteferrikaFutuhat atau pembebasan adalah pendombrak kekuatan fisik yang menghalangi sampainya cahaya Islam kepada manusia. Sahabat Abdullah bin Mas’ud r.a ketika menafsirkan makna “kemenangan” dalam awal surat Al Fath mengatakan “dalam benak kalian seringkali memahami makna al-Fath sebagai Fathul Mekkah, padahal dalam tafsiran kami al-Fath adalah Hudaibiyyah.”. Maka futuhat adalah sebuah usaha serius untuk merobohkan tembok kokoh yang menghalangi sampainya hidayah Islam kepada manusia, apatah itu melalui pertempuran, diplomasi, atau melalui dakwah revolusioner. Futuhat inilah yang diemban oleh para Khalifah, amir, panglima perang, ulama, mu’alim, serta seluruh kaum muslimin untuk menyebarkan hidayah Islam ke seluruh penjuru bumi.

Islam dan Nusantara

Seperti yang sudah sering dipaparkan, jauh sebelum Islam hadir, kepulauan Nusantara telah dikenal di kawasan Timur Tengah. Para pedagang dan pelaut Arab menyebut kawasan kepulauan ini sebagai negeri bawah angin karena letaknya berada di bawah jalur pelayaran ke Tiongkok atau negeri atas angin. Kawasan Nusantara dikenal sebagai penghasil utama rempah-rempah, kayu wangi, dan kapur barus yang sangat berharga di pasaran Timur Tengah dan Eropa. Perjumpaan pertama Islam dengan Nusantara sabagaimana ditulis oleh HAMKA yang mengutip tulisan I Tsing seorang biksu Budha dari Tiongkok tentang berita kedatangan utusan Ta Cheh atau raja Arab kepada penguasa Ho Ling atau Kalingga. Kedatangan utusan itu diperkirakan pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyyah bin Abi Sofyan r.a. Berikutnya, juga terjadi surat-menyurat antara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan raja Sriwijaya Jambi, namun hingga kini belum diketahui sejauh mana hubungan antara Daulah Islam dengan kerajaan Sriwijaya, karena kemudian kerajaan ini tercatat sebagai imperium Budha terbesar di Nusantara.

Hubungan antara Islam dan Nusantara kemudian lebih banyak terjalin sebagai relasi bisnis. Ilmu pelayaran kaum muslimin yang berkembang pesat menyebabkan para pelaut dan pedagang Islam mampu menjangkau ke berbagai pelosok kepulauan Nusantara. Akhlak Islam yang mulia tercermin dari sikap para pengelana muslim sehingga menarik hati relasi bisnisnya yang tersebar di berbagai pulau-pulau Nusantara. Pada akhirnya para pedagang serta penguasa lokal banyak yang memilih untuk memeluk agama Islam sehingga memunculkan komunitas-komunitas Islam di kota-kota pelabuhan atau bandar. Tidak sedikit di antara komunitas muslim tersebut pada akhirnya membentuk pemerintahan Islam seperti Samudera Pasai dan Malaka. Meskipun pemerintahan Islam dan komunitas muslim di Nusantara tidak pernah bersinggungan dengan kekuasaan lokal yang beragama Hindu dan Budha, namun hingga abad ke-13 mereka (kekuasaan Islam) masih kalah pengaruh dibandingkan dua imperium yang bergantian memimpin Nusantara;Sriwijaya dan Majapahit.

Serangan Tatar, burung Hudhud, dan Semar Badranaya

Sejak perkenalan pertama Islam dengan Nusantara, dakwah hanya berkutat di kalangan para pelaku perdagangan di bandar-bandar Nusantara, seperti Barus di pesisir Sumatra Timur, Malaka, Sunda Kalapa, hingga Sidayu, Gresik yang merupakan kawasan komunitas muslim tertua di Nusantara. Masuk Islamnya penguasa lokal seperti di Samudera Pasai dan Malaka masih belum mampu memasifkan gerak dakwah di Nusantara. Dakwah besar-besaran di Nusantara justru berawal dari sebuah bencana. Tahun 1258 M, Baghdad pusat peradaban Islam digulung oleh pasukan Tatar Mongol. Kurang lebih satu juta muslim dibantai dalam lima hari dan sang Khalifah dibunuh secara keji oleh balatentara Hulagu Khan tersebut. Selain itu jutaan buku pembangun peradaban dibuang dan dijadikan jembatan di sungai Dajlah dan Furat. Meskipun demikian, nestapa di Baghdad justru berbuah positif; Pertama, menyatukan kembali kaum muslimin yang pada saat itu terpecah-belah akibat berbagai perbedaan mulai dari madzhab, ilmu kalam hingga perbedaan wilayah geografis dan budaya. Penaklukan Baghdad justru membangkitkan kaum muslimin di kawasan Maghrib (Afrika dan Andalusia) untuk peduli terhadap masalah yang terjadi di Masyriq (wilayah Syam, Arabia, dan sekitarnya). Dampak penyatuan ini sangat dahsyat sehingga hanya dalam waktu dua tahun invasi Tatar Mongol bisa dihentikan kaum muslimin pada pertempuran Ain Jalut dan setahun kemudian Daulah Khilafah Islamiyyah bangkit kembali di Kairo Mesir setelah salah seorang keturunan Bani Abbas dibaiat oleh Sultan Mesir. Paska kehancuran Baghdad, futuhat kembali bergaung, dakwah dan jihad kembali semarak, salah satu efeknya banyak balatentara Tatar Mongol yang masuk Islam, bahkan tiga kerajaan warisan Jenghis Khan, yaitu Kipchak, Chagatay dan Golden Horde berubah menjadi kesultanan Islam. Efek lainnya adalah munculnya banyak tokoh pemimpin umat baik dari kalangan ulama’ maupun umara’ yang sangat peduli terhadap kebangkitan kembali peradaban Islam. Dari kalangan ulama’ terdapat Imam Taqiyuddin Ibn Taimiyyah, Imam Izzuddin ibn Abd-Salam, Imam Nawawy, juga Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Sedangkan, di kalangan umara’ lahir sosok Syaifuddin Qutuz, Baybars al-Bunduqdury, Al Mansur Qalawun, serta Utsman Ertughrul dan anak turunnya para Sultan Ghazy Utsmaniyyah. Kedua, nestapa Baghdad serta invasi Mongol membuat banyak ulama’ dan cendekiawan muslim yang mengungsi dari negerinya, ada yang mengungsi ke barat, ke arah Mesir dan Maghribi, namun tidak sedikit yang pergi ke arah timur, ke India menjadi faktor kebangkitan Kesultanan Mughal, juga ke arah Asia Timur;Bengal, Rohingya, Fattani, Champa, dan juga Nusantara.

Semarak kebangkitan peradaban Islam 100 tahun paska serbuan Mongol-Tatar ke Baghdad inilah yang dicatat oleh seorang ‘alim dari Maghrib yang melakukan penjelajahan ke negeri-negeri Timur peradaban Islam, beliaulah Abu Abdullah ibn Batutah. Ibnu Batutah menjelajahi jazirah Arab, Persia, Anatolia, kawasan Tanduk Afrika, Asia Tengah hingga Tiongkok. Ibnu Batutah sempat diangkat menjadi qadhi Kesultanan Delhi, menjadi utusan Sultan Utsmani serta menjalin persahabatan dengan Sultan Ibn Mahmud, cucu Hulagu Khan dari Kesultanan Chagatay juga Sultan Malik as-Shalih dari Kesultanan Samudra Pasai. Perjalanannya beliau catat dalam buku Rihlah Ibn-Batutah. Dalam singgahnya di Kesultanan Samudra Pasai, Ibn Batutah sempat mencatat kondisi Nusantara serta menamai beberapa pulau utamanya.

“Kesultanan Samudra terletak di jazirah yang bergunung-gunung, penghasil kayu wangi dan kapur barus, kondisinya mirip dengan kondisi Andalusia, inilah Jazirah al Andalus. Di sebelahnya terdapat jazirah penghasil biji-bijian dan terkenal memiliki tanah yang subur, Jazirah Yawaddi. Rempah-rempah dihasilkan di jazirah yang dipimpin oleh banyak raja, Jazirah al-Mulk. Sedangkan jazirah paling timur mengingatkan kami akan kaum yang ditemui oleh Iskandar Dzulqarnain, kaum yang tinggal di tempat terbitnya matahari dan masih belum menutup auratnya dengan sempurna, Jaziratul Uryan.”

Catatan Ibn Batutah ini kemudian dihadiahkan oleh Sultan Maghrib kepada Sultan Muhammad I dari Kesultanan Utsmani, sehingga menarik hati sang Sultan Ghazi untuk mengirimkan tim dakwah ke Nusantara wa bil khusus ke tanah Jawa. Peran Ibn Batutah dalam proses Islamisasi Nusantara ini nanti dalam Babad Tanah Jawi digambarkan sebagaimana peran burung Hudhud yang menyampaikan kabar Ratu Bilqis dan kerajaan Saba kepada Nabiyullah Sulaiman a.s.

Berbekal catatan Ibn Batutah, Sultan Muhammad I mengirim tim dakwah yang terdiri dari para ulama’ tangguh dan serba bisa ke tanah Jawa yang pada saat itu dikuasai oleh Majapahit, imperium dan kekuatan utama di Nusantara. Para ulama pelopor yang dikirim antara lain Maulana Muhammad al-Maghribi, ulama’ Maghrib, sahabat Ibn Batutah, serta memiliki keahlian ru’yah syar’iyyah. Tugas utamanya selain mendakwahkan Islam adalah membersihkan tanah Jawa dari kekuatan sihir, jin jahat, serta pengaruh negatif lainnya. Selain itu ada Sayyid Muhammad Al Baqir, ulama Persia ahli Sosio-Antropologi, yang bertugas mengamati kondisi masyarakat Jawa, geografisnya, hingga melakukan mitigasi bencana dengan melakukan pengamatan gunung-gunung api di Jawa. Sebagai bentuk penghormatan atas peran besar Muhammad al-Maghribi atau Ki Ageng Gribig dalam lidah Jawa dan Muhammad Al Baqir atau orang Jawa memanggilnya Syaikh Subakir dalam permulaan dakwah Islam di Jawa, Sunan Kalijaga menciptakan tokoh wayang, Semar Badranaya dan Kyai Petruk. Ulama’ lainnya antara lain Maulana Ahmad Jumadil Kubro, ulama Samarkand yang bertugas sebagai duta resmi Utsmani di Trowulan. Juga terdapat Maulana Ishak, ulama ahli pengobatan yang berasal dari Asia Tengah dan Maulana Malik Ibrahim, ahli politik, hukum tata negara, serta pertanian dari Turki. Juga Maulana Taqiyyuddin dan Maulana Aliyuddin yang berasal dari Palestina. Para ulama’ ini saling bahu-membahu dan melakukan regenerasi mengikuti kondisi Tanah Jawa serta untuk mengganti para ulama’ yang kembali ke negerinya atau yang wafat. Dewan Ulama’ ini kemudian dikenal masyarakat luas sebagai Wali Sanga. Peran besar mereka cukup mencengangkan yaitu berhasil mengislamkan separuh Nusantara serta menghilangkan pengaruh kekuasaan Majapahit dalam waktu kurang dari 50 tahun. Pertanyaan paling mengemuka hingga hari ini adalah, bagaimana thariqah dakwah mereka?

Dakwah Wali Sanga

Dalam buku-buku teks sejarah di negeri ini seringkali digambarkan dakwah para ulama’ ini adalah dengan dakwah keliling dan atau pagelaran gamelan dan wayang. Penerjemahan kropak lontar yang saat ini tersimpan di Ferrara Italia, juga penelaahan mendalam Het Boek van Bonang dapat diketahui secara pasti gambaran dakwah para ulama’ yang tergabung dalam Wali Sanga. Dan apabila kita menbandingkan thariqah dakwah mereka dengan thariqah dakwah Rasulullah Saw, maka kita bisa membagi fase dakwah Wali Sanga ke dalam tiga fase dakwah.

Fase yang pertama adalah fase pembinaan. Fase ini ditandai dengan kedatangan Wali Sanga angkatan pertama. Selain melakukan penjajagan terhadap kondisi Jawa, mereka juga dengan getol melakukan pembinaan-pembinaan Islam di berbagai kalangan. Maulana Taqiyyuddin dan Aliyuddin melakukan pembinaan di kalangan pelaku ekonomi di kota-kota bandar di Jawa juga membina komunitas Islam di kawasan tersebut untuk siap menopang dakwah di era selanjutnya. Maulana Ahmad Jumadil Kubro berdakwah dan melakukan pembinaan dengan kalangan petinggi Majapahit di Trowulan. Adapun Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak, Ki Ageng Gribig, dan Syaikh Subakir mendakwahi kawula alit di pelosok-pelosok Jawa. Fase inilah yang digambarkan oleh R.Ng. Ronggowarsito sebagai era berbaring panatagama (pembeberan ajaran agama Islam).

Kondisi sosio-politik Jawa paska Perang Paregreg serta semakin kuatnya penopang dakwah membuat fase dakwah para ulama’ ini beralih ke fase tafaul dengan berinteraksi secara langsung kepada umat. Tahap ini yang paling menonjol adalah munculnya shiraul fikri (pergolakan pemikiran) dan kifahus siyasi (perjuangan politik) yang dilakukan oleh para ulama’ yang tergabung dalam Wali Sanga. Contoh pergolakan pemikiran salah satunya ketika Maulana Rahmatullah atau Sunan Ampel mendakwahkan konsep mo limo yang mengkritik keras ritus Bhairawa Tantra yang dianut sebagian besar petinggi dan rakyat Majapahit. Juga ketika Raden Said atau Sunan Kalijaga yang melakukan demitologi wayang yang awalnya bagian ritual peribadatan Hindu menjadi hanya sekedar kisah hikmah dan bagian dari uslub dakwah Islam.

Adapun perjuangan politik, dilakukan dengan dakwah penyadaran akan pentingnya penerapan Islam dalam bingkai negara, mengungkap keburukan penguasa yang menerapkan sistem kufur, berjuang menghadapi serangan negara kafir imperialis, dan itu semua dilakukan tanpa kekerasan. Raden Paku atau Sunan Giri menciptakan tembang dolanan Lir Ilir yang isinya mengajak penguasa Majapahit agar menerapkan syariat Islam karena kekuasaan sudah compang-camping di sana-sini serta mengingatkan mereka bahwa rakyat Majapahit sudah memeluk Islam dan ingin hidup di bawah naungan kekuasaan Islam. Di satu sisi untuk menghadapi serangan imperialis Portugis yang saat itu berhasil menguasai Kesultanan Malaka dan berupaya menyebarkan agama Nasrani di Nusantara, Sunan Kalijaga menggubah cerita wayang berjudul dewa srani. Semua itu disampaikan dalam dakwah, tabligh, serta uslub-uslub seperti pagelaran wayang dan acara grebeg maulid sehingga mampu menarik mayoritas masyarakat.

Pada tahap ini pembinaan intensif (tatsqif murakkazah) masih dilakukan bahkan dilembagakan dan dilakukan secara massif melalui pembangunan lembaga pendidikan berupa pondok pesantren. Sunan Ampel membangun pesantren di Surabaya serta membina banyak calon ulama’ dan pemimpin umat, seperti Raden Paku (Sunan Giri), Raden Said (Sunan Kalijaga), juga para pangeran Majapahit yaitu, Raden Patah (sultan Demak pertama), Raden Batara Katong (adipati Ponorogo), Raden Bondan Kejawan (leluhur sultan Mataram Islam). Hal serupa juga dilakukan oleh Sunan Giri dimana pesantren Giri Kedaton menjadi kawah candradimuka para calon ulama’ dan pemimpin yang mendirikan kesultanan di Palembang, Pontianak, Banjar, Bima, Makassar, Ternate, hingga Sulu di Filipina selatan. Mereka (para ulama’ ini) terjun langsung ke masyarakat, hidup di antara mereka, bahkan menggunakan kemampuan mereka untuk membantu masyarakat. Maulana Malik Ibrahim misalnya mengajarkan metode pertanian baru, mengenalkan tanaman padi serta pengenalan model irigasi untuk mengatasi kelaparan yang melanda Jawa kala itu, usaha ini kemudian diteruskan oleh Sunan Kalijaga yang menciptakan berbagai alat pertanian yang memudahkan para petani. Maka dakwah ini hanya dalam tempo beberapa dasawarsa mampu mengislamkan mayoritas rakyat Jawa dan mencapai tahap akhirnya, istilamu al-hukmi.

Pada era itu perang saudara panjang melanda Jawa. Terjadi perebutan kekuasaan antara Kedaton Kulon (Trowulan) dengan Kedaton Wetan (Blambangan) ditambah kudeta yang dilakukan Kadipaten Gelang-Gelang. Kondisi ini selain menciptakan kesengsaraan yang sangat parah di kalangan rakyat juga memicu ketidakpuasan para nayaka (pejabat) Majapahit terutama para adipati-adipati di wilayah pesisir. Wilayah-wilayah pesisir seperti Surabaya, Gresik, dan Tuban merupakan wilayah yang kaya karena merupakan gerbang perdagangan baik dengan wilayah lain di Nusantara maupun dengan luar negeri seperti Tiongkok dan Arabia. Peperangan yang terus menerus sedikit banyak mempengaruhi ekonomi Majapahit yang berdampak pada lesunya perdagangan di kawasan pesisir. Secara politik kadipaten-kadipaten pesisir merasa ditinggalkan dan hanya dijadikan sapi perahan oleh penguasa yang sibuk bertengkar satu sama lain. Kondisi inilah yang dibaca oleh para ulama’ sehingga mereka meminta nushroh kepada para adipati dan penguasa wilayah pesisir untuk melindungi dan turut serta mengemban dakwah Islam serta menjadi jalan tegaknya institusi pemerintahan Islam di tanah Jawa dan lebih luasnya ke seluruh penjuru Nusantara. Gayung pun bersambut banyak adipati dan penguasa kawasan pesisir Majapahit menyerahkan kekuasaannya kepada para wali. Sunan Ampel mendapatkan nushroh dari mertuanya, Ki Ageng Bungkul yang merupakan adipati Surabaya. Sunan Giri menerima kekuasaan Gresik dari syahbandar Gresik yang juga ibu angkatnya Nyai Ageng Pinatih. Dan yang terbesar adalah ketika Raden Patah, adipati Glagah Wangi dan putra Bhre Kertabhumi atau Raja Brawijaya V pada tahun 1468 mengukuhkan wilayahnya sebagai Kesultanan Demak Bintoro yang merdeka dari Majapahit dan mendapat gelar dari Sultan Muhammad II dari Utsmani sebagai Sultan Abdul Fatah Alamsyah Akbar. Dengan berdirinya Kesultanan Demak serta meredupnya Majapahit yang terus menerus mengalami pemberontakan dan kudeta berdarah, dakwah Islam di Nusantara mencapai puncaknya dengan tegaknya puluhan kesultanan Islam di seluruh penjuru Nusantara. Nusantara kemudian mencapai masa keemasannya dan melahirkan banyak ulama’-ulama’ besar yang diakui oleh dunia Islam di masa itu. Meskipun masa keemasan peradaban Islam di Nusantara berjalan singkat karena kedatangan imperialis Barat, namun selama kurang lebih 4 abad secara kolosal kaum penjajah disuguhi jihad fie sabilillah yang merata di seluruh penjuru Nusantara.

Inilah futuhat Nusantara yang dihasilkan dari tangan-tangan para ulama’ tangguh yang menyalakan cahaya Islam di seluruh penjuru negeri. Mereka dengan istiqomah mengikuti manhaj dakwah Rasulullah Saw, memaksimalkan sumber daya, tidak takut dengan berbagai ancaman, hingga akhirnya berhasil mewujudkan perubahan di negeri ini. Maka kita yang hari ini merindukan kembali tegaknya peradaban Islam dalam naungan Islam, bisa mengambil ibrah dari para pendahulu kita sehingga tidak lama terwujud tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah.

One thought on “Futuhat Nusantara

  1. Aamiinn ya Rabb..

    Membacanya seakan menyelami buku2 sejarah yg tdk prnh trdiscover o/ pndidikan konvensional saat ini..

    Dtunggu trus update.n bang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s