Karena Kami Ingin Hidup 100.000 Tahun Lagi

12745688_10207314367355358_164170822327983079_nAnas, sahabat kental saya pernah mengatakan bahwa saya memiliki kemampuan unik. Saya bisa nulis atawa bisa membuat artikel yang enak dibaca, tetapi saya juga bisa ngomong alias jadi pembicara yang enak di dengar. Jujur ini bukan saya sombong apalagi mengiklankan diri karena akhir-akhir ini saya belum punya niat untuk poligami. Saya sudah sering bertemu, ngobrol, dan bersahabat dengan penulis. Mulai dari penulis buku best seller hingga penulis skripsi tebal hehehe. Ada yang memiliki kemampuan seperti saya (dengan kemampuan jaaaauuuuuuuuuhhhh di atas saya), namun tidak sedikit yang tulisannya nampol tapi kalau ngomong tergagap-gagap. Artinya menulis itu sulit, jadi pembicara juga apalagi menjalani kedua hal tersebut dengan sama baiknya.

Siang itu menjelang sore dua buah paket mampir di kantor saya yang kebetulan berada di pojok Buitenzorg. Paket dari salah satu kota di pulau Borneo tersebut adalah hasil koresponden saya dengan pengirimnya sebulanan lalu. Paket itu berisi buku “Republik Mafioso”, tulisan-tulisan blog Burjo yang dibukukan dan dicetak oleh penerbit Anomali. Di dalam paketnya disisipi buku “I’m Muslim Don’t Panic” kang Divan Semesta, buku yang memuat tulisan-tulisan kang Divan sewaktu masih ada Openmind. Membaca kata pengantarnya membuat saya memasuki lorong waktu.

Saya lupa bulan dan tahunnya tapi saya ingat ketika itu kami dipertemukan di sebuah acara Simposium LDK se Indonesia di kampus UM Malang. Saat itu saya tidak mewakili kampus manapun karena kondisi saya sudah di ujung kelulusan. Beliau memperkenalkan diri mewakili Institut Seni Indonesia di Yogya, jurusannya keren;Desain. Sosoknya langsing seperti saya, selain berkenalan beliau juga promosi majalah mini yang ia buat; The Brain Storming alias si Badai Otak. Promotor saya si Anas bilang majalah itu menang di desain tapi seri terkait konten tulisan ama Burjo (yang pasti Burjo udah kalah karena di jaman itu kami mendesain Burjo menggunakan word, butuh setahun ketika Anas ngelamar jadi desainer Burjo menggunakan program Paint, satu setengah tahun ketika saya bertemu dengan mbak Kana dan cak Arif Bodrex yang ikut cawe-cawe mendesain Burjo dengan Corel, dan butuh dua tahun kemudian ketika saya baru membenahi Burjo dengan Corel dan Photoshop hehehe). Gak lama kemudian saya coba-coba promosiin tulisan saya buat dicetak.

Mengingat bos Badai Otak mengingatkan saya pada film Kungfu Jungle yang bercerita tentang pendekar kungfu pemula yang menyusuri Hongkong untuk mencari dan menantang para legenda kungfu. Dia (bos Badai Otak) nekat membuat penerbitan, mengontak para penulis-penulis sableng yang dulu pernah ngeksisin tulisannya di si mini legendaris Openmind. Sebuah usaha yang lumayan nekat mengingat dia tidak pernah berjumpa muka dengan para penulis tersebut. Masalah berikutnya adalah banyak di antara penulis tersebut adalah manusia dengan nama alias. Sampai sekarang saya gak tau nama asli PYTM atau Chibi Maruko, saya baru ngeh kang Divan namanya kembaran sama saya, dan yang saya tahu bang Ali Mufti bosnya Openmind itu paling banyak punya nama alias. Dari sinilah saya curiga mengapa dulu saya diundang jadi pembedah buku kang Divan “Buried Alive” di gelaran Book Fair di kota Malang. Sepanjang acara banyak yang nanya gimana rasanya jadi editor Openmind, saya hanya geleng-geleng kepala lha wong posisi saya adalah di tim pemasaran, tim pemasaran paling dasar karena saya adalah tukang loper yang ngedarin Openmind dari tangan para agen.

Lama kami tidak pernah berjumpa muka. Bahkan ketika buku saya telah tercetak kami hanya berkomunikasi melalui dunia maya. Terakhir dia mengabarkan akan menutup selamanya percetakan yang pernah menghidupkan kembali manusia-manusia pejuang seperti kami. Mendengar kabar tersebut saya menundukkan kepala. Saya, para punggawa Openmind, para penggila zine dan magz, termasuk komandan Badai Otak, adalah generasi awal reformasi. Saya teringat salah satu tulisan Soe Hok Gie pada salah satu memoarnya tentang generasinya, generasi yang terbiasa membuat pamflet, radio gelap, merumuskan aksi unjuk rasa, dsb yang pada masa ketika negeri ini sudah mengalami kestabilan segala ketrampilan tadi sudah tiada lagi berharga.

Generasi kami adalah generasi reformasi, era dimana benturan ideologi mulai menguat di negeri ini. Di kampus-kampus muncul berbagai uslub dakwah yang tidak terbayangkan di era-era sebelumnya dan era itu sekarang perlahan-lahan berubah. Tapi kami menolak mengibarkan bendera putih, kami menolak dikebumikan. Seperti syaikh Aa’ Syamsuddin yang melahirkan generasi Muhammad Al Fatih yang merobohkan tembok kokoh Konstantinopel. Seperti syaikh Abdul Qadir Jailani dan hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali yang memunculkan para mujahid besar; Imaduddin Zanki, Nuruddin Mahmud, dan Shalahuddin Al Ayyubi yang menghantam kaum salibis di Syam. Kami ingin tercatat seperti mereka, kami ingin dicatat seperti mereka.

One thought on “Karena Kami Ingin Hidup 100.000 Tahun Lagi

  1. Terus terang sya ngeblog, belajar nulis..gara2 baca mini magz gak gena iku: openmind, badaiotak, don’t panic nya kang divan.. Tapi era nya udah berubah, mungkin uslub nya jg berubah..sekarang qta hidup di zaman org lebih suka baca tweet–140 karakter–ketimbang majalah, itu pun udah mini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s