Blitzkrieg; Dari Khaibar, Polandia hingga Yogya

Blitzkrieg, sebuah taktik militer yang digunakan werhmacht atau satuan tempur Jerman yang menjadi pengobar Perang Dunia II yang membakar Eropa. Blitzkrieg sukses mengacak-acak pertahanan negara-negara Eropa yang notabene merupakan pemenang Perang Dunia I serta melambungkan balatentara Jerman yang sebelumnya telah dicobak-cabik dengan Perjanjian Versailles. Blitzkrieg sendiri secara bahasa diambil dari bahasa Jerman; Blitz atau kilat dan Krieg atau perang, sebuah strategi perang total yang secara cepat dan tepat menusuk jantung pertahanan musuh, menyebabkan kekalahan total baik fisik maupun (terutama) moril. Sejarah (sering kali) mencatat bahwa strategi ini dimunculkan oleh Jerman, padahal kalau kita ulik lebih dalam strategi ini justru muncul pertama di Jazirah Arab ketika pasukan Daulah Islam di bawah pimpinan Rasulullah Muhammad Saw membasmi institusi Yahudi. Maka inilah Blitzkrieg atau Perang Kilat yang muncul dan berjaya di Khaibar, digdaya dan modern di Polandia, serta terseok-seok dan gagal ketika menginvasi Yogyakarta.

Serangan Kilat dari Daulah

Khaibar wilayah sejauh 8 pos dari Madinah serta pemukiman besar kaum Yahudi di Jazirah Arab yang bertahun-tahun menjadi duri dalam daging Daulah Islam.Khaibar merupakan wilayah pertanian yang subur dengan kebun kurma dan buah-buahan, secara bahasa Yahudi, Khaibar bermakna benteng dan memang kota ini merupakan kota berbenteng-benteng serta dikelilingi tebing-tebing batu dan perkebunan kurma yang rapat.

Daulah Islam sendiri telah berpengalaman menghadapi institusi Yahudi di Madinah dan pasca penandatanganan hudnah Hudaibiyyah dengan kaum Quraisy Mekkah, Rasulullah secara tegas memerintahkan penyerbuan besar ke Khaibar. Sebelum penyerbuan besar Rasulullah melakukan perang urat saraf dengan melakukan pembersihan terhadap pemimpin Khaibar. Perang non konvensional ini dilakukan Rasulullah dengan mengirim Abdullah bin Atik, Mas’ud bin Sinan, Abdullah bin Unais, Abu Qatadah bin Rib’iy, dan Khuza’iy bin Aswad; para sahabat dari kalangan Khazraj untuk mengeksekusi Abu Rafi’ Sallam bin Abi Hakik, pemimpin Yahudi Khaibar. Regu khusus yang dipimpin oleh Ibnu Atik ra ini melakukan infiltrasi dan penyamaran secara diam-diam ke Khaibar. Setelah mampu mengelabui penjaga benteng Khaibar mereka memasuki rumah Abu Rafi’ dengan berpura-pura sebagai tamu. Ibnu Atik mengetahui posisi Abu Rafi’ di dalam kamar, maka seketika itu dengan memanfaatkan kelengahan keluarganya, ia mengeksekusi Abu Rafi’ dengan menusukkan pedang hingga tembus ke punggung. Setelah menyelesaikan misinya, kelima sahabat tersebut langsung menyelinap keluar. Tidak lama kemudian istri Abu Rafi’ menyadari siapa sesungguhnya dan apa maksud kedatangan tamunya, ia langsung berteriak dan membangunkan seisi Khaibar. Gelapnya malam segera berubah menjadi hingar-bingar sehingga menyebabkan Ibnu Atik dan kawan-kawan bersembunyi di saluran air dan secara diam-diam meninggalkan Khaibar menuju Madinah.

Paska kematian Abu Rafi’, Yahudi Khaibar mengangkat al-Yasir bin Razzam sebagai pemimpin. al-Yasir mulai mengontak Ghatafan untuk menyerang Daulah Islam. Rasulullah Saw mengirim Abdullah bin Rawwahah dan tiga orang temannya untuk menyelidiki hal tersebut. Setelah menyampaikan apa yang ia dapati di Khaibar, Rasulullah Saw kembali mengirim Abdullah Rawwahah bersama 30 orang untuk mengatasi masalah al-Yasir. Ibnu Rawwahah berpura-pura melakukan negosiasi dengan al-Yasir serta menawarkan jabatan kepadanya dengan syarat mau menghadap Rasulullah. al-Yasir setuju karena ia berharap dapat melaksanakan niat rahasianya;menghancurkan Daulah Islam. Dengan dikawal 30 orang (sehingga masing-masing kaum muslimin mendampingi satu orang Yahudi) al-Yasir berangkat menuju Madinah. Di Qarqarahtahbar, al-Yasir menyadari misi Ibnu Rawwahah dan hendak kembali ke Khaibar. al-Yasir sempat berusaha mengambil pedang Abdullah bin Unais namun Abdullah menyadarinya sehingga keduanya saling dorong, serang dan menyabetkan senjata masing-masing. al-Yasir tewas seketika sedangkan Abdullah bin Unais banyak menderita luka goresan. Masing-masing kaum muslimin mampu menewaskan orang-orang Yahudi pengawal al-Yasir kecuali satu orang berhasil melarikan diri. Paska kejadian ini Khaibar mengalami ketakutan yang amat sangat dan tinggal menunggu waktu kapan pasukan Rasulullah Saw datang kepada mereka.

Dan serangan itu datang, paska penandatanganan Perjanjian Hudaibiyyah Rasulullah Saw mengarahkan pandangannya ke Khaibar selaku pihak yang menjadi penghalang dakwah Islam di Jazirah Arab. Mendengar perjanjian antara Quraisy dan Daulah Islam, pihak Khaibar langsung meningkatkan persekutuan dengan Ghatafan dan menyepakati kebijakan saling membantu apabila salah satu pihak diserang oleh Daulah Islam.

Rasulullah dan pasukan berangkat ke Khaibar beberapa hari setelah perjanjian Hudaibiyyah. Pasukan tersebut berkekuatan 1600 personel, 200 di antaranya menunggang kuda dan terdiri dari para sahabat yang melakukan baiatur ridwan (baiat kesetian yang dilakukan sahabat menjelang perjanjian Hudaibiyyah), personel pilihan tersebut menutup kemungkinan keterlibatan kaum munafik yang dapat mengacaukan barisan pasukan. Di persimpangan jalan antara Khaibar dan Ghatafan, Rasulullah mengirim detasemen kecil ke arah Ghatafan untuk melakukan manuver false flag. Pada saat itu orang-orang munafik membocorkan pergerakan pasukan Rasulullah Saw sehingga membuat Khaibar meminta pertolongan kepada sekutu mereka Ghatafan. Pasukan Ghatafan sedang bersiap menuju Khaibar ketika mereka mendengar derap kuda di belakang pemukiman mereka sehingga mereka mengurungkan niat membantu Khaibar, ketakutan sewaktu-waktu dihancurkan oleh kekuatan Daulah Islam. Tanpa bantuan dari Ghatafan posisi Khaibar seperti bebek yang duduk diam menunggu serbuan besar dari Rasulullah dan para sahabat.

Pasukan Islam banyak melakukan perjalanan di malam hari. Dini hari mereka sampai di Khaibar dan segera membangun perkemahan di sekeliling perbentengan Khaibar. Rasulullah Saw menyemangati serta mendoakan kemenangan bagi para pasukan. Pagi menjelang, para petani Khaibar terkejut mereka telah terkepung rapat oleh pasukan Islam. Melihat kedatangan pasukan Islam, Khaibar segera mengonsentrasikan seluruh pasukannya di benteng-benteng mereka, total ada 8 benteng (Naim, Sha’b, Zubair, Ubay, Nizar, Qamush, Wathih, Salalim) besar dan beberapa kubu pertahanan kecil di sekeliling Khaibar dan membentuk pertahanan serupa huruf U;kura-kura telah masuk ke dalam tempurung. Pagi itu juga Rasulullah memerintahkan penyerangan serta pengepungan secara ketat benteng-benteng Khaibar. Rasulullah Saw membagi pasukan menjadi beberapa divisi dan diserahi satu benteng untuk ditaklukkan. Pertempuran pun terjadi sangat sengit sehingga menyebabkan masing-masing benteng terputus jalur komunikasinya karena menghadapi pengepungan yang rapat. Rasulullah Saw sendiri memimpin pasukan inti menghabisi kubu-kubu pertahanan depan Khaibar. Dalam waktu sehari sebagian besar kubu pertahanan depan Khaibar dapat dihancurkan menyisakan benteng Naim yang merupakan kubu pertahanan utama. Rasulullah Saw memerintahkan sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq ra memimpin pengepungan Naim, namun hingga malam menjelang Naim masih berdiri kokoh. Esoknya, pucuk komando diserahkan kepad sayyidina Umar ibn Al Khattab ra dan langsung menggebrak pertahanan benteng Naim. Hingga hari berakhir benteng Naim masih terkepung secara ketat namun belum menunjukkan tanda-tanda menyerah. Esok harinya komandan lapangan diserahkan kepada sayyidina Ali ibn Abi Thalib kw, di tengah-tengah pengepungan Harits bin Abu Zaenab, pemimpin Khaibar sekaligus komandan benteng Naim sempat melakukan serangan terbuka untuk sekadar mengendurkan pengepungan. Naas, pasukannya langsung dihancurkan pasukan kaum muslimin dan dirinya tewas seketika. Tewasnya Harits bin Abu Zaenab menyebabkan moril pasukan Khaibar menurun, dalam waktu seketika sebagian benteng-benteng Khaibar dengan mudah ditaklukkan dan hanya menyisahkan benteng Wathih dan Salalim. Jatuhnya banyak korban, runtuhnya moral serta terampasnya banyak harta benda mereka menyebabkan pemimpin Khaibar mengibarkan bendera putih, menyerah dengan syarat nyawa mereka tidak dihabisi. Rasulullah Saw menyetujui persyaratan tersebut serta menambahkan syarat bahwa separuh hasil bumi Khaibar diserahkan kepada Daulah Islam.

Petir Menyambar Polandia (dan Eropa)

_72827546_hitlerPaska penandatanganan pakta Molotov-Ribbentrop antara penguasa Jerman yang dikuasai NAZI dengan Uni Sovyet, Eropa masih belum tersadar bahwa bayang-bayang perang besar mulai mendekati Eropa. Jerman yang telah menyiapkan berbagai elemen tempur darat, laut, dan udara serta komunikasi dan intelejen. Jerman bersiap melebarkan kekuasaannya (libensraum) ke seluruh Eropa.

1 September 1939, seluruh angkatan perang Jerman menyerbu secara cepat ke Polandia. Luftwaffe atau Angkatan Udara Jerman menyapu seluruh obyek vital Polandia, disusul barisan panzer dari angkatan darat Jerman. Polandia sempat melakukan perlawanan namun serangan Sovyet di front timur negara tersebut mempercepat jatuhnya Polandia. Dalam waktu sebulan Polandia diduduki secara penuh oleh Jerman-Uni Sovyet.

Eropa terkejut, Inggris, Australia, Selandia Baru, Prancis, Afrika Selatan, dan Kanada langsung menyatakan perang terhadap Jerman. Namun hingga Mei 1940, pernyataan perang tersebut tidak diikuti dengan aksi nyata. Maka pada 10 Mei 1940 Jerman melakukan serangan kilat ke Belanda, Belgia, dan Prancis. Garis Maginot, kubu pertahanan di perbatasan Prancis-Jerman dapat ditembus setelah unit kavaleri Jerman menembus hutan Ardennes di Belgia. Seluruh Eropa tersambar kilat Jerman. Dalam waktu satu bulan pasukan gabungan Eropa dapat didesak hingga Dunkirk, pesisir barat Prancis. Seluruh pasukan Eropa tidak mampu menahan laju invasi Jerman dan secara terburu-buru menyeberangi selat Channel menuju Inggris dengan meninggalkan banyak alat-alat berat. Inilah invasi yang melambungkan werhmacht sebagai satuan tempur terbaik Eropa, juga melambungkan nama-nama seperti Erwin Rommel yang divisi tempurnya (7th Panzer Division-Divisi Tank ke-7) dijuluki sebagai Gaspenter-unit atau unit hantu karena kecepatannya dalam menaklukkan Eropa.

Eropa terbakar Perang Dunia dan baru satu tahun kemudian (Juni 1941) kekuatan sekutu mulai membalas serbuan Jerman.

Gagak Gagal Terbang di Yogyakarta
18 Desember 1948, terdengar desas-desus bahwa esok hari Dr. Beel, wakil pemerintahan Belanda akan menyampaikan pidato terkait kelanjutan hubungan RI-Belanda paska perjanjian Renville. Sebelumnya, Panglima TNI, Jenderal Sudirman telah merasakan firasat yang kurang enak terkait tindak-tanduk Belanda. Maka bersama anak buahnya, beliau merumuskan sebuah siasat perang andai Belanda kembali melakukan agresi seperti pada tahun 1947. Dan firasat tersebut benar, dini hari 19 Desember 1947, Bandara Andir Bandung pesawat-pesawat C-47 Dacota, P-40 Kittyhawk, P-51 Mustang, dan B-25 Mitchell mulai memanaskan mesin. Di hanggar bandara, Jenderal Simon Spoor memberikan arahan kepada 1e Para Compagnie-Korps Speciale Troopen. Pukul 04.30, pesawat lepas landas, tujuan mereka jelas;Yogyakarta yang merupakan ibukota Republik Indonesia. Operasi tersebut berlabel Kraai atau Gagak, sang pengabar kematian bagi Republik yang masih belia.

Belanda melakukan serangan kilat kepada Indonesia dengan tujuan menginvasi Yogyakarta, menangkap seluruh pemimpin Republik serta menghancurkan seluruh kekuatan TNI. Pukul 05.45, pesawat-pesawat tempur dan pembom Belanda mulai menyerang Bandara Maguwo. Pukul 06.45, langit Maguwo dipenuhi para penerjun dan beberapa menit kemudian tepatnya pukul 07.10, seluruh Maguwo telah diduduki oleh KST. Pukul 08.00, Dr. Beel menyampaikan pidato di radio bahwa Belanda berlepas tangan dari isi Perjanjian Renville. Selanjutnya pukul 09.00 seluruh kekuatan Belanda yang terdiri dari 432 anggota KST, 2.600 prajurit dari Grup Tempur M, dan 1.900 prajurit Brigade-T (artileri) berkumpul di Maguwo dan selanjutnya mulai bergerak ke arah Yogya. Pukul 11.00, kota Yogyakarta berhasil dikuasai oleh Belanda.

Beberapa jam sebelumnya, ketika raungan pesawat merobek langit Yogya, Panglima Sudirman yang terbujur sakit langsung terbangun. Ia panggil ajudannya, segera ia berpakaian dan siap menghadap Bung Karno. Ketika bom pertama Belanda menghunjam segera kawat dikirimkan ke seluruh pemimpin TNI;Surat Perintah Siasat No.1. Seluruh pasukan TNI bersiap melakukan gerakan gerilya melawan agresi Belanda. Di Gedung Agung, Panglima berusaha membujuk Bung Karno dan segenap pejabat pemerintahan RI untuk ikut memimpin gerilya bersama TNI, namun Bung Karno dengan halus menolak dan menegaskan pendirian pemerintah yang akan melakukan negosiasi dengan Belanda. Sejarah mencatat bahwa negosiasi tersebut gagal, Presiden Sukarno, Wapres M. Hatta, PM Syahrir, dan Menlu H. Agus Salim ditangkap Belanda dan esok harinya diasingkan ke luar Yogyakarta menggunakan pesawat. Namun sebelum penangkapan berlangsung pemerintah sempat melakukan kontak darurat bahwa apabila pucuk pemerintahan tertangkap maka Menteri Negara, Syafruddin Prawiranegara yang berada Sumatera diharuskan membentuk PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dan apabila gagal maka L.N. Palar, diplomat RI yang berada di India diharuskan membentuk pemerintahan darurat di luar negeri.

Belanda memang berhasil menguasai Yogya dan menangkap seluruh petinggi Republik, tapi tujuannya yang ketiga dan utama;melenyapkan kekuatan TNI telah gagal. Pasukan TNI telah melakukan wingate atau menusuk ke garis belakang musuh kemudian melakukan serangan gerilya dari belakang. Nun pasukan Siliwangi yang berhijrah dari Jawa Barat ke Yogya akibat Perjanjian Renville kembali menuju ke barat untuk membentuk kantong gerilya. Gerilya dilancarkan dipimpin langsung sang panglima besar. Berbekal radio pemancar AURI di Playen Gunung Kidul serta radio mobile milik PDRI, pemerintah terus menyiarkan kepada dunia bahwa RI belum habis serta untuk membalas ejekan radio Belanda (yang mengatakan bahwa PDRI adalah pemerintah dalam rimba Indonesia dan dibalas “meskipun dalam rimba namun tetap berada di wilayah Indonesia, bandingkan ketika Belanda dikuasai NAZI (tahun 1940) pemerintahan Belanda justru mengungsi ke Inggris). Di bawah komando Syafruddin Prawiranegara, selaku ketua PDRI pasukan TNI diharuskan menggempur semua kedudukan Belanda. Maka PDRI dan TNI menjadi musuh utama Belanda. Belanda makin meradang karena diplomasi RI yang makin kuat di dunia internasional. Di medan pertempuran, strategi gerilya TNI terbukti cukup jitu menangkal invasi Belanda. Medan perang yang luas dan serangan sporadis menjadi horor bagi balatentara Belanda. Berbeda dengan Jerman yang dengan cepat menguasai Polandia (1939) bahkan Belanda (1940), Belanda justru terseok-seok di Indonesia. Penguasaan ibu kota Yogyakarta tidak menjamin kemengan mutlak bagi Belanda. Belanda semakin malu ketika serangan umum dilancarkan TNI pada 1 Maret 1949 dan mampu menguasai Yogyakarta selama 6 jam. Serangan itu menjadi senjata diplomasi Indonesia di Dewan Keamanan PBB. Belanda dikecam habis-habisan bahkan Amerika mengancam akan menghentikan bantuan apabila Belanda masih nekat menginvasi Indonesia. Pihak Belanda terpaksa melakukan negosiasi dengan Indonesia dan di akhir tahun 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.

Inilah blitzkrieg, sebuah strategi yang lahir dari kejeniusan siasat perang Rasulullah Saw. Strategi yang luar biasa sehingga mampu melampaui zaman dan teknologi kemiliteran. Strategi yang tidak hanya membutuhkan kecerdasan dan keunggulan alutsista namun kekuatan mental para prajurit. Terbukti kekuatan ruhiyyah  para sahabat ridwanullah alaihi mampu menaklukkan benteng kokoh Khaibar, juga kekuatan ruhiyyah para pejuang seperti Panglima Sudirman yang selama memimpin gerilya tak pernah absen melaksanakan qiyamul lail serta selalu dalam kondisi berwudhu mampu menaklukkan keganasan serangan kilat Belanda.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s