Pacar Merah Bersampan Bambu

DN_Aidit_speaking_at_PKI_election_meeting_1955
foto dari wikipedia.com (bukan rekayasa mohon perhatikan sosok di depan podium DN Aidit!!??)

Isu politik yang selalu membuat panas di negeri ini adalah isu ancaman Komunis. Indonesia adalah salah satu negara yang pernah merasakan “invasi” ideologi Komunis di era kebangkitan Komunisme. Invasi ini menghasilkan kekuatan komunis terbesar ketiga di dunia setelah Uni Sovyet dan Tiongkok, lalu pada akhirnya meninggalkan luka yang dalam. Maka sejak era “kelam” pada akhir dekade 60-an isu komunisme merupakan bara dalam sekam perpolitikan Indonesia. Tumbangnya penguasa Orde Baru (yang merupakan pemberangus gerakan Komunis) pada tahun 98 membuka kran bagi para penganut ideologi kiri ini. Hubungan erat rezim saat ini dengan RRC seakan menyalakan sumbu yang siap meledak kapan saja. Tulisan ini mencoba mengungkap benang merah antara Komunisme, Tiongkok, dan hubungan mereka dengan Indonesia serta apa yang ada di balik ini semua. Untuk itu kita kupas satu persatu.

Komunisme

Komunisme atau lengkapnya Sosialisme-Komunis adalah salah satu ideologi yang mengatur umat manusia sebagaimana Islam dan Kapitalisme. Ideologi sendiri adalah ide atau pandangan dasar mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan serta apa yang ada sebelum dan sesudah ketiga hal tersebut, yang dari ide tersebut dapat ditarik berbagai aturan-aturan cabang yang menjawab setiap persoalan manusia. Ide dasar Sosialisme-Komunis adalah Atheisme, yaitu sebuah pemikiran yang menolak segala sesuatu yang gaib. Dari pemikiran tersebut lahirlah konsep Materialisme dimana materi atau segala benda di alam muncul, berdiri, serta musnah dengan sendirinya tanpa campur tangan gaib. Ide ini muncul pertama kali di era keemasan Filsafat Yunani dengan dua tokoh terkemukanya Heraclitos dan Democritus.

Ketika Eropa tenggelam dalam kungkungan kekuasaan gereja dan separuh dunia menikmati cahaya Peradaban Islam, ide Materialisme tiarap. Saat gelombang aufklarung membuka Eropa dan pada akhirnya menjungkalkan kekuasaan gereja, ide ini mulai menggeliat. Muncullah para pemikir-pemikir ternama seperti Freud, Nietzsche, Bakunin, Engels, Feurbach, dan lain sebagainya. Ide ini mencapai titik puncaknya ketika seorang pemikir kelahiran Trier Jerman bersabda “bahwa para filsuf selama ini memikirkan dunia, sekarang saatnya mengubah dunia”. Karl Marx mendialektikan Materialisme dan melahirkan Tesis XI tentang Feurbach, Dialektika Materialisme, dan Manifesto Komunis. Semua ide Marx ini kemudian diprakiskan oleh gerakan buruh Russia atau Bolshevic di bawah pimpinan Vladimir Illich Ulyanov alias Lenin. Paska Perang Dunia I mereka melakukan revolusi di Russia, kekuasaan Tsar terguling dan kekuatan anti Tuhan lahir dengan nama Uni Sovyet.

Sebagai negara yang mengemban ideologi, Uni Sovyet dengan gamblang mengutuk negara-negara kapitalisme Eropa. Sovyet dengan kekuatannya juga mulai menyebarkan paham Sosialisme-Komunis ke seluruh dunia serta membentuk Uni Komunisme Dunia (Komintern). Target awalnya adalah memerahkan Eropa, namun gerakan Komunisme justru bersemi dan merekah di dunia ketiga yang merupakan tanah-tanah jajahan imperialisme Eropa. Adalah Henk Sneevliet, seorang buruh berkebangsaan Belanda yang membawa Komunisme ke Indonesia atau yang saat itu masih bernama Hindia Belanda. Bisa dikatakan Sneevliet adalah Fransiscus Xaverius-nya Komunisme karena ‘dakwah’-nya berhasil dan diterima oleh kalangan pribumi Indonesia. Gerakan Komunisme di awal-awal ini bahkan mampu melakukan infiltrasi pada gerakan politik terpopuler saat itu;Sarekat Islam. SI terpecah menjadi dua, SI Merah yang merupakan infiltran gerakan Komunis dan SI Putih yang masih berpegang pada aqidah Islam. Pada akhirnya atas usul H. Agus Salim, SI melakukan rasionalisasi dan menyebabkan seluruh anggota SI Merah hengkang dan membentuk Sarekat Rakyat. Sarekat Rakyat inilah cikal-bakal PKI, tokoh-tokohnya antara lain Semaun, Darsono, Alimin, H. Misbach, dan Mas Marco Kartodikromo. Gerakan Komunis yang memiliki ciri radikal, penuh pemberontakan, dan melegalkan kekerasan pada akhirnya meresahkan pemerintah Hindia Belanda. Berbagai aksi pemogokan serta kerusuhan yang melanda Hindia Belanda saat itu selalu bermula dari hasutan PKI. Pada akhirnya pemerintah bertindak tegas dengan memberangus PKI. Tokoh-tokohnya banyak dijebloskan ke penjara, dibuang ke Digul, diasingkan ke Belanda bahkan tidak sedikit yang hengkang ke Uni Sovyet, Sneevliet sendiri hengkang menuju kawasan Tiongkok. Hengkangnya para petinggi PKI ke Sovyet seperti Semaun, Alimin, dan Darsono justru menjadikan mereka sebagai ‘guru rakyat’ yang mendidik kader-kader Komunis dari Tiongkok, Vietnam, Korea serta kawasan Asia Tengah, termasuk kader-kader Komunis dari Indonesia yang belajar langsung ke Uni Sovyet.

PKI sendiri telah tiarap ditambah kedatangan balatentara Jepang yang menginvasi Hindia Belanda pada saat gelaran Perang Dunia II. Sebagaimana sekutunya yaitu NAZI Jerman, kekuatan Ultra Nasionalis Jepang juga sangat membenci Komunisme. Namun apalah arti sebuah peluru yang tajam, karena ia tidak akan mampu mencabut ideologi yang telah menancap di kepala.

17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan menandai era baru di Indonesia. Gerakan Komunis mulai bersemi kembali paska tidur panjangnya. Di awal kemerdekaan setidaknya terdapat dua kutub. Pertama, kutub yang digerakkan oleh para tokoh-tokoh jebolan Eropa yang terpengaruh filsafat dan ide-ide Sosialisme Marxian dan kontra terhadap kediktatoran proletarian ala Uni Sovyet. Tokoh-tokoh ini pada akhirnya bergabung dengan gerakan nasionalis Indonesia dan atau membentuk Partai Sosialis Indonesia. Mereka antara lain adalah Sutan Syahrir, Sutan Takdir Alisyahbana, Moh. Hatta, Soe Hok Gie, serta Soemitri Djojohadikusumo. Kedua, adalah anggota dan simpatisan PKI serta kader-kader Komunisme Sovyet. Mereka sangat aktif melakukan gerilya politik dan menggalang kekuatan untuk memerahkan Indonesia. Mereka antara lain, Amir Syarifuddin, Tan Malaka, dan nanti disusul oleh Musso yang telah menyelesaikan pendidikannya di Moscow.

Kebuntuan politik paska penandatanganan Perjanjian Renville ditambah tekanan balatentara Belanda kepada Republik Indonesia menjadi momen bagi PKI untuk unjuk gigi. Musso yang baru datang dari Moskow mendapat mandat dari Sovyet untuk menkosolidasikan kelompok-kelompok Kiri. Bersama Amir Syarifuddin yang baru saja dijatuhkan dari kursi Perdana Menteri, mereka membentuk apa yang disebut sebagai “Komite Front Nasional”, sebuah komite persiapan untuk revolusi. Mereka berencana melakukan berbagai aksi-aksi di kota-kota mulai Surakarta hingga Jombang, serta menyusup ke kubu tentara dan mengadu domba mereka. Aksi mereka dimulai di Surakarta pada Agustus 1948 dengan melakukan penculikan serta pembunuhan terhadap tokoh-tokoh yang tidak sejalan dengan mereka. Aksi mereka dapat ditumpas oleh Divisi Siliwangi namun pada 18 September 1948 mereka menguasai Madiun dan memproklamasikan Republik Soviet Indonesia. Madiun segera menjadi killing field bagi pihak yang oleh kaum Komunis dianggap sebagai kaum kontra revolusioner. Pemerintah yang dalam hal ini TNI di bawah Jenderal Soedirman membentuk daerah operasi militer di seluruh Jawa Timur di bawah pimpinan Kol. Soengkono. Di bawah ancaman invasi militer Belanda operasi penumpasan PKI dilaksanakan di bawah pimpinan Kol. AH. Nasution. Penumpasan tersebut berhasil menghancurkan kekuatan PKI dan sebagian besar pemimpinnya seperti Musso, Amir Syarifuddin, dan Tan Malaka ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Untuk kesekian kalinya PKI menjadi gerakan bawah tanah.

Dekade 50-an paska Penyerahan Kedaulatan, Indonesia kembali terlibat konflik dengan Belanda terkait masalah Irian Barat. Di tahun-tahun itu PKI menerbitkan Harian Rakyat yang mendukung kebijakan presiden Soekarno terkait Neo Imperialisme dan Neo Kolonialisme. PKI kembali bangkit di bawah para pemimpin muda seperti DN Aidit, Njoto, Lukman, dan Sakirman. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun paska kemunculannya kembali pada tahun 1951, pada tahun 1959 anggota PKI mencapai 1,5 juta, menjadikannya Partai Komunis terbesar ketiga setelah Uni Sovyet dan Partai Komunis Tiongkok. PKI terus berada di samping Soekarno yang mengobarkan semangat anti kapitalisme barat. Ketika pemberontakan PRRI di Sumatera yang pro AS terjadi, PKI termasuk pihak yang mengecam keras dan mendukung pemerintah untuk menumpas pemberontakan tersebut. Pemberontakan ini juga berakibat renggangnya hubungan pemerintah dengan Masyumi yang merupakan partai muslim terbesar sekaligus rival utama PKI.

Dekade 60-an adalah tahun-tahun kemesraan antara PKI dengan pemerintah. Presiden Soekarno memunculkan ide politik Nasakom singkatan dari Nasionalis Agama dan Komunis sebagai bukti kemesraan mereka. Soekarno juga membentuk poros Jakarta-Peking-Moskow untuk menggambarkan kemana arah politik internasional Indonesia. Indonesia di arahkan ke blok timur atau Komunis dan berhadap-hadapan dengan blok barat yang merupakan negara-negara imperialis. Indonesia juga keluar dari keanggotaan PBB karena dirasa organisasi tersebut terlalu berat sebelah membela kepentingan imperialis. Tentu saja semua kebijakan tersebut didukung penuh oleh PKI.

Namun cita-cita terbesar PKI adalah tidak sekadar menjadi partai politik utama di Indonesia, yang lebih penting bagi mereka adalah lahirnya republik yang bersandar pada ideologi Sosialisme-Komunis sepenuhnya, cita terbesar mereka adalah lahirnya Republik Soviet Indonesia. Melihat kondisi presiden Soekarno yang mulai sakit-sakitan, PKI merasa inilah saatnya mewujudkan cita-cita lama mereka. Didukung Uni Sovyet dan –terutama- RRC, rencana tersebut sudah terasa di depan mata. Musuh utama PKI hanyalah kekuatan TNI (terutama Angkatan Darat) dan kaum muslimin (yang digawangi NU, Masyumi, HMI, dan PII). Namun, di mata PKI para lawan politik tersebut dianggap kecil dan mudah dihabisi. September 1965, kondisi Indonesia memanas, ekonomi sedang jatuh di titik terbawah, dan isu kudeta membayangi republik. Tidak jelas siapa yang akan mengudeta pemerintah TNI AD ataukah PKI. Akhir September jawaban itu terkuak, PKI melakukan aksi sepihak dengan menculik para petinggi Angkatan Darat dan membunuh mereka di kawasan Lubang Buaya. Semuanya berakhir antiklimaks, segala upaya PKI justru berakhir pada kekalahan mereka. PKI jatuh justru ketika mereka di puncak. Pemerintahan Soekarno berakhir digantikan era Orde Baru, seluruh elemen PKI dan anggota-anggotanya dihabisi. Selama era Orde Baru yang PKI dan ajaran Komunisme mendapatkan labeling. Faktanya Komunisme sendiri mulai terseok-seok di seluruh dunia. Uni Sovyet yang mencoba memerahkan Afghanistan, justru takluk di tangan para mujahidin dan tidak berapa lama kemudian runtuh. Jerman bersatu kembali dan condong kepada Kapitalisme. Negara-negara Amerika latin membuang Sosialisme dan lebih condong kepada Kapitalisme Keynessian. Di Asia, Komunisme jatuh di Kamboja, Vietnam berubah warna menuju ke Kapitalisme, adapun Tiongkok membuka tirai bambunya dan lebih kapitalis dibandingkan sebelumnya. Sosialisme-Komunis tinggal tersisa di Korea Utara, tertutup dan terpojok dari pergaulan dunia.

Kembali ke Indonesia, peristiwa September 1965 membawa horror bagi seluruh bangsa ini. Hingga hari ini sejarahwan Indonesia masih gelap untuk mengungkap siapa dalang sesungguhnya Gerakan 30 Septembe 1965, CIA atau PKI atau yang lain.

Tiongkok

Menurut Allamah Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya, Mafahim Siyasiyah lil Hizbit Tahrir disebutkan bahwa Tiongkok atau Cina adalah bukan negara adidaya meskipun disegani oleh Russia serta dianggap Amerika Serikat sebagai ancaman karena besarnya jumlah sumber daya manusia dan alamnya. Keadidayaan Tiongkok hanya terbatas pada kawasan regionalnya dan meskipun berubah menjadi negara Komunis namun Tiongkok tidak pernah menyebarkan ide ini seaktif Uni Sovyet dahulu, faktanya ketika perang Afghanistan, Tiongkok justru menyuplai senjata kepada para mujahidin melalui tangan intelejen Pakistan.

Memang dalam sejarahnya Tiongkok meskipun memiliki batas-batas alam yang luas mulai dari pinggir gurun Gobi di barat hingga pesisir timur samudera Pasifik, dari stepa Mongol di utara hingga pegunungan Himalaya dan dataran subur Yunnan di selatan, namun Tiongkok bukanlah kekuatan seperti Romawi dan Persia yang tidak henti melakukan penaklukan ke wilayah lain di dunia. Tiongkok bahkan pernah dua kali diperintah oleh bangsa asing, Dinasti Yuan yang didirikan oleh Kublai Khan dari Mongol dan Dinasti Qing yang berasal dari Manchuria. Keadidayaan Tiongkok hanya terbatas pada wilayah-wilayah regionalnya yang dalam sejarahnya meskipun memiliki armada ekonomi yang menjangkau hampir seluruh dunia dengan jalur suteranya yang megah, dia hanya berpengaruh secara politik di wilayah-wilayah di sekitar garis perbatasan negerinya.

Tiongkok sedikit banyak mempengaruhi wilayah Tibet, Nepal, Bhutan, Burma, kawasan Segitiga Emas, hingga Korea. Invasi dinasti Yuan ke Jepang mengalami kegagalan akibat badai dan sejak saat itu Tiongkok tidak pernah mempengaruhi Jepang. Di Nusantara sendiri jejaring ekonomi Tiongkok sudah ada sejak kota-kota dagang mulai bersemi di seluruh Nusantara. Hubungan ekonomi ini meningkat menjadi hubungan politik. Berkembangnya Islam serta pengaruhnya yang menyebar hingga Nusantara sedikit banyak dianggap ancaman oleh Tiongkok. Ketika penguasa Sriwijaya, Sri Indrawarman menerima misi Islam pada tahun 718 di masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz, Tiongkok dalam hal ini dipimpin oleh Dinasti Tang merasakan hal itu sebagai ancaman. Dinasti Tang kemudian menyokong Dinasti Syailendra untuk melakukan kudeta terhadap tahta Sriwijaya. Syeilendra-lah yang kemudian menegakkan kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan Budha sekaligus pusat pengajaran Budha terbesar di Asia Tenggara. Pasca Sriwijaya, dinasti-dinasti Hindu yang berpusat di Jawa secara bergantian menanamkan pengaruh di Nusantara. Hal ini tentu saja merisaukan penguasa Tiongkok yang beragama Budha. Tiongkok tentu ingin menanamkan pengaruh di Nusantara hal itu antara lain dengan menguasai kerajaan Mon serta mendukung kekuatan kerajaan Khmer untuk menguasai kerajaan Champa. Mon dan Champa merupakan sekutu terdekat penguasa Nusantara. Upaya untuk menguasai kembali semenanjung Sumatera digagalkan ekspedisi Pamalayu kerajaan Singosari dan upaya menginvasi Jawa justru digagalkan oleh Raden Wijaya di awal pendirian kerajaan Majapahit. Setelah itu jalinan antara Tiongkok dengan Nusantara lebih kepada jalinan ekonomi sahaja.

Tenangnya kondisi peradaban Islam seabad setelah serangan brutal Mongol-Tatar ke Baghdad membawa implikasi gencarnya kembali dakwah Islam di Nusantara. Di Tiongkok, Dinasti Yuan runtuh digantikan Dinasti Ming yang memiliki kecondongan terhadap Islam. Misi muhibah Laksamana muslim dari Dinasti Ming, Cheng Ho nantinya berpadu dengan misi dakwah yang dikirim oleh Sultan Muhammad I dari Utsmani bahu-membahu di awal era Islamisasi besar-besaran Nusantara pada sekitaran abad XIV masehi. Era berikutnya Tiongkok mengalami silih-berganti dinasti. Berkuasanya dinasti Qing yang merupakan dinasti asing di Tiongkok membawa konsekuensi ekonomi serta menyebarnya berbagai penduduk Tiongkok ke luar negeri karena ketidakcocokan dengan pemerintah Qing. Imigrasi etnis Tionghoa inilah yang nantinya mewarnai kronik sejarah Nusantara. Para imigran ini banyak ditampung oleh penguasa kolonial Belanda yang membutuhkan tenaga kasar non pribumi. Politik penjajah yang melakukan pembedaan kelas dan menempatkan etnis Tionghoa pada kelas yang lebih tinggi dibandingkan pribumi menyebabkan dampak buruk di kemudian hari. Geger Pecinan, adalah peristiwa yang sering terjadi mewarnai sejarah perlawanan terhadap Belanda di Nusantara, dimana selain perlawanan terhadap Belanda juga diiringi dengan pembantaian besar-besaran etnis Tionghoa yang disinyalir membantu Belanda. Perang Jawa misalnya, perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro pada tahun 1825 hingga 1830 ini mencatat pembantaian etnis Tionghoa di Ngawi dan Lasem karena ditengarai bahwa mereka selama ini membantu Belanda dalam menyengsarakan rakyat. Peristiwa inilah yang kembali terulang mewarnai hubungan Nusantara yang kemudian berubah menjadi Indonesia dengan Tiongkok.

Memasuki era modern, Tiongkok justru mengalami kemunduran. Apabila Kekhalifahan Turki Utsmani dijuluki oleh lawannya sebagai “Sickman in the Europe”, maka Dinasti Qing mendapat julukan “Sickman in the East”. Kekalahan demi kekalahan melawan kekuatan imperialis yang digalang Inggris dan Russia menyebabkan pemerintahan Qing kehilangan martabat dan memunculkan gerakan perlawanan di dalam negeri. Gerakan yang paling menonjol adalah gerakan yang dimotori oleh dr. Sun Yat Sen yang pada akhirnya mampu melakukan revolusi dan mengubah Tiongkok menjadi republik. Namun Perang Dunia I yang disusul Perang Dunia II menyebabkan kondisi Tiongkok tetap dalam ketidakstabilan bahkan condong kepada era anarki. Pada PD II kekuasaan republik Tongkok di bawah Chiang Kai Sek mengalami tekanan dari balatentara Jepang dan tentara rakyat pimpinan Mao Zhe Dong yang berhaluan komunis dan disokong oleh Uni Sovyet. Pada akhirnya tentara rakyat berhasil meraih kemenangan atas Jepang dan gerakan Komunis mendapat simpati rakyat Tiongkok yang berujung pada lahirnya Chinese People Republic dan munculnya Republik Taiwan yang memisahkan diri dari RRC. Paska PD II naga Tiongkok kembali menggeliat bahkan diakui sebagai salah satu dari 5 anggota tetap PBB yang memiliki hak veto dalam permasalahan dunia.

Indonesia sendiri memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 bersamaan dengan menyerahnya balatentara Jepang kepada kekuatan sekutu pada bulan itu juga. Menurut perjanjian internasional seluruh wilayah Asia Pasifik yang dikuasai Jepang akan dikembalikan kepada pemerintahan kolonial sebelumnya, maka Indonesia akan dikembalikan kepada Belanda yang pada tahap awal akan diwakili oleh wali Belanda yaitu Inggris. Upaya ini rupanya diketahui oleh pihak Indonesia sehingga menimbulkan perlawanan baik terhadap Inggris maupun Belanda. Kuatnya perlawanan memaksa Amerika untuk terjun ke Indonesia namun yang ada hanyalah perlawanan rakyat Indonesia yang tiada henti terhadap segala kekuatan penjajah.

Kondisi Indonesia di bawah kekuasaan Soekarno yang mencanangkan konsep berdikari tentu saja merepotkan para penguasa dunia; Amerika Serikat, Uni Sovyet, dan Inggris. Inggris sangat bernafsu menguasai Indonesia dengan mendukung kembalinya kekuasaan kolonial Belanda. Upaya Inggris yang berkerjasama dengan RRC mendukung imigrasi besar-besaran etnis Tionghoa serta menutup mata pada pertumbuhan Komunisme di Indonesia. Meskipun berupaya membendung komunisme di seluruh dunia, Amerika Serikat juga menutup mata pada apa yang dilakukan oleh intelejen Inggris pada Indonesia. Amerika Serikat sendiri bersama Uni Sovyet berupaya mengakhiri semua penguasa klasik di Asia Tenggara, mereka berdua berhasil mengakhiri kekuasaan Prancis di Indochina atau Vietnam. Kini tiba giliran mengakhiri kekuasaan Inggris di Asia Tenggara. Untuk hal ini Amerika dan Uni Sovyet berpura-pura mendukung Indonesia dalam upayanya melawan Belanda yang didukung Inggris. Amerika Serikat menekan Belanda melalui dewan keamanan PBB sedangkan Uni Sovyet menyuplai persenjataan Indonesia dalam upaya merebut Irian Barat. Mereka berdua melalui agen-agennya seperti Gamal Abdel  Nasser, Joseph Broz Tito, dan Jawaharlal Nehru berhasil menggandeng Soekarno untuk membentuk Gerakan Non Blok yang misi utamanya adalah untuk memukul Inggris di seluruh wilayah jajahannya. Inggris membalas hal tersebut dengan membentuk Federasi Malaysia dan menciptakan konflik dengan Indonesia. Indonesia sendiri pada akhirnya masuk ke dalam jejaring permainan para penguasa dunia, yaitu Amerika Serikat, Uni Sovyet, dan Inggris. Tiongkok atau China sendiri masuk dalam permainan ini sebagai alat untuk menekan Indonesia sekaligus tameng bagi para penguasa andai terjadi chaos di Indonesia.

Pada akhirnya pemerintahan Soekarno yang merepotkan harus diakhiri. Inggris dalam hal ini kelelahan dalam upayanya menguasai Indonesia, namun dia berhasil setidaknya mengamankan wilayah jajahannya yaitu Malaysia dan Singapura dari cengkeraman Amerika Serikat (meskipun pada akhirnya Singapura membelot ke kubu Amerika). Inggris juga berhasil menanam bom waktu yang besar di Indonesia yaitu gerakan Komunis yang didukung oleh RRC. Kini saatnya Amerika Serikat mengosongkan panggung politik Indonesia dan menempatkan Indonesia secara sepenuhnya dalam kendalinya. Amerika Serikat mulai mendukung gerakan anti komunis di Indonesia. Uni Sovyet yang terikat perjanjian dengan Amerika akan menutup mata pada upaya yang dilakukan oleh Amerika terhadap gerakan Komunis di Indonesia. Pada akhirnya kegaduhan politik yang diciptakan Amerika Serikat sejak awal dekade 60-an mencapai puncaknya pada 30 September 1965. PKI berhasil diprovokasi dan selanjutnya membawa implikasi pada jatuhnya pemerintahan Soekarno dan jatuhnya Indonesia kepada era penjajahan baru ala Amerika Serikat. Yang paling terpukul selain Indonesia adalah RRC dan etnis Tionghoa, digunakan sebagai senjata pada akhirnya dialah pion pertama yang harus dikorbankan. Maka hari ini apabila muncul pertanyaan apakah CIA terlibat G30S/PKI? jawabannya adalah iya. Gak perlu repot-repot karena pada era yang sama terjadi peristiwa yang serupa dengan Indonesia yaitu di Kamboja dan Chili, siapa dalangnya? Siapa lagi kalau bukan Amerika.

khatimah

Dari sini bisa disimpulkan bahwa dengan atau tanpa Komunisme, pihak Cina atau Tiongkok adalah pion yang digunakan oleh Barat untuk melakukan tekanan terhadap Indonesia. Cina atau Tiongkok juga bisa berfungsi sebagai tameng untuk mengalihkan perlawanan rakyat Indonesia. Hal ini terbukti sekali lagi pada tahun 1998, Amerika kembali mengosongkan panggung politik Indonesia dengan lengsernya Soeharto dan kekuasaan Orde Baru. Amerika yang merancang pelengseran Soeharto dengan cara menjatuhkan ekonomi Indonesia namun warga Tionghoa-lah yang menjadi kambing hitam dan korban amuk massa rakyat Indonesia. Maka saat ini segala aksi yang dipertontonkan oleh Tiongkok sebenarnya diketahui oleh pihak Amerika dan dengan persetujuannya. Masalahnya, mengapa dan untuk apa Amerika menekan Indonesia? Dekade 60-an mereka ingin mengosongkan panggun politik Indonesia dengan menjatuhkan Soekarno, dan dekade 90-an mereka merancang Krisis Moneter untuk melengserkan Soeharto, lalu bukankah rezim yang berkuasa saat ini, para nayaka-nya, penguasa daerahnya, hingga para wakil rakyatnya sangat sendhiko dhawuh kepada pihak Barat, yang tidak diminta pun mereka akan dengan rela menyerahkan seluruh kekayaan Indonesia. Apa yang diinginkan oleh Amerika terhadap Indonesia? Apa yang ditakuti oleh pihak penjajah sehingga berusaha sedemikian rupa mempersulit Indonesia.

Islam, potensi kebangkitan Islam adalah hal yang paling ditakuti oleh pihak Barat utamanya Amerika. Amerika cs nyaris tergagap-gagap kala gerakan musim semi Arab berlangsung, namun mereka segera menyabot revolusi tersebut dan mengamankan posisinya di Tunisia, Libya, Mesir, dan Yaman. Musim semi Arab berhenti di Syria kala kaum muslimin dengan gegap gempita menolak penyelesaian dengan model demokrasi Barat. 5 tahun gerakan revolusi damai Syria berakhir dengan perang paling berdarah dimana semua kekuatan dunia, mulai dari Amerika Serikat, Russia, Inggris, Uni Eropa, hingga China bahu-membahu menghadang kebangkitan Islam. Munculnya ISIS tak juga membuat kaum muslimin Syria menyerah untuk menyambut munculnya fajar Khilafah. Dan pandangan Barat tak luput kepada tiga negara non-Arab (sebagaimana disebut dalam makalah RAND Corporation) yang berpotensi sebagai tempat kebangkitan Islam andai kawasan Timur Tengah gagal mewujudkan hal tersebut, yaitu, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia. Pakistan dan Malaysia dengan segala keunggulannya namun rakyatnya hidup di bawah pimpinan rezim yang kuat. Adapun Indonesia, negeri muslim terbesar, serta memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Indonesia saat ini tidak lagi dipimpin oleh pemimpin sepopuler Soekarno atau sekuat Soeharto, dan hampir 2 dekade sejak runtuhnya kekuasaan Orde Baru, rakyat terancam ketidakpastian ekonomi, jurang kaya-miskin yang semakin lebar, kualitas pendidikan yang belum merata, ditambah dekadensi moral yang parah serta ancaman kriminalitas yang tinggi menyebabkan rakyat yang mayoritas beragama Islam mulai melirik solusi Islam. Rezim yang atas arahan Barat berupaya memadamkan gerakan Islam serta dukungan yang membabibuta terhadap gerakan Islam Liberal justru semakin lama mendapatkan antipati dari kaum muslimin. Tidak hanya kalangan sipil, kalangan militer pun semakin melirik Islam dan kebangkitan Islam bisa jadi tidak terbendung di negeri paling timur kaum Muslimin ini. Inilah yang ditakuti Barat wa bil khusus Amerika dan apabila selama ini kita menyaksikan perang panjang kaum muslimin di Timur Tengah, ketahuilah bahwa perang itu (dalam hal perang ideologi) tidak lama lagi akan mengintip jendela kamar kita, menggedor-gedor pintu rumah kita.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s