Islam Untuk Memerdekakan Indonesia

“Adapun bangsa-bangsa di Timur Jauh, dari segi taraf berpikirnya masih di bawah bangsa-bangsa Timur Tengah. Namun ide kemerdekaan dari penjajahan yang tersebar di dunia –menjelang dan pada saat Perang Dunia II, dan semakin tersebar setelah perang Dunia II—berpengaruh lebih kuat pada bangsa-bangsa di kawasan Timur Jauh dibandingkan dengan bangsa-bangsa di Timur Tengah.” As-Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir hal.163.

gambar dari www.islam-institute.com
gambar dari http://www.islam-institute.com

Sejak kedatangan pertama kaum imperialis yang dimotori oleh bangsa Portugis di penghujung abad ke-15, seruan jihad fie sabiliLlah melawan penjajah langsung bergema di seluruh penjuru Nusantara. Tercatat pengiriman 375 kapal yang terdiri dari armada gabungan Aceh, Palembang, Banten, Cirebon, Demak, Makassar, dan Ternate pada tahun 1521 di bawah pimpinan Fathi Yunus dari Kesultanan Demak untuk membebaskan Malaka dari cengkeraman Portugis sebagai perlawanan pertama yang menyulut perlawanan-perlawanan berikutnya. Kedatangan penjajah Belanda pada abad berikutnya semakin mengobarkan perlawanan kaum muslimin di negeri ini, maka 350 tahun lamanya jihad berkobar di Nusantara atau yang kini dikenal sebagai Indonesia. Tentu perlawanan ini tidak muncul dengan sendirinya, namun didasari oleh ruh Islam. Perlawanan tersebut muncul karena kesadaran bahwa Islam adalah membebaskan manusia dari penjajahan manusia lain menuju penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangan akhirat, dan dari kedzaliman agama-agama menuju kepada keadilan Islam. Maka kedatangan para penjajah Barat yang hendak menguasai negeri, memperbudak rakyatnya, serta mengatur dengan aturan selain aturan Islam harus dilawan sedemikian rupa.

 

ruh inilah yang disadari oleh seluruh elemen kaum muslimin di negeri ini, sehingga para ulama’, umara’, dan rakyat saling bahu-membahu menghadapi penjajah. surat imam Masjidil Haram, syaikh Abdusshomad Al-Jawi Al-Falimbani pada 1772 kepada para penguasa tanah Jawa agar melawan kolonialis Belanda hingga seruan Resolusi Jihad oleh para ulama NU pada 22 Oktober1945 yang membuat “6 miljoen kaum muslimin Indonesia siap berdjihad fie sabilillah melawan tiap2 bentoek pendjadjahan”, menjadi bukti peran ulama dalam menghadapi penjajahan. Para umara’ memimpin rakyatnya melakukan jihad fie sabiliLlah melawan penjajah bukan sekadar untuk melindungi kekuasaannya namun demi tujuan mulia yakni menegakkan daulah Islam. Pangeran Diponegoro dihadapan Marcus De Kock, komandan militer Belanda menyatakan bahwa tujuan perlawanannya adalah untuk menegakkan balad Islam yang mengatur kaum muslimin serta orang-orang kafir dengan aturan Islam. Dengan semangat Islam, kaum muslimin di Indonesia terus melawan penjajah meskipun pada Maret 1924, penjaga kaum muslimin; Daulah Khilafah Islamiyah diruntuhkan oleh persekutuan penjajah barat yang dalam hal ini dipimpin oleh Inggris.

 

Hebatnya perlawanan kaum muslimin di Indonesia rupanya juga disadari oleh penjajah Barat. Berbagai usaha mereka lakukan untuk meredam perlawanan tersebut. pertama, mereka menanamkan agen-agennya untuk meredam perlawanan serta menjauhkan cita-cita kaum muslimin untuk menegakkan Syariat Islam dalam bingkai negara. Faktanya, meskipun mampu memperoleh Kemerdekaan sejak 17 Agustus 1945 dan memperoleh pengakuan kedaulatan dari penjajah Belanda 4 tahun kemudian, hingga hari ini cita-cita untuk “menerapkan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” belum pernah terlaksana. kedua, sebagaimana yang ditulis oleh syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir, bahwa untuk meredam perlawanan umat di Indonesia, penjajah merubah pola penjajahannya. Mereka tidak lagi melakukan pendudukan secara militer, secara kasat mata merampok sumber daya alam serta memperbudak rakyat, namun cukup dengan melakukan penguasaan pada sumber-sumber daya alam, jeratan hutang, serta arahan dalam bidang ekonomi dan itu semua dilakukan oleh lingkaran negara penjajah, pengusaha multi nasional, yang didukung oleh penguasa agen yang membebek kepada penjajah. Tidak cukup sampai disitu, penjajah Barat melalui agennya, yaitu para penguasa negeri ini melakukan pembodohan terhadap rakyatnya sendiri serta menanamkan nilai-nilai hidup sekuler Barat. Rakyat yang mayoritas beragama Islam juga ditakut-takuti dengan hantu terorisme yang dinisbatkan pada gerakan Islam.

 

Maka hasilnya hampir satu abad negeri ini mengaku merdeka namun, kurang lebih 60% wilayahnya di bawah konsesi perusahaan asing, kurang lebih 80% sumber daya alam strategis dijarah oleh perusahaan swasta baik luar maupun dalam negeri, hutang luar negeri yang ditanggung oleh negeri ini berbilang tahun semakin meningkat. Di bidang politik, masyarakat semakin acuh terhadap pemerintah karena semakin hari penguasa menunjukkan dirinya tidak lebih sebagai perpanjangan tangan asing. Politik transaksional hanya menghasilkan para penguasa korup dan efeknya rakyat menjadi korban. Krisis moral dan pendidikan semakin mengkhawatirkan. Indonesia yang dianugerahi tanah yang kaya jatuh menjadi negara gagal dan secara tidak langsung menjadi santapan empuk negara-negara penjajah Barat.

 

Maka sudah saatnya menyadarkan umat bahwa saat ini Indonesia masih berkutat dalam masalah penjajahan. 71 tahun kemerdekaan sebenarnya hanya pencapaian nisbi karena terbukti bangsa ini semakin berjalan mundur menuju jurang kebinasaan. Penguasa dan pemerintah negeri ini tidak lebih adalah agen penjajah yang menjalankan segala agenda tuannya. Maka kejahatan mereka harus segera diungkap dan diakhiri, untuk menyelamatkan negeri ini dan seluruh tumpah darahnya. Kemudian menyadarkan seluruh elemen bangsa ini bahwa Islamlah satu-satunya yang mampu membangkitkan Indonesia menjadi bangsa terbaik. Tentu kebangkitan itu akan tercapai dengan tegaknya institusi negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. Hanya Islamlah sebagaimana misi Saad ibn Abi Waqash ra dalam futuhat ke Persia, yang mampu membebaskan manusia dari segala bentuk penjajahan serta ketidakadilan berbagai aturan buatan manusia. Maka tidak ada solusi lain untuk merobohkan penjajahan di Indonesia selain tegaknya institusi Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islam serta yang akan menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. WalLahu a’lam bi ash showab.

 

(tulisan ini awalnya saya kirim untuk majalah Al-Waie)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s